Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Kartini di Cartini

Kisah CEO Vanilla Hijab Intan Kusuma Fauzia, Bisnis Berawal dari Ujian Hidup

Gresnia Arela Febriani - wolipop
Rabu, 29 Apr 2026 18:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto CEO Vanilla Hijab, Intan Kusuma Fauzia.
Foto: Dok. Wolipop
Jakarta -

Bagi para hijabers di Indonesia, nama Vanilla Hijab tentu sudah tidak asing lagi. Dikenal dengan estetika warna pastel yang lembut, sentuhan feminin, serta motif floral yang khas, brand ini telah menempati posisi istimewa di hati para pecinta modest fashion.

Namun, di balik koleksi yang anggun dan dikenal banyak orang, Vanilla Hijab tidak dibangun di atas fondasi perencanaan bisnis yang megah sejak awal. Ia lahir dari sebuah momen penuh ketidakpastian yang dialami oleh dua bersaudara, Atina Maulina (Founder) dan Intan Kusuma Fauzia (CEO). Seperti apa kisah dibalik brand Vanilla Hijab?

Dalam program Kartini di Cartini, Wolipop mempersembahkan kisah dari sosok wanita masa kini yang bisa memberikan inspirasi. CEO Vanilla Hijab Intan Kusuma Fauzia membagikan perjalanan brandnya hingga mempunyai pengikut lebih dari 2,6 juta di Instagram.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Awal Mula yang Tak Terencana

Foto CEO Vanilla Hijab, Intan Kusuma Fauzia.Foto CEO Vanilla Hijab, Intan Kusuma Fauzia. Foto: Dok. Wolipop

Kisah Vanilla Hijab berawal dari sebuah cobaan berat. Atina, yang kala itu tengah menempuh pendidikan di jurusan Teknik Perminyakan ITB, harus menghadapi kondisi kesehatan yang membuatnya menjalani pengobatan intensif di Jakarta. Situasi ini memaksanya untuk menunda studi dan meninggalkan Bandung.

"Atina bilang, nggak kuat ngelanjutin kuliah. Dia tanya, aku ngapain ya, jualan apa ya. Terus kayak kebetulan 2013 itu lagi tren banyak banget influencer dan artis yang pakai hijab waktu itu. Terus sosmed itu tuh baru kayak baru mulai kan. Terus ngeliat-liat, waktu itu Atina belum berhijab tuh. Aku udah, ya jualan hijab aja deh gitu," ucap Intan.

ADVERTISEMENT

Di tengah masa pemulihan itulah, sang kakak, Intan, mencari cara untuk tetap produktif. Tanpa latar belakang desain, tanpa modal besar, dan tanpa pemahaman mendalam tentang dunia konveksi, keduanya mencoba peruntungan di industri hijab pada tahun 2013.

"Waktu itu emang bikin Vanilla itu sebenarnya nggak sengaja sih. Karena qadarullah Allah memberikan Atina sakit yang mengharuskan pengobatan di Jakarta," kenang Intan.

Perjuangan Membangun Brand dari Nol

Perjalanan mereka bukanlah jalan pintas menuju sukses. Di masa awal, mereka harus belajar segalanya dari nol. Mulai dari hunting bahan ke Pasar Mayestik, memotret motif untuk sistem Pre-Order (PO), hingga belajar teknik menjahit dengan meminta bantuan penjahit lokal di dekat rumah.

Kehidupan mereka saat itu pun terbagi antara bangku kuliah dan menjalankan bisnis. Intan menceritakan rutinitas mereka yang disiplin.

Aktivitas pagi, membalas pesanan via WhatsApp dan memaketkan barang pada pukul 06.00 WIB, sebelum berangkat ke kampus. Rutinitas belajar dan packing, pulang kuliah atau di sela waktu luang, mereka akan segera melanjutkan proses packing hingga larut malam.

"Waktu itu aja kita beli bahannya tuh ke Mayestik kayak kita foto-foto motifnya. Baru kita PO gitu. Terus kita juga nggak ngerti jahit. Kita tuh belajar sama penjahit-penjahit di Mayestik itu. Kita nanya, jahitnya hijab itu ada yang model apa. Kita Googling segala macem. Dari situlah awalnya terus bermula. Alhamdulillahnya Allah kasih rezeki lewat situ," tuturnya panjang lebar.

Saat mulai memproduksi hijab sendiri, Intan dan Atina menggandeng penjahit di dekat rumahnya yang sebenarnya adalah tukang permak jeans. Mereka sama-sama tak paham soal membuat hijab hingga akhirnya belajar bersama.

"Penjahit kita dulu bukan konveksi besar, melainkan penjahit permak jeans depan rumah yang kita paksa belajar. Kami sama-sama belajar dari tutorial di YouTube untuk memahami bahan dan jahitan yang rapi," tambah Intan.

Evolusi dan Filosofi "Sister Vanilla"

Titik balik Vanilla Hijab terjadi ketika permintaan pasar semakin tak terbendung. Pada tahun 2016, mereka memutuskan untuk mulai memproduksi hijab secara mandiri untuk menjaga kualitas yang konsisten.

"Terus baru muncul endorse-endorse. Makin hits lah perhijaban ini. Sampe kayak mamaku tuh bilang, ini kok jualan hijab kayak jualan kacang goreng ya," kenangnya.

Perlahan namun pasti, brand Vanilla Hijab pun semakin berkembang hingga kedua kakak beradik ini merekrut penjahit yang khusus untuk memproduksi koleksi Vanilla Hijab.

"Jadi dari kayak gitu terus akhirnya kita belajar ngerti bahan. Terus kita coba trial dan error segala macem. Dari situlah konveksi pertama kita tuh ya si Bapak (permak jeans-red) itu. Akhirnya dari situ punya konveksi ya. Dia kayak kita modalin. Kita pelan-pelannya dari penjahitnya cuma tiga," kata Intan terharu.

Intan mengisahkan penjahitnya mulai berinovasi untuk membuat koleksi busana. Tak disangka, ternyata koleksi tersebut laris manis di pasaran dan langsung sold out ketika baru launching.


Cara Vanilla Hijab Bertahan di Bisnis Modest Fashion

Bukan sekadar menjual produk, Vanilla Hijab bertahan di tengah gempuran brand lokal dengan membangun community-based business. Intan menyadari bahwa menjaga komunitas jauh lebih berarti daripada sekadar mengejar transaksi.

"Sudah makin banyak juga brand-brand lokal. Iya apalagi sekarang itu lebih sosmed udah banyak. Aku selalu bilang ke temen-temen UKM yang mau mulai. Itu sebenernya zaman sekarang tuh lebih mudah dibanding zaman waktu aku. Sekarang bikin website lebih murah. Nggak perlu produksi, jadi reseller tuh juga lebih mudah. Jadi kalau Vanilla sendiri kita tetap bertahan dengan quality," tuturnya.

Melalui komunitas Sister Vanilla yang kini tersebar di 17 kota, brand ini menjadi wadah bagi para pelanggan untuk saling terhubung melalui kegiatan positif, mulai dari kajian rutin, arisan, hingga play date antar anak-anak anggota komunitas.

Selain komunitas, Intan juga berusaha menjaga nilai Vanilla Hijab yang sejak awal ditetapkannya yaitu kebermanfaatan. Bagi Intan dan Atina, setiap transaksi yang dilakukan pelanggan memiliki nilai lebih. Melalui program Shopping Charity, sebagian dari hasil penjualan diakumulasikan untuk berbagai aksi sosial. Salah satunya mendukung sekolah tahfidz di Papua yang terus berjalan hingga saat ini.

Kisah Vanilla Hijab adalah bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah penghalang. Dengan ketulusan, keinginan untuk terus belajar, dan fokus pada nilai kebermanfaatan bagi sesama, sebuah usaha yang dimulai dari 'tidak sengaja' bisa berkembang menjadi sesuatu yang menginspirasi banyak orang.

(gaf/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads