Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Sering Mengantuk Setelah Makan? Ini 8 Penyebab dan Cara Mengatasinya

Adinda Salma - wolipop
Jumat, 28 Agu 2026 19:30 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Ilustrasi Wanita Mengantuk
Foto: Getty Images/Neustockimages
Jakarta -

Pernahkah kamu merasa lelah, bahkan mengantuk berat, tepat setelah menghabiskan makanan? Kondisi ini sering dikenal dengan istilah somnolens postprandial, sebuah fenomena yang umum terjadi, tetapi kerap mengganggu aktivitas harian.

Sensasi lemas dan ingin segera beristirahat usai menyantap makanan bisa dipengaruhi oleh porsi serta jenis makanan yang dikonsumsi. Rasa lelah setelah makan juga bisa menandakan adanya gangguan kesehatan mendasar yang dialami seseorang.

Berikut adalah delapan faktor penyebab mengantuk setelah makan yang perlu kamu ketahui beserta cara menanganinya:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Proses Pencernaan Alami Tubuh

Menurut Dr. Ashkan Farhadi, ahli gastroenterologi di Fountain Valley, California, ketika sistem pencernaan mulai bekerja mengolah makanan, saluran pencernaan akan mendapatkan peningkatan suplai darah. Kondisi ini mengurangi suplai darah ke otak sehingga menyebabkan rasa mengantuk. Menurutnya, kondisi ini normal dan sebenarnya dapat menimbulkan rasa tenang, bukan kelelahan.

"Pelepasan serotonin terjadi saat kamu mencerna makanan, dan usus adalah salah satu penghasil serotonin utama," ucap Dr. Ashkan. Hal ini menyebabkan efek relaksasi dalam tubuh dan rasa tenang setelah makan.

ADVERTISEMENT

Cara Menanganinya

Merasa sedikit mengantuk setelah makan adalah hal yang tergolong wajar dan normal. Menurut Dr. Ashkan, jika kamu mengalami kelelahan luar biasa meski hanya makan dalam porsi kecil, hal ini bisa mengindikasikan adanya masalah medis. Segera konsultasikan ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

2. Konsumsi Tinggi Protein dan Karbohidrat

Efek samping kebanyakan makan junk food bisa picu depresi.Ilustrasi makanan olahan. Foto: Getty Images/iStockphoto/beats3

Menyantap makanan dalam porsi besar yang kaya akan karbohidrat dan protein dapat membebani kerja organ pencernaan. Berdasarkan penjelasan Cleveland Clinic, makanan tinggi protein meliputi produk susu, ayam, dan kedelai, sedangkan makanan tinggi karbohidrat antara lain pasta, roti putih, dan gula. Selain itu, menurut National Institute on Aging, makanan olahan berpotensi mengurangi cadangan energi tubuh.

Cara Menanganinya

Mulailah mengatur komposisi dan takaran porsi makanan sehari-hari. Utamakan karbohidrat kompleks, sayuran non-pati, serta kacang-kacangan dalam porsi kecil tetapi teratur.

3. Risiko Penyakit Diabetes

Rasa lelah yang sangat berat setelah makan dapat menjadi sinyal awal penyakit metabolik seperti diabetes. Menurut American Diabetes Association (ADA), diabetes adalah kondisi kesehatan yang memengaruhi produksi atau penggunaan insulin dalam memindahkan glukosa (gula) dari makanan yang dikonsumsi ke dalam sel-sel tubuh.

ADA menjelaskan bahwa glukosa yang tertahan di aliran darah akan memicu berbagai gejala. Gejala umum diabetes tipe 2 meliputi kelelahan ekstrem, rasa haus atau lapar yang berlebihan, sering buang air kecil, dan penglihatan kabur.

Dr. Ashkan menjelaskan bahwa meski diabetes dan kelelahan kronis merupakan kondisi yang berbeda, tingginya kadar gula darah dapat membatasi asupan glukosa ke otak sehingga memicu rasa lemas dan lelah.

Cara Menanganinya

Mayo Clinic menganjurkan pemeriksaan darah secara berkala di laboratorium medis. Jika terdiagnosis diabetes, dokter akan menyusun rencana perawatan khusus yang meliputi penyesuaian pola makan, obat-obatan, insulin, dan penanganan lainnya.

4. Risiko Auto Imun

Mengantuk setelah makan juga bisa jadi tanda adanya penyakit auto imun, celiac. Penyakit celiac terjadi karena reaksi imun terhadap makanan yang mengandung gluten. Menurut Mayo Clinic, paparan gluten secara terus-menerus dapat merusak dinding usus halus dan menghambat penyerapan nutrisi penting.

Berdasarkan pernyataan National Celiac Association, kelelahan merupakan salah satu gejala nonpencernaan yang paling sering dilaporkan oleh penderita celiac setelah mengonsumsi gandum. Selain lemas, kondisi ini kerap disertai kembung, sembelit, serta diare kronis.

Cara Menanganinya

Segera jalani tes darah dan pemeriksaan diagnostik untuk memastikan diagnosis penyakit celiac. Jalani diet bebas gluten secara ketat, termasuk memperhatikan makanan, suplemen, serta obat-obatan yang dikonsumsi. Selalu pastikan makanan yang dibeli bebas dari risiko kontaminasi silang.

5. Pertumbuhan Bakteri Berlebih di Usus Kecil (SIBO)

hands holding intestine shape, healthy bowel digestion, leaky gut, probiotics and prebiotics for gut health, colon, gastric, stomach cancer concept

Foto: Getty Images/SewcreamStudio

Menurut Mayo Clinic, SIBO (Small Intestinal Bacterial Overgrowth) terjadi saat populasi bakteri di usus kecil berkembang melebihi batas normal akibat adanya penumpukan makanan yang stagnan sehingga menyebabkan malabsorpsi.

SIBO tidak hanya memicu rasa lelah, tetapi juga dapat menyebabkan penurunan berat badan tanpa sebab, kehilangan nafsu makan, serta perut kembung. Pertumbuhan bakteri yang berlebihan dapat mengganggu fungsi normal sistem pencernaan.

Cara Menanganinya

Jadwalkan konsultasi dengan tenaga medis untuk menjalani pemeriksaan SIBO. Jika didiagnosis SIBO dan sering merasa lelah setelah makan, segera tanyakan kepada dokter mengenai pola makan yang tepat. Mayo Clinic menyebutkan bahwa menerapkan pola makan rendah FODMAP atau membatasi konsumsi laktosa (produk susu) dapat membantu mengurangi gejala pada pasien SIBO.

6. Mengonsumsi Makanan dalam Porsi Terlalu Besar

Ukuran porsi yang dikonsumsi memegang peranan penting terhadap tingkat energi tubuh setelah makan. Baik makanan bergizi seperti beras merah maupun makanan cepat saji, porsi berlebih dapat menguras energi untuk proses pencernaan.

Berdasarkan penjelasan Cleveland Clinic, mencerna makanan dalam porsi sangat besar membuat tubuh mengerahkan lebih banyak energi sehingga rasa kantuk yang tak tertahankan sering kali muncul.

Cara Menanganinya

Ubah pola makan menjadi empat hingga lima kali sehari dengan porsi kecil. Langkah ini membantu saluran pencernaan bekerja lebih optimal tanpa membuat tubuh kekurangan cadangan energi.

7. Alergi Makanan

Asian woman sleeping in bed after eating pizza, potato chips and soda with Tv remote on her fat belly  overeating junk food concept

Foto: Getty Images/Doucefleur

Saat mengonsumsi bahan makanan yang memicu alergi, sistem kekebalan tubuh akan langsung bekerja keras untuk melawan zat yang dianggap berbahaya. Aktivitas sistem kekebalan tubuh tersebut dapat menguras energi dan menimbulkan kelelahan.

Food and Drug Administration (FDA) menjelaskan bahwa alergen makanan yang paling umum yaitu susu, telur, kacang tanah, gandum, kedelai, serta seafood. Jadi, jika kamu memiliki alergi terhadap salah satu alergen tersebut, hindari mengonsumsinya untuk mencegah kelelahan dan komplikasi reaksi alergi yang lebih serius.

"Ingatlah bahwa sebagian besar alergi makanan disertai dengan berbagai gejala lain," jelas Dr. Ashkan. Jika kamu hanya mengalami kelelahan, mungkin ada masalah lain yang mendasarinya.

Cara Menanganinya

Periksakan diri ke dokter untuk mengidentifikasi bahan makanan pemicu alergi secara pasti atau mengetahui penyebab kelelahan. Hindari mengonsumsi alergen tersebut guna mencegah komplikasi akibat reaksi alergi yang membahayakan.

8. Tubuh Hanya Lelah

Terkadang, alasan utama kamu merasa lelah setelah makan sangat sederhana, yaitu tubuh memang sedang mengalami kekurangan waktu tidur.

"Proses makan bisa melelahkan bagi penderita sindrom kelelahan kronis atau penyakit lainnya," jelas Dr. Ashkan. Kurang tidur pada malam hari dapat memperparah rasa kantuk yang datang setelah makan.

Cara Menanganinya

Pastikan kamu memenuhi kebutuhan tidur malam selama 7 hingga 9 jam secara teratur. Istirahat yang cukup membantu menjaga tubuh tetap segar, meningkatkan produktivitas, serta mencegah rasa kantuk berlebih setelah makan.

(eny/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads