Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Trik Ayu Dyah Andari Hadapi Tantangan Mode di Tengah Gempuran Fast Fashion

Gresnia Arela Febriani - wolipop
Jumat, 08 Mei 2026 18:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Koleksi By Ayu Dyah Andari.
Koleksi By Ayu Dyah Andari. Foto: Dok. Instagram @byayudyahandari.
Jakarta -

Industri mode global, termasuk di Indonesia, tengah menghadapi tantangan berat sepanjang tahun 2025 hingga 2026. Di tengah dinamika pasar yang tidak menentu dan gempuran tren fast fashion, para pelaku usaha hingga desainer papan atas dipaksa memutar otak agar bisnis tetap berkelanjutan.

Namun bagi desainer Ayu Dyah Andari, kunci utama untuk tetap eksis selama 15 tahun berkarya bukan lah dengan mengikuti arus. Menurutnya cara agar bisa bersaing adalah setia pada identitas dan orisinalitas desain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski kondisi pasar sedang lesu, desainer yang identik dengan koleksi adibusana (couture) ini, terbukti mampu bertahan dan terus melahirkan karya premium yang diburu kolektor. Ayu meyakini di tengah maraknya fenomena satu desain yang ditiru oleh ratusan jenama lain dengan harga jauh lebih murah, masih ada segmen pasar yang mencari nilai lebih dari sekadar selembar pakaian.

ADVERTISEMENT
Rayakan 15 tahun berkarya, desainer Ayu Dyah Andari lewat koleksi terbaru bertajuk Puspa, memadukan keanggunan motif ukiran Jepara yang rumit dengan kemewahan detail yang terinspirasi dari keindahan batu kecubung.Rayakan 15 tahun berkarya, desainer Ayu Dyah Andari lewat koleksi terbaru bertajuk Puspa, memadukan keanggunan motif ukiran Jepara yang rumit dengan kemewahan detail yang terinspirasi dari keindahan batu kecubung. Foto: Dok. Gresnia/Wolipop.

"Aku percaya bahwa pasti ada pasar yang menyukai originalitas. Jadi di tengah gempuran fast fashion, yang satu desain keluar 100 brand lain dan buat hal yang sama dengan harga 10 kali lebih murah, tetap ada orang yang menghargai kerja keras dan originalitas," ungkap Ayu Dyah Andari saat ditemui Wolipop di private exhibition, Puspa: Aksara Hati, di Le Nusa, Jakarta Selatan Kamis (7/5/2026).

Bagi Ayu, loyalitas pelanggan tidak dibangun melalui kompetisi harga, melainkan melalui intangible value atau nilai tak berwujud yang dirasakan oleh konsumen. Hal ini lah yang mendasarinya untuk tetap memberikan sentuhan craftsmanship yang personal dalam setiap koleksi, termasuk pada koleksi terbarunya, "Puspa".

Rayakan 15 tahun berkarya, desainer Ayu Dyah Andari lewat koleksi terbaru bertajuk Puspa, memadukan keanggunan motif ukiran Jepara yang rumit dengan kemewahan detail yang terinspirasi dari keindahan batu kecubung.Rayakan 15 tahun berkarya, desainer Ayu Dyah Andari lewat koleksi terbaru bertajuk Puspa, memadukan keanggunan motif ukiran Jepara yang rumit dengan kemewahan detail yang terinspirasi dari keindahan batu kecubung. Foto: Dok. Gresnia/Wolipop

Meski begitu, Ayu tetap melakukan penyesuaian strategis agar busana ready-to-wear miliknya memiliki rentang harga yang rasional bagi pelanggan.

"Aku percaya value itu dilihat oleh customer dan itu menimbulkan loyalitas mereka. Akhirnya, aku terus membuat koleksi yang original dengan sentuhan craft. Tapi tentu ada batasnya, karena kalau terlalu budget nanti jadi couture. Kita tetap menjaga price range agar tetap masuk kategori ready-to-wear," ujarnya.

Strategi 'tidak ikut-ikutan' ini terbukti menjadi tameng yang kuat bagi Ayu dalam menghadapi masa-masa sulit. Ayu menekankan pentingnya bagi seorang desainer untuk tidak masuk ke dalam laut merah (red ocean), sebuah istilah bisnis yang menggambarkan persaingan berdarah-darah di segmen pasar yang sama.

Rayakan 15 tahun berkarya, desainer Ayu Dyah Andari lewat koleksi terbaru bertajuk Puspa, memadukan keanggunan motif ukiran Jepara yang rumit dengan kemewahan detail yang terinspirasi dari keindahan batu kecubung.Rayakan 15 tahun berkarya, desainer Ayu Dyah Andari lewat koleksi terbaru bertajuk Puspa, memadukan keanggunan motif ukiran Jepara yang rumit dengan kemewahan detail yang terinspirasi dari keindahan batu kecubung. Foto: Dok. Gresnia/Wolipop.

"Alhamdulillah, tahun 2025 termasuk tahun yang berat untuk fashion, tapi Ayu Dyah Andari baik-baik saja dan tidak terlalu terganggu. Kuncinya adalah stay true dengan identitas sendiri, terus berkarya original, dan jangan ikut-ikutan. Jangan masuk ke laut merah untuk berperang berdarah-darah. Saya hanya ingin mengikuti kata hati dengan terus melahirkan koleksi," pungkas Ayu dengan optimis.

Dengan prinsip tersebut, Ayu Dyah Andari membuktikan bahwa keberlanjutan sebuah jenama mode tidak hanya bergantung pada tren sesaat, tetapi pada integritas karya dan kemampuan menjaga kepercayaan komunitas pencinta karyanya.

(gaf/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads