5 Hal Tentang Kehilangan Indera Penciuman dan Perasa karena COVID-19

Chairini Putong - wolipop Sabtu, 09 Jan 2021 16:30 WIB
Shot of beautiful young woman holding and smelling clean towels at home. Ilustrasi kehilangan indera penciuman dan perasa karena covid-19. Foto: iStock
Jakarta -

Riset terbaru mengungkapkan gejala paling umum yang dialami seseorang saat terinfeksi COVID-19 atau corona adalah kehilangan indera penciuman dan perasa. Berikut lima hal yang perlu kamu ketahui mengenai gejala kehilangan indera penciuman dan perasa.

1.Seberapa umum gejala kehilangan indera penciuman dan perasa?

Justin Turner, direktur medis Smell and Taste Center di Pusat Medis Universitas Vanderbilt (VUMC), mengatakan tak jarang penderita COVID-19 kehilangan indera penciuman dan perasa sementara bahkan permanen.

Dilansir VUMC, sebanyak 80 persen orang yang positif COVID-19 mengeluh kehilangan indera penciuman dan perasa. Kebanyakan pasien mengira indera penciuman mereka bermasalah. Namun, indera penciuman dan perasa saling berhubungan. Sebab indera penciuman diperlukan saat mengecap rasa.

2.Apa yang diketahui tentang kasus COVID-19 di mana gejala ini muncul?

Sebuah penelitian menunjukkan, penderita COVID-19 dengan indera penciuman normal memiliki gejala yang lebih buruk. Mereka arus dirawat di rumah sakit dan mungkin ditempatkan dalam ventilator.

Asian woman wearing mask, sick doctor, cough, use to grasp the chest in the bedroomIlustrasi kehilangan indera penciuman dan perasa karena corona. Foto: Getty Images/iStockphoto/somboon kaeoboonsong

"Data yang kami miliki sejauh ini menunjukkan, kehilangan indera penciuman dan perasa dapat menjadi gejala pertama atau bahkan gejala satu-satunya," jelas Justin. Ia menambahkan, kehilangan indera penciuman dan perasa bisa menjadi alat skrining pertama infeksi COVID-19.

3.Apa yang menyebabkan penderita COVID-19 kehilangan indera penciuman dan perasa?

"Kami yakin penyebab utama kehilangan indera penciuman adalah virus yang menyebabkan radang di dalam hidung dan hilangnya penciuman," tambah profesor otolaringologi spesialis bedah kepala dan leher ini.

4.Apakah kehilangan indera penciuman dan perasa ini membahayakan?

Dr. Nina Saphiro, ahli bedah kepala dan leher anak Sekolah Medis UCLA, menyebut masalah sensorik ini dapat membahayakan. "Bila kamu mengalami kebocoran gas, kamu belum tentu bisa mencium baunya. Dan jika orang kehilangan nafsu makan karena rasa makanan seperti karton bahkan daging busuk, mereka mungkin akan kekurangan vitamin," ujar Nina dikutip dari NBC News.

Risiko dari gejala kehilangan indera penciuman dan perasa pada COVID-19 lainnya adalah depresi. "Hidung mempengaruhi keadaan emosional. Hidung membantu kita menjalankan hidup dan membuat kita merasa berada di tempat yang tepat," timpal Dr. Sandeep Robert Datta, profesor neurobiologi Sekolah Medis Harvard.

5.Bagaimana cara mengetahui kita kehilangan indera penciuman dan perasa?

Kamu bisa menguji indera penciuman dan perasa guna mendeteksi infeksi virus COVID-19. Dikutip dari Healthline, berikut cara menguji apakah kamu kehilangan indera penciuman dan perasa.

Bau: Carilah makanan yang memiliki bau khas seperti biji kopi, kayu manis, atau bawang putih. Kamu juga bisa menggunakan bedak bayi hingga lilin beraroma.

Rasa: Pilihlah makanan dengan karakteristik rasa yang berbeda seperti coklat (manis), jeruk (asam), kopi (pahit), dan keju (asin).

(eny/eny)