Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Tren Diet Protein Maxxing Viral, Makan Protein Banyak-banyak untuk Bakar Lemak

Hestianingsih Hestianingsih - wolipop
Selasa, 09 Jun 2026 10:05 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Diet Daging Mentah
Foto: Getty Images/iStockphoto/tycoon751
Jakarta -

Setelah berbagai tren diet silih berganti bermunculan di media sosial, kini ada lagi istilah baru, protein maxxing. Tren yang populer di kalangan influencer kesehatan dan kebugaran ini mendorong seseorang untuk mengonsumsi protein dalam jumlah sangat tinggi.

Tujuan diet protein maxxing bertujuan menurunkan berat badan, membentuk otot, dan meningkatkan performa fisik. Para pendukung tren ini mengklaim bahwa memperbanyak asupan protein membuat tubuh lebih cepat kenyang, membantu pembakaran lemak, hingga mendukung pembentukan massa otot.

Namun, sejumlah ahli kesehatan mengingatkan bahwa konsumsi protein berlebihan tidak selalu memberikan manfaat tambahan bagi tubuh. Menurut Dr. Penny Stern, Kepala Divisi Preventive & Lifestyle Medicine di Northwell Health, meningkatkan konsumsi protein hingga level ekstrem tidak selalu ideal bagi kebanyakan orang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kekhawatiran utamanya berkaitan dengan kesehatan ginjal. Organ tersebut bertugas menyaring zat sisa hasil metabolisme protein, termasuk nitrogen. Ketika asupan protein terlalu tinggi dalam jangka panjang, beban kerja ginjal ikut meningkat.

"Ginjal dipaksa bekerja lebih keras dan dalam jangka panjang dapat menyebabkan tekanan yang tidak perlu," jelasnya, seperti dikutip dari People.

ADVERTISEMENT

Protein Tidak Perlu Dikonsumsi Terlalu Banyak

Dr. Penny menjelaskan bahwa rata-rata orang dewasa hanya membutuhkan sekitar 0,8 hingga 1,2 gram protein per kilogram berat badan setiap hari. Kebutuhan yang lebih tinggi biasanya hanya berlaku untuk atlet, lansia, atau orang-orang dengan kondisi tertentu yang membutuhkan perbaikan dan pemeliharaan massa otot lebih besar.

Menurutnya, sebagian besar orang sebenarnya sudah mendapatkan cukup protein dari makanan sehari-hari tanpa perlu menjalani diet ekstrem.

"Protein memang nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh. Namun segala sesuatu yang berlebihan berpotensi menimbulkan dampak negatif," katanya.

Ini 5 Efek Samping Diet Tinggi Protein yang Bahayakan KesehatanDiet Tinggi Protein yang Bahayakan Kesehatan. Foto: Getty Images/Kanawa_Studio

Dampaknya Tak Hanya pada Ginjal

Beban berlebih pada ginjal dapat memicu masalah kesehatan lain. Penny menjelaskan bahwa tubuh bekerja sebagai satu sistem yang saling terhubung, sehingga gangguan pada satu organ bisa memengaruhi fungsi organ lainnya.

"Ginjal yang terus-menerus mengalami tekanan dapat berkontribusi pada peningkatan tekanan darah dan peradangan. Tubuh tidak bekerja secara terpisah. Semuanya saling berkaitan," terangnya.

Oleh karena itu, menjaga keseimbangan nutrisi jauh lebih penting dibandingkan hanya mengejar satu jenis zat gizi secara berlebihan.

Saat Protein Berlebihan, Nutrisi Penting Lain Bisa Terabaikan

makanan tinggi protein lebih sehatDiet tinggi protein. Foto: Getty Images

Masalah lain yang bisa muncul dari tren protein maxxing adalah berkurangnya konsumsi makanan bergizi lain seperti sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian utuh. Menurut Penny, kekurangan serat menjadi masalah yang jauh lebih umum terjadi daripada kekurangan protein.

"Sebagian besar orang tidak mendapatkan cukup serat. Itu masalah besar. Ketika terlalu fokus pada protein, sering kali makanan penting lain seperti sayuran, buah, dan gandum utuh menjadi terabaikan," jelasnya.

Padahal serat berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan, mengontrol kadar gula darah, serta mendukung kesehatan jantung.

Kuncinya adalah Moderasi

Sebelum mencoba protein maxxing atau pola diet apa pun yang sedang viral, Penny menyarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis atau ahli gizi.

"Pola yang ekstrem bukanlah pilihan terbaik. Yang dibutuhkan tubuh adalah keseimbangan dan moderasi. Pilih kebiasaan yang bisa dijalankan seumur hidup, bukan hanya untuk sementara waktu," pungkasnya.

Alih-alih mengejar tren diet yang menjanjikan hasil instan, para ahli menilai pola makan seimbang yang mencakup protein, serat, lemak sehat, buah, dan sayuran tetap menjadi cara paling aman untuk menjaga kesehatan dan berat badan ideal dalam jangka panjang.

(hst/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads