Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Viral Verificator

Viral Kisah Sarjana ITB Raih Cuan dan Buka Lapangan Kerja Lewat Sampah

Gresnia Arela Febriani - wolipop
Sabtu, 04 Jul 2026 07:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Alumnus Biologi ITB, mengolah limbah tani jadi souvenir ramah lingkungan demi dampak sosial bagi warga desa.
Alumnus Biologi ITB, mengolah limbah tani jadi souvenir ramah lingkungan demi dampak sosial bagi warga desa. Foto: Dok. Instagram @rismaindryanim.
Bandung -

Unggahan video menyentuh sekaligus inspiratif dari seorang alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) viral di media sosial. Melalui akun Instagram miliknya @rismaindryanim, wanita bernama Risma Indriyani melontarkan pertanyaan reflektif yang langsung mencuri perhatian netizen.

Lewat lini usaha sosial yang ia bangun bersama @Suhuf_official, ia mendedikasikan ilmunya untuk memberdayakan petani serta pengrajin lokal melalui konsep sirkular ekonomi.

"Hai Biologi ITB gapapa kan aku yang sekarang ga jadi Ilmuwan? aku menemukan versi bertumbuhku bersama @Suhuf_official dan para Petani & Pengrajin Lokal untuk menciptakan berbagai produk souvenir eco-friendly dari limbah pertanian seperti pelepah pisang dan jerami. karena aku yakin pengabdian bukan hanya lahir dari laboratorium tapi bisa lahir dari cara berbeda sekalipun🌱," tulis Risma melalui unggahan di Instagram @rismaindryanim.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

[Gambas:Instagram]

ADVERTISEMENT

Risma membuktikan bahwa esensi dari ilmu Biologi yang ia timba di bangku kuliah tidak luntur, melainkan bertransformasi menjadi aksi nyata yang berdampak lingkungan. Bersama komunitas lokal, ia menyulap limbah pertanian yang kerap dianggap tak bernilai seperti pelepah pisang dan jerami menjadi lembaran kertas daur ulang premium dan berbagai produk souvenir eco-friendly bernilai jual tinggi.

Proses pengeringan, pencetakan, hingga perakitan produk dilakukan secara tradisional namun higienis dan terukur, menciptakan ekosistem hijau yang tidak hanya mengurangi emisi karbon akibat pembakaran sampah sisa panen, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan baru di pedesaan.

Kiprah Risma bahkan telah memikat perhatian media nasional dan internasional. Karya-karya estetik berbasis sirkular ekonomi dari Suhuf Official ini tidak hanya dilirik sebagai buah tangan ramah lingkungan, tetapi juga berhasil diekspos oleh media ternama seperti Transmedia hingga masuk dalam dokumentasi internasional Deutsche Welle (DW) - The Scene.

Alumnus Biologi ITB, mengolah limbah tani jadi souvenir ramah lingkungan demi dampak sosial bagi warga desa.Alumnus Biologi ITB, mengolah limbah tani jadi souvenir ramah lingkungan demi dampak sosial bagi warga desa. Foto: Dok. Instagram @rismaindryanim.

Bagi Risma, pengabdian sejati tidak selalu berbatas pada dinding laboratorium atau laporan jurnal ilmiah. Keberaniannya keluar dari zona nyaman adalah bukti bahwa kontribusi besar untuk bumi dan kemanusiaan bisa lahir dari sudut-sudut desa, lewat cara-cara kreatif yang merangkul sesama.

Unggahan ide bisnis ramah lingkungan tersebut sudah ditonton lebih dari 290 ribu dan mendapatkan banjir komentar dari warganet.

"Suksesnya ITB memang seperti ini kak, jadi pembuka lapangan kerja," kagum akun @naufaltastian.

"Terimakasih banyak kakkk membuktikan bahwa kuliah itu bukan untuk mencari kerja tetapi untuk memperbaiki pola pikir..terimakasih sudah membantu negara, pemerintah mengurangi pengangguran dg menyerap banyak tenaga kerja🔥🔥 indonesia bangga duwe sampean❤️❤️🎉🎉," ujar akun @tanteevita.

"Keren kakkk bermanfaat buat manusia lainnyaaa🥺," timpal akun @k.i.l.e.u.


Konfirmasi Wolipop

Alumnus Biologi ITB, mengolah limbah tani jadi souvenir ramah lingkungan demi dampak sosial bagi warga desa.Alumnus Biologi ITB, mengolah limbah tani jadi souvenir ramah lingkungan demi dampak sosial bagi warga desa. Foto: Dok. Instagram @rismaindryanim.


Wolipop telah menghubungi langsung sosok di balik video viral tersebut, yaitu Risma Indriyani M. Wanita asal Bandung, Jawa Barat, lulusan S1 Biologi ITB yang akrab disapa Risma ini sekarang disibukkan dengan kegiatannya sehari-hari sebagai seorang wiraswasta.

Risma menceritakan bahwa video yang direkam pada 22 Juni 2026 di Bandung tersebut merupakan refleksi perjalanan kariernya. Setelah lulus dari salah satu kampus terbaik bangsa, ia memilih jalan hidup yang berbeda dari mayoritas rekan seangkatannya.

"Terkait postingan tersebut, isinya tentang perjalanan karier aku setelah lulus dari Biologi ITB tidak melanjutkan bekerja sebagai biologist/ilmuwan di laboratorium, hingga akhirnya membangun perusahaan yang bergerak di bidang produk dan souvenir berkelanjutan dari kertas daur ulang," ungkap Risma kepada Wolipop.

Langkah ini diambil Risma sebagai solusi atas keresahannya melihat tata kelola limbah pertanian, seperti pelepah pisang dan jerami, yang biasanya hanya dibakar atau dibiarkan membusuk begitu saja hingga merusak lingkungan.


Titik Balik Pascacidera dan Pengalaman 9 Tahun di Korporat

Alumnus Biologi ITB, mengolah limbah tani jadi souvenir ramah lingkungan demi dampak sosial bagi warga desa.Alumnus Biologi ITB, mengolah limbah tani jadi souvenir ramah lingkungan demi dampak sosial bagi warga desa. Foto: Dok. Instagram @rismaindryanim.

Sebelum mendedikasikan diri penuh pada bisnis sirkular ini, Risma sejatinya memiliki karier yang mapan. Ia sempat bekerja di dunia korporat selama sembilan tahun, mulai dari perusahaan swasta hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Namun, sebuah ujian kesehatan justru menjadi titik balik dalam hidupnya.

"Aku melihat keresahan lingkungan dan ekonomi saat ini dan tersadar saat aku bed rest beberapa waktu lalu saat sempat mengalami patah tulang. Saat itu aku sadar banyak keresahan di lingkungan sekitarku harus ada solusinya, selain keresahan terhadap kondisi ekonomi yang saat ini dirasakan banyak masyarakat," kenang Risma.

Dari atas tempat tidur masa pemulihannya, Risma mengamati ironi di sektor pertanian. Limbah melimpah dibuang sia-sia, sementara para petani dan pengrajin lokal yang punya potensi besar justru belum mendapatkan nilai ekonomi yang optimal.

Alumnus Biologi ITB, mengolah limbah tani jadi souvenir ramah lingkungan demi dampak sosial bagi warga desa.Alumnus Biologi ITB, mengolah limbah tani jadi souvenir ramah lingkungan demi dampak sosial bagi warga desa. Foto: Dok. Instagram @rismaindryanim.

Melalui @Suhuf_official, Risma memutar otak memanfaatkan ilmu Biologinya. Pelepah pisang dan jerami yang selama ini dianggap sampah diolah menjadi kertas daur ulang dengan karakter dan tekstur serat alam yang unik. Kertas inilah yang kemudian disulap menjadi corporate merchandise, souvenir acara, souvenir pernikahan, media lukis, box packaging, hingga kebutuhan journaling.

Alasan utama Risma berfokus pada produk souvenir bukan tanpa sebab. Ia melihat realitas bahwa industri pernak-pernik hadiah saat ini masih didominasi oleh material yang tidak ramah lingkungan.

"Karena saya melihat banyak souvenir yang beredar saat ini masih terbuat dari plastik atau material lain yang sulit terurai. Padahal sebagian besar souvenir memiliki sifat fast moving, digunakan dalam waktu singkat lalu berakhir menjadi sampah. Kondisi ini turut menambah permasalahan lingkungan," jelasnya secara lugas.

Risma ingin memutus rantai tersebut dengan menawarkan alternatif yang bertanggung jawab. Ia berharap souvenir buatannya tidak sekadar berakhir di tempat sampah, melainkan menjadi media edukasi berjalan bagi masyarakat luas.

Memindahkan pusat kerja dari laboratorium yang steril ke lapangan yang dinamis mendatangkan tantangan berlapis bagi Risma. Memulai bisnis sosial ini tidak semudah membalikkan telapak tangan.

"Tantangan saat memulai tentu cukup banyak, mulai dari mengedukasi petani bagaimana mengelola limbah yang baik, mengedukasi pasar tentang produk berkelanjutan, membangun rantai pasok dengan petani dan pengrajin, hingga mengembangkan produk yang tetap berkualitas serta diminati konsumen," aku Risma.

Menghadapi hal tersebut, ia tidak menyerah. Risma terus membuka diri untuk belajar, rajin melakukan riset, berkolaborasi dengan berbagai pihak, dan yang paling penting, konsisten membangun hubungan emosional yang baik dengan para mitra dan warga lokal di lapangan.

Melalui sepotong video pendek yang kini menyentuh hati ribuan netizen, Risma menyelipkan pesan mendalam tentang esensi sebuah bisnis modern. Bagi Risma, indikator kesuksesan sebuah usaha bukan lagi sekadar angka di atas kertas laporan keuangan.

"Bisnis tidak hanya tentang mencari keuntungan, tetapi juga bisa menjadi sarana untuk menciptakan dampak sosial dan lingkungan yang positif. Setiap langkah kecil yang kita lakukan untuk memanfaatkan sumber daya secara lebih bijak dapat membantu mengurangi limbah," tuturnya menutup wawancara.

Risma berharap, kisahnya dapat memicu kesadaran kolektif masyarakat agar lebih bijak dalam mengelola sampah sehari-hari. Ia membuktikan bahwa limbah bukanlah akhir dari sebuah siklus, melainkan sebuah awal dari peluang, karya, dan manfaat yang jauh lebih besar.

(gaf/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads