ADVERTISEMENT

Apakah Resesi Seks Bisa Mengurangi Angka Kelahiran Anak? Ini Kata Dokter

Gresnia Arela Febriani - wolipop Sabtu, 17 Des 2022 11:00 WIB
Asian pregnant couple feeling happy show ultrasound image at home, focus on ultrasound image. Foto dokter Benny. Foto: Dok. pribadi dokter Benny.
Jakarta -

Sex recession atau resesi seks sedang menjadi topik perbincangan publik karena mulai melanda sejumlah negara Asia Timur, seperti Jepang, China dan Korea Selatan. Apa itu resesi seks?

Menurut dokter Spesialis Kebidanan Kandungan Konsultan, Dr.Benediktus A,MPH,Sp.OG(K) FICS, resesi seks adalah istilah ketika suatu daerah atau negara penduduknya mengalami penurunan hubungan seks. Reseksi seks ini bisa berdampak pada angka kesuburan.

"Memang secara tidak langsung, karena jarang berhubungan angka kesuburan negara tersebut akan menurun. Angka kesuburan suatu negara disebut dengan Total Fertility Rates (TFR)," ungkap dokter yang akrab dipanggil dokter Benny itu lewat pesan suara kepada Wolipop, Selasa (13/12/2022).

Dokter lulusan Universitas Maastricht, Belanda ini menuturkan Total Fertility Rates (TFR), bukan satu-satunya akibat orang tidak mau berhubungan seks atau karena resesi seks.

"Contoh di Indonesia tahun 1950 TRF 5,sekian rata-rata orang punya anak lebih dari 5. Tapi menjelang tahun 1980-an turun menjadi tiga dan sekarang dua. Artinya memang ada tujuan supaya tidak terlalu banyak jumlah penduduk. Itulah salah satu program dari pemerintah BKKBN. Sengaja menurunkan jumlah kelahiran pertumbuhan penduduk. Tapi tidak membatasi orang untuk berhubungan seks," tutur dokter Benny.

Dokter Benny mengucapkan bagi sepasang suami istri yang sudah menikah dan ingin mempunyai anak satu sampai dua tahun lagi, lalu mereka menjalani program berencana atau family planning dan memakai alat kontrasepsi. Pada kondisi tersebut tetap ada hubungan seks sehingga tidak terjadi resesi seks. Namun angka kesuburuan akan menurun karena mereka menggunakan kontrasepsi agar tidak hamil.

"Jadi jangan dicampur adukkan antara resesi seks serta merta pasti angka kesuburan turun. Karena angka kesuburan itu banyak pengaruhnya. Kalau kita bicara angka kesuburan harus melihat banyak faktor, faktor biologi, psikologi, sosial, ekonomi, dan budaya," ungkapnya.

Dokter yang aktif melayani pasien di RS Mitra Keluarga Kenjeran dan Morula IVF Surabaya ini menambahkan angka kesuburan datang dari faktor pasangan suami istri.

"Nah, yang penting untuk diperhatikan sebenarnya adalah angka kesuburan dan infertilitas. Karena angka infertilitas semakin meningkat. Bukan hanya masalah hubungan seksnya saja. Tapi masalah pria dan wanita sepasang suami istri yang belum hamil. Padahal sudah melakukan hubungan seks secara teratur," jelas dokter Benny.

"Kalau sudah satu tahun melakukan hubungan seks yang teratur dan belum hamil pasangan bisa disebut kurang subur. Dibalik resesi seks ada juga hal yang tidak kalah penting yaitu angka infertilitas atau ketidaksuburan," lanjut dokter Benny.

Menurunnya angka kesuburan ini bisa terjadi karena faktor pria dan wanita serta masalah ekonomi dan sosial. Pasangan cenderung menunda hamil karena masalah keuangan. Dan semakin tua usia pria dan wanita kualitas sel sperma dan sel telur bisa berubah.

"Terkait resesi seks ini, memang betul resesi seks itu menunjukkan istilah dimana frekuensi hubungan seksualnya semakin berkurang. Tapi tidak serta berhubungan dengan otomatis tidak ada yang hamil. Hamil atau tidak bukan hanya faktor seks, tapi juga masalah berbagai faktor tadi saya sebutkan," pungkas Benny.

(gaf/gaf)