Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Viral Tren Diet Gen Z di China, Camilan Kenyal-Makanan Hewan Jadi Pilihan

Vina Oktiani - wolipop
Rabu, 16 Sep 2026 08:32 WIB
...
Ilustrasi diet
Foto: Getty Images/EyeEm Mobile GmbH
Jakarta -

Anak muda di China sedang mencoba cara unik untuk membantu menurunkan berat badan. Alih-alih hanya memilih makanan rendah kalori, mereka justru mulai menggemari camilan yang keras, alot, dan membutuhkan waktu lama untuk dikunyah.

Melansir SCMP, tren satu ini tengah ramai dibicarakan di media sosial. Berbagai makanan dengan tekstur kenyal mulai menjadi pilihan, mulai dari dendeng sapi, roti kukus beku, biskuit bayi untuk tumbuh gigi, hingga permen karet tanpa gula.

Bagi sebagian orang, rasa bukan menjadi pertimbangan utama. Mereka lebih mencari makanan yang membuat mulut terus bekerja. Semakin sulit dikunyah, semakin dianggap mampu membantu mengurangi keinginan untuk makan lebih banyak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ide di balik tren ini cukup sederhana. Dengan mengunyah lebih lama, mulut tetap sibuk dan seseorang diharapkan bisa mengalihkan perhatian dari keinginan untuk terus ngemil.

Salah satu pengguna media sosial berusia 37 tahun dari Guangxi bahkan memilih dangshen, sejenis akar yang dikenal dalam pengobatan tradisional China. Ia mengatakan makanan tersebut memiliki rasa sedikit manis dan teksturnya cukup untuk dikunyah dalam waktu lama.

ADVERTISEMENT

Ia tetap berolahraga, tetapi mengaku kesulitan mengontrol keinginan makan. Karena itu, ia mencari camilan yang bisa membuatnya tetap fokus saat bekerja tanpa membuat asupan makan bertambah banyak. Selain dangshen, ia sesekali mengonsumsi dendeng sapi tanpa bahan tambahan dan permen karet bebas gula.

Tren ini juga membuat sejumlah makanan tradisional yang terkenal keras kembali menarik perhatian. Salah satunya adalah Zhoushan hard cake dari Zhejiang.

Kue berbahan ketan yang dikeringkan tersebut dikenal memiliki tekstur sangat keras, bahkan sering digambarkan seperti batu bata. Pada masa lalu, makanan ini dapat disimpan dalam waktu lama dan digunakan dalam perjalanan militer maupun aktivitas melaut. Makanan tradisional lain yang ikut dilirik adalah kue beras goreng dari Guangdong serta pancake khas Shandong.

Bagi orang-orang yang menjalani diet ini, menghitung kalori bukan lagi satu-satunya fokus. Mereka justru berusaha menikmati aktivitas mengunyah sambil membatasi jumlah makanan yang masuk ke tubuh.

Beberapa orang bahkan memilih cara yang lebih ekstrem. Seorang pengguna mengaku mengunyah dog chew stick atau batang kunyah untuk anjing ketika mengalami kecemasan menjelang ujian.

Ia mengatakan bisa menghabiskan waktu hingga dua jam untuk mengunyah satu batang. Menurut pengakuannya, aktivitas tersebut membuatnya lebih tenang dan membantu menjaga kebersihan mulut.

Namun, produk yang memang dibuat untuk hewan tentu tidak seharusnya dianggap sebagai camilan manusia. Kebiasaan tersebut juga tidak bisa dijadikan rekomendasi diet.

Camilan kenyal hanyalah salah satu strategi yang muncul di kalangan anak muda China untuk mengontrol berat badan. Sebagian lainnya memilih makanan dengan kandungan glikemik rendah atau makanan sederhana berbahan daging dan sayuran yang telah dipotong dan dibekukan. Cara seperti ini dianggap lebih masuk akal dibandingkan diet ekstrem yang mengharuskan seseorang mengurangi makanan secara drastis.

Dalam sejumlah penelitian, aktivitas mengunyah sendiri tdisebut dapat membantu pengelolaan stres mental. Dalam prinsip pengobatan tradisional China, makan secara perlahan dan mengunyah makanan dengan baik juga dianggap membantu proses pencernaan.

Meski begitu, tren camilan keras bukan berarti semakin sulit dikunyah maka semakin efektif untuk menurunkan berat badan. Pola makan seimbang, asupan nutrisi yang cukup, dan aktivitas fisik tetap menjadi dasar penting dalam menjaga berat badan dan kesehatan.

(vio/vio)
...
Hide Ads