Ini yang Bisa Terjadi Pada Anak Remaja Jika Terlalu Banyak Main Medsos

Gresnia Arela Febriani - wolipop Rabu, 31 Jul 2019 07:48 WIB
Ilustrasi anak main media sosial. Foto: Thinkstock Ilustrasi anak main media sosial. Foto: Thinkstock

Jakarta - Media sosial kini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bahkan di kalangan anak remaja. Seperti orangtua mereka, anak-anak pun memiliki akun media sosial bahkan sejak usia mereka masih bayi.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII), dari 143,26 juta orang pengguna internet di Indonesia, mayoritas dari pemakai media sosial adalah perempuan, termasuk remaja perempuan.

"Generasi milenial sangat identik dengan gadget. Kenapa remaja perempuan sekarang tidak bisa lepas dari sosial media? Kalau kita lihat dari karakteristiknya perempuan muda itu di usia remaja sampai menjelang dewasa muda sampai usia 20 tahun-an itu kan mereka lagi explore identitas diri. Semakin menunjukkan saya ini siapa dan bisa apa, di lingkungan remaja saya seperti apa," ujar psikolog Vera Itabiliana saat ditemui dalam acara Marina Beauty Journey 2019, di FX Sudirman, Jakarta,Selasa (30/7/2019).

Vera menambahkan, remaja yang sedang berada di usia peralihan antara anak-anak menjadi dewasa, berada di tahapan waktu yang membingungkan. Masa ini biasanya terjadi di antara usia 15 hingga 20 tahun. Dan remaja di usia tersebut melihat media sosial sangat cocok dengan mereka. Kenapa demikian?


"Karena di media sosial bisa mengekspresikan diri dan melihat orang lain untuk dijadikan acuan sesuai dengan kebutuhan perkembangan di usia mereka," kata Vera.

Jika tidak diarahkan dengan tepat, media sosial bisa memberikan efek buruk pada anak remaja yang menganggap media sosial sebagai 'teman baik' mereka. Efek negatif tersebut di antaranya anak remaja bisa mengalami penurunan produktivitas, menurunkan konsentrasi belajar hingga kekurangan jam tidur karena terlalu asyik dengan ponselnya.

Saat si anak remaja terlalu larut dengan media sosialnya, hal tersebut juga dapat mempengaruhi kesehatan mentalnya. Ini terjadi ketika mereka mulai membandingkan diri mereka dengan orang lain.


"Jadi melakukan pembandingan sosial berlebihan. Kalau itu tanpa muncul berlebihan bisa membuat kita tertekan dan terganggu kesehatan mentalnya, tidak percaya diri dan self esteem menurun," ujar Vera.

Oleh karena itu Vera menyarankan pada para orangtua yang anak remajanya mulai aktif di akun media sosialnya untuk lebih waspada. Sebaiknya anak diberikan batasan waktu dalam menjelajah media sosial. Dan berikutnya, si orangtua harus berteman dengan anak di media sosialnya. Namun berteman di sini jangan sampai dianggap anak mengganggu eksistensinya. Misalnya dengan tidak memberikan like atau komentar yang berlebihan di akun media sosial anaknya. "Jadi silent friend," katanya.

Vera menambahkan, jika ada postingan yang agak menyimpang sebaiknya dijadikan bahan diskusi, bukan dengan langsung melarang. Dan yang paling penting menjalin komunikasi langsung dengan anak agar orangtua bisa tahu apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh sang anak.

Simak Video "Wanita Ini Temui 626 Teman Facebooknya di 43 Negara"
[Gambas:Video 20detik]
(eny/hst)