7 Faktor Penyebab Perut Buncit dan Cara Menghindarinya

Tim CNN Indonesia - wolipop Rabu, 30 Des 2020 05:30 WIB
Low angle view of beautiful young woman in gray undershirt feeling pain, standing in the bathroom Ilustrasi perut buncit. Foto: Thinkstock
Jakarta -

Perut buncit bisa disebabkan oleh banyak faktor. Baik faktor dari luar karena gaya hidup maupun faktor keturunan.

Pada intinya, perut buncit merupakan hasil dari penumpukan lemak berlebih pada tubuh. Lemak di perut ini bisa memicu risiko penyakit degeneratif seperti jantung, hipertensi, stroke hingga kanker usus besar.

Ada tujuh penyebab perut puncit paling umum yang harus diwaspadai. Ini penjelasannya seperti dikutip dari cnnindonesia.com.

1. Pola Makan Buruk

Makanan dan minuman manis diketahui dapat menyebabkan kenaikan berat badan, memperlambat proses metabolisme, dan mengurangi kemampuan seseorang membakar lemak. Alhasil, perut menjadi buncit.

Selain itu, diet tinggi karbohidrat dan rendah protein juga dapat memengaruhi berat badan. Protein membantu seseorang merasa kenyang lebih lama. Orang-orang yang tidak memasukkan protein dalam pola makan hariannya akan cenderung lebih banyak mencari camilan.

Tak hanya itu, kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji yang penuh dengan kandungan lemak trans juga berkontribusi pada kelebihan berat badan. Lemak trans dapat menyebabkan peradangan dan obesitas. American Heart Association merekomendasikan untuk mengganti lemak trans dengan lemak tak jenuh.

2. Konsumsi Alkohol Berlebihan Jadi Penyebab Perut Buncit

Mengonsumsi alkohol berlebihan dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk penyakit hati dan peradangan.

Sebuah studi pada 2015 yang dipublikasikan pada jurnal Current Obesity Reports menunjukkan bahwa konsumsi alkohol berlebih menyebabkan penambahan berat badan di sekitar perut pria.

3. Malas Olahraga

Jika seseorang terus mengonsumsi kalori tanpa melakukan pembakaran lemak seperti berolahraga, berat badan akan terus bertambah. Gaya hidup tidak aktif membuat seseorang sulit membuang lemak berlebih, terutama di sekitar perut.

4. Stres

Hormon kortisol membantu tubuh mengendalikan dan mengatasi stres. Dalam kondisi stres, tubuh akan melepaskan kortisol yang berdampak pada proses metabolisme.

Beberapa orang cenderung mengonsumsi banyak makanan saat merasa stres. Alhasil, kortisol menyebabkan kelebihan kalori di sekitar perut.

5. Genetik

Sejumlah bukti menunjukkan bahwa faktor genetik dapat menentukan bentuk tubuh, termasuk perut buncit. Para ilmuwan beranggapan bahwa genetik dapat memengaruhi perilaku, proses metabolisme, dan risiko obesitas.

6. Tidur Tidak Teratur

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Sleep Medicine menunjukkan, kualitas tidur yang buruk dapat meningkatkan berat badan, khususnya lemak pada perut. Kurang tidur dianggap berpotensi menimbulkan perilaku makan yang tidak sehat.

7. Kebiasaan Merokok

Meski tak secara menjadi penyebab perut buncit, tapi para peneliti percaya bahwa merokok menjadi salah satu faktor risikonya. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Plos One menemukan, perokok memiliki lebih banyak lemak di perut daripada non-perokok.

Setelah mengetahui faktor-faktor penyebab perut buncit, maka kamu bisa memikirkan cara untuk meminimalisirnya. Yakni dengan menjalani gaya hidup dan pola makan sehat. Kurangi konsumsi gula dan alkohol, perbanyak makanan berserat dan lebih sering beraktivitas fisik.

(hst/hst)