Revina VT Komentari Tubuh Wanita, Ini Alasannya Body Shaming Itu Bahaya

Hestianingsih - wolipop Jumat, 04 Sep 2020 10:45 WIB
Selebgram Revina VT. Selebgram Revina VT. Foto: Instagram/@revinavt
Jakarta -

Revina VT bikin heboh karena cuitannya di Twitter yang dianggap netizen sebagai bentuk body shaming. Berawal dari tulisannya yang mengomentari penampilan salah satu pengunjung di gym.

Selebgram dengan 674 ribu follower di Instagram dan 32 ribuan follower di Twitter ini berkicau tentang seorang wanita di gym yang memakai sports bra dan celana pendek. Dia mengaku matanya terganggu dengan 'polusi visual' wanita tersebut yang dianggapnya punya tampilan fisik kurang elok.

"Lo pernah ga sih liat orang ngegym, terus pede bener pake sport bra + celana pendek yang pantatnya keliatan separo tapi polusi visual aja buat mata lo. Perih bener."

"Loh no offense, wong gue yang di sana. Kami squat bareng, dia sportbranya mirip sama kemben doang. Punggungnya tidak mulus, tp gue liat terus. Pantatnya item, celana dalemnya ngejeplak banget, jadi pantat kayak kebelah jadi 4 bagian. Kan gemesh."

"Lah kenapa emosi? Mata-mata gue, gue juga nggak ngebully dia. Munafik banget semua harus dibilang pretty. :)) nyatanya emang enggak semua cewek cakep, lo mau ngegym badan belom bagus, ya sama badan gue juga jelek. Tp pantat jangan diliatin ke orang dong."

Selebgram Revina VT.Selebgram Revina VT. Foto: Instagram/@revinavt

Begitu beberapa cuitan Revina VT yang disebut netizen merupakan perilaku body shaming dan bisa membahayakan kesehatan jiwa. Terutama bagi mereka yang memang memiliki masalah mental seperti tidak percaya diri atau ada kecenderungan depresi.

Kekhawatiran ini nyata adanya. Banyak penelitian yang menunjukkan kalau body shaming memang berbahaya bagi kesehatan mental. Kerusakan yang ditimbulkan pada mental seseorang bisa lebih dari sekadar membuatnya merasa tidak percaya diri.

CNN melansir sebuah studi yang menemukan bahwa wanita dengan kelebihan barat yang mempercayai kata-kata negatif tentang tubuh mereka, lebih berisiko terkena penyakit jantung dan diabetes. Risiko lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki imej tubuh positif.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Obesity menunjukkan bahwa orang-orang yang selalu terpapar stereotipe negatif tentang tubuhnya jadi makin percaya bahwa dirinya memang cocok dengan stereotipe tersebut. Alhasil kesadaran mereka untuk memelihara kesehatan dengan olahraga dan diet sehat pun hilang.

Akibatnya, terjadi sindrom metabolisme. Sindrom ini dapat 'mengundang' berbagai masalah kesehatan hingga risiko terkena penyakit jantung dan diabetes meningkat.

Closeup portrait nervous stressed young concerned woman biting fingernails looking anxiously craving something isolated gray background with copy space. Human emotion face expression feeling reactionIlustrasi wanita korban body shaming. Foto: iStock

"Ada miskonsepsi bahwa terkadang adanya sedikit stigma itu penting untuk memotivasi orang agar mau menurunkan berat badan. Tapi dari waktu ke waktu, penelitian menunjukkan bukan cuma itu masalahnya," kata Rebecca Pearl, PhD, asisten profesor psikologi yang juga jadi penulis penelitian di Perelman School of Medicine, Pennsylvania, seperti dikutip dari CNN.

Studi tersebut juga menunjukkan ketika orang merasa buruk atau negatif tentang dirinya sendiri, efeknya pun bisa menyerang kesehatan secara fisik. Jadi tidak hanya berimbas pada mental.

Selain itu dalam penelitian yang dilakukan terhadap 159 wanita obesitas tersebut, terungkap juga bahwa body shaming atau fat shaming seperti yang dilakukan Revina VT bisa memicu peradangan dan hormon stres pada tubuh. Orang yang merasa dirinya jelek atau tidak menarik cenderung lebih enggan olahraga dan kesulitan makan sehat yang berakibat pada penurunan kualitas kesehatan secara menyeluruh.



Simak Video "Kapan Sih Waktu yang Baik Membaca Berita?"
[Gambas:Video 20detik]
(hst/hst)