Susah Tidur Selama Pandemi Corona? Ini Alasannya dan Saran dari Ahli

Vina Oktiani - wolipop Rabu, 15 Apr 2020 19:30 WIB
Side view portrait of a insomniac girl unable to sleep in the night on a bed Penyebab susah tidur selama pandemi corona. Foto: iStock
Jakarta -

Pandemi Corona telah memberikan dampak yang signifikan pada kehidupan masyarakat di dunia. Virus tersebut telah mengubah pola hidup dan kebiasaan setiap orang. Sebelumnya, kamu mungkin tidak akan berpikir dua kali saat ingin pergi ke luar rumah namun saat ini kamu bahkan takut dan selalu merasa cemas ketika harus melakukannya. Tidak hanya itu saja, nyatanya pandemi Corona juga bisa berdampak pada pola tidur yang dimiliki.

Seperti dikutip dari Express, menurut Colin A Espie, Profesor Sleep Medicine di Oxford University, krisis pandemi Corona saat ini dapat mempengaruhi siklus 24 jam atau yang biasa dikenal dengan ritme sirkadian karena kenaikan tingkat kecemasan yang dimiliki. Selain itu, beberapa orang juga bisa memperoleh mimpi-mimpi yang tidak biasa.

Professor Espie mengaku banyak menemukan orang-orang yang susah tidur setelah ada pandemi Corona. Padahal menurutnya tidak hanya kesehatan pada siang hari yang perlu diperhatikan, melainkan kesehatan pada malam hari juga penting.



"Tidur adalah pusat dari kehidupan kita dan karena itu terjadi secara otomatis maka kita menerimanya begitu saja. Sekarang kita berada di satu tempat (hampir sepanjang hari) sehingga mudah untuk meggabungkan pola tidur dan bangun," jelas Espie.

Desperate girl suffering insomnia trying to sleep in a bed at home in the nightPenyebab susah tidur di malam hari selama corona. Foto: iStock



Hal itu mengarah pada ritme sirkadian yang mungkin kamu abaikan sehingga menyebabkan kelelahan siang hari dan pusing pada pagi hari. Jika kamu ingin memperbaiki ritme sirkadian yang kamu miliki, maka kamu bisa menggunakan cahaya alami dari sinar matahari. Professor Espie menjelaskan bahwa cahaya pada siang hari dapat membantu melatih jam tubuh 24 jam atau ritme sirkadian yang dimiliki.


"Orang-orang mendapatkan lebih sedikit sinar matahari dan tidak bangun pagi-pagi. Kehilangan cahaya dan perubahan kebiasaan memungkikan jam tubuh terganggu dan dapat menyebabkan rasa tidak enak. Sangat penting untuk mempertahankan rutinitas dan mendapatkan sinar matahari," kata Espie.

Itulah mengapa sangat penting untuk tetap bangun pada pagi hari meskipun kamu bekerja dari rumah atau tidak mengurus anak-anak yang akan berangkat ke sekolah. Jika kamu biasa melakukan olahraga pagi maka itu juga dapat membantu menjaga ritme sirkadian yang dimiliki. Lakukan pagi-pagi dengan memanfaatkan cahaya luar.

Selama isolasi diri di rumah mungkin kamu bisa dengan mudah untuk makan lebih banyak dari yang kamu butuhkan, tetapi tidak demikian dengan tidur. Profesor Espie sangat tidak menyarankan untuk tidur di luar rutinitas rutin karena hal itu dapat menghancurkan pola tidur seseorang sehingga membuatnya lebih sulit tidur.

Jika kamu merasa mengantuk maka kamu tetap diperbolehkan melakukan tidur siang singkat. Hanya saja bagi orang yang merasa kelelahan lebih disarankan untuk melakukan aktivitas dan mendapatkan cukup sinar matahari daripada tidur. Tidur ketika merasa lelah akan menyebabkan kesulitan tidur di malam hari. Selain itu, hal tersebut juga akan meningkatkan potensi kecemasan dan stres.

Bangun pagi bisa jadi cara atasi susah tidur.Bangun pagi bisa jadi cara atasi susah tidur. Foto: iStock



Profesor Espie mengatakan orang yang tidak bisa tidur akan berpikir bahwa mereka merasakan itu, sehingga akan membuat mereka mulai merasa khawatir. Dan semakin kamu mencoba untuk tidur maka kamu akan sulit untuk terlelap. Berbeda jika kamu bisa tertidur lelap maka kamu tidak akan memikirkan hal-hal tersebut.

Perubahan pola tidur umumnya paling banyak dirasakan oleh orang-orang yang masih bekerja, seperti para tenaga medis. Steph Baker, seorang ahli fisiologi jantung berusia 26 tahun mengatakan bahwa dirinya bahkan tidak bisa melakukan apapun ketika sampai di rumah karena banyak hal yang harus dipikirkannya. Selain itu, dia juga mengalami mimpi yang tidak biasa.

"Ada satu mimpi di mana saya pergi untuk melihat musikal, dan kemudian tiba-tiba aktris utamanya jatuh sakit dan saya yang menggatikannya, tetapi saya tidak mengetahui dialognya," kata Baker.

Profesor Espie menjelaskan bahwa mimpi adalah hal yang normal. Hanya saja terkadang saat kita merasa depresi, mimpi yang dimiliki bisa terasa seolah-olah memiliki lebih banyak konten emosional atau kecemasan. Hal itu yang mungkin banyak dirasakan oleh orang-orang di tengah pandemi Corona ini. Professor Espie juga menekankan bahwa tidak perlu menganalisis mimpi tersebut terlalu jauh.




Simak Video "5 Tips Aman ala dr Reisa agar Terhindar COVID-19 Saat Terima Paket"
[Gambas:Video 20detik]
(vio/eny)