Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Tidur Cukup Tapi Pusing? Waspada 5 Kebiasaan Pagi Ini Bisa Merusak Otak

Adinda Salma - wolipop
Senin, 31 Agu 2026 05:30 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Waspada Bun! 5 Kebiasaan Bangun Tidur Pagi Ini Bisa Merusak Otak
Foto: Getty Images/Nattakorn Maneerat
Jakarta -

Pernahkah kamu terbangun di pagi hari dengan kepala terasa berat, sulit fokus, dan mudah stres, padahal waktu tidurmu sudah cukup?

Kondisi ini sering kali bukan disebabkan oleh kurang tidur, melainkan akibat rutinitas pagi yang tanpa sadar merusak fungsi otak. Padahal, 60 hingga 90 menit pertama setelah bangun tidur adalah masa paling krusial untuk menentukan daya ingat, konsentrasi, dan suasana hati kita sepanjang hari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut ahli neurosains Dr. Patricia Schmidt, banyak orang tanpa sengaja merusak performa otak mereka sebelum jam 9 pagi akibat kebiasaan yang salah. Jika terus dibiarkan, rutinitas ini dapat mengganggu kesehatan saraf dan menurunkan produktivitas harian.

Berikut adalah lima kebiasaan buruk di pagi hari yang wajib kamu hentikan mulai sekarang demi menjaga kesehatan otak:

ADVERTISEMENT

1. Membuka Handphone Setelah Bangun Tidur

Memeriksa pesan pekerjaan atau notifikasi media sosial saat terbangun sudah menjadi refleks bagi mayoritas masyarakat. Dalam 30-45 menit pertama setelah bangun tidur, tubuh mengalami lonjakan hormon alami yang disebut Cortisol Awakening Response.

Hormon ini sebenarnya berfungsi secara alami untuk memicu tingkat kewaspadaan dan mempersiapkan fisik dalam menghadapi tuntutan aktivitas seharian. Namun memeriksa handphone secara mendadak akan memasukkan pemicu stres eksternal yang merusak keseimbangan lonjakan kortisol alami tersebut.

Cara Memperbaikinya

Luangkan waktu minimal 45 menit tanpa menyentuh layar handphone agar sistem saraf dapat bertransisi secara alami.

2. Mengabaikan Sinar Matahari Pagi

Menghabiskan waktu pagi di dalam ruangan yang remang-remang merupakan kesalahan besar bagi kesehatan sistem pencahayaan internal tubuh. Kondisi jam biologis atau ritme sirkadian sangat bergantung pada intensitas cahaya alami yang masuk dan diterima oleh retina mata.

Ketika paparan sinar matahari masuk ke mata di pagi hari, wilayah otak bernama suprachiasmatic nucleus (SCN) akan terstimulasi untuk mengatur ritme harian tubuh secara optimal. Proses neurokimia ini secara efektif menekan produksi hormon melatonin atau sering disebut hormon tidur. Hal ini secara alami meningkatkan respons kortisol yang sehat saat bangun tidur.

Penekanan melatonin di pagi hari yang berhasil juga mengoptimalkan produksi melatonin di malam hari, sehingga meningkatkan kualitas tidur di malam berikutnya. Selain itu, sinar matahari yang cerah dapat memicu produksi hormon serotonin yang dapat meningkatkan suasana hati.

Cara Memperbaikinya

Cobalah keluar rumah dan paparkan mata ke sinar matahari setelah bangun tidur. Paparkan mata ke sinar matahari setidaknya selama 10 menit, atau pada hari mendung selama 15-20 menit tanpa menggunakan kacamata hitam.

Jika kamu tidak bisa mendapatkan sinar matahari pagi karena tidak bisa keluar rumah atau bangun saat masih gelap, kamu bisa memanfaatkan lampu dalam ruangan yang terang minimal 10.000 lux. Namun, hindari penggunaan lampu terang ini di malam hari karena dapat merusak kualitas tidur.

Langsung Memaksa Otak Mengerjakan Tugas Berat

Asian women who are serious about working in the office are stressed by working too hard and missing deadlines.

Foto: Getty Images/Wasan Tita

Sebagian orang berusaha langsung memacu produktivitas dengan menggarap pekerjaannya sesaat setelah beranjak dari tempat tidur. Aktivitas tersebut tanpa disadari bisa merusak otak. Sebab saat baru terbangun, tubuh berada dalam fase inersia tidur di mana kemampuan berpikir logis dan pengambilan keputusan belum sepenuhnya berfungsi.

Seperti dikutip Your Tango, kondisi gelombang otak di awal hari lebih cocok untuk aktivitas beriklim kreatif ketimbang menyelesaikan tugas teknis yang memerlukan ketajaman fokus tinggi. Otak manusia bangun secara bertahap dan membutuhkan Cortisol Awakening Response untuk berlangsung sebelum menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan fokus tinggi

Cara Memperbaikinya

Biarkan fisik dan mental bangun bertahap, dukung Cortisol Awakening Response yang sehat serta melakukan beberapa peregangan.

Menyantap Sarapan Tinggi Gula

Chocolate cream toast over wood table. Dark chocolate cream sandwich

Foto: iStock

Menu sarapan seperti roti diolesi selai manis atau sereal olahan memang praktis, tetapi sangat merugikan bagi metabolisme jaringan otak. Makanan tinggi kandungan gula memicu lonjakan kadar glukosa darah secara drastis yang disusul oleh penurunan tajam beberapa jam setelahnya.

Fluktuasi gula darah yang ekstrem ini mengakibatkan pasokan energi ke organ otak menjadi tidak stabil sehingga konsentrasi memudar dengan cepat.

Cara Memperbaikinya

Gantilah menu sarapan dengan asupan tinggi protein sebesar 25 - 35 gram untuk menjaga stabilitas glukosa dan mempertahankan rasa kenyang lebih lama. Asupan protein yang cukup terbukti mendukung kinerja kognitif dan energi berkelanjutan sepanjang hari. Sarapan tidak hanya meningkatkan fungsi otak tetapi juga mengatur nafsu makan.

Melewatkan Minum Air Putih

Healthy Liquid. Asian Lady Drinking Water From Glass Starting Day With Hydration Lying In Bed At Home. Selective Focus

Foto: Getty Images/Prostock-Studio

Selama tidur malam berjam-jam tanpa asupan, tubuh akan terus mengeluarkan cairan yang mengakibatkan defisit cairan di pagi hari. Kondisi ini menyebabkan kamu berada dalam keadaan dehidrasi ringan ketika mematikan alarm di pagi hari. Kekurangan cairan tubuh yang ringan sekalipun dapat menurunkan volume aliran darah menuju otak yang memicu rasa lelah, kinerja kognitif, serta penurunan suasana hati.

Cara Memperbaikinya

Minumlah air putih sebanyak 250-350 ml setelah bangun tidur. Sediakan selalu satu gelas air di samping tempat tidur agar kebutuhan hidrasi dasar dapat segera terpenuhi tanpa tertunda.

Kebiasaan kecil di pagi hari saling menumpuk dan menentukan apakah rutinitas kamu akan mendukung keberhasilan atau justru menghambatnya. Berdasarkan pembuktian ilmu saraf, aktivitas dalam 60-90 menit pertama setelah bangun tidur sangat memengaruhi performa berpikir, suasana hati, energi, fokus harian, hingga kualitas tidur di malam harinya.

(eny/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads