Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Derita Lisa Brown, Selalu Kelaparan karena Sindrom Pencernaan Langka

Hestianingsih - wolipop
Rabu, 29 Jul 2015 11:50 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. YouTube/Lili Brown
Jakarta - Lisa Brown tidak mengalami gangguan makan seperti anoreksia maupun bulimia. Namun wanita berusia 32 tahun ini selalu kelaparan. Bobotnya turun drastis, dari 63 kg menjadi kurang dari 40 kg dalam lima tahun dan tubuhnya pun sangat kurus hingga tampak hanya tulang belulang.

Lisa bukannya tidak mau makan, tapi ia mengidap sindrom langka yang membuat tubuhnya tidak mau mencerna makanan. Akibatnya wanita asal Wisconsin, Amerika Serikat ini merasa terus kelaparan.

Penyakit yang diidap Lisa disebut superior mesenteric artery syndrome (SMAS), kondisi yang membuat sebagian usus kecilnya terperangkap di antara dua pembuluh arteri. Akibatnya, makanan tidak bisa melewati sistem pencernaan dan tubuhnya dengan baik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lima tahun sudah Lisa berjuang mencari solusi untuk mengatasi penyakitnya itu. Ia pun berbagi kisahnya lewat YouTube yang menceritakan bagaimana usahanya menghadapi SMAS dengan harapan bisa mendapatkan dana pengobatan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap sindrom langka tersebut.

Saat ini Lisa sedang menjalani perawatan di The Cleveland Clinic. Perawatan tersebut menggunakan sebuah sistem canggih yang memungkinkan nutrisi-nutrisi yang penting bagi tubuh dialirkan langsung ke usus kecilnya melalui perut. Keluarga Lisa pun gencar mencari donasi lewat situs amal GoFundMe untuk membiayai pengobatannya yang tidak murah itu.

Saat ini uang yang berhasil terkumpul mencapai lebih dari USD 12.000 (sekitar Rp 161 juta) dari total biaya USD 50.000 (Rp 673 juta). Seperti apa SMAS yang membuat Lisa kelaparan sepanjang hidupnya?

Sindrom Langka
Menurut parah ahli, kasus Lisa terbilang langka namun bisa terjadi dan sayangnya, sulit terdiagnosa. Gejala SMAS cukup kompleks mulai dari mual, muntah, perut terasa kenyang berlebihan, sakit perut dan kembung yang bisa disertai oleh tanda-tanda lainnya yang tak menentu.

"Gejalanya sangat tidak spesifik dan tidak umum. Perlu beberapa tahun untuk mendiagnosa penyakit yang diderita pasien dan merawatnya secara tepat agar hasilnya baik," ujar Gabriel Pivawer, dokter osteopati dan radiologist di JFK Medical Center, seperti dikutip dari Women's Health.

Baca Juga: 50 Inspirasi Gaya Hijab Selebgram

Penyebab SMAS bisa dipicu oleh penurunan berat badan yang drastis atau terjadi trauma pada perut. Dijelaskan Truptesh Kothari, M.D., dokter kesehatan pencernaan, penderita skoliosis atau yang fitur tubuhnya sangat kurus juga berisiko terkena SMAS. Jika tidak segera diatasi dan dibiarkan terlalu lama, penderita bisa kehilangan nyawa.

"Penyakit dan kondisi malnutrisi ini telah merusak tubuhku. Aku tidak takut mati karena tidak ada kata itu dalam kamusku, setidaknya untuk saat ini," ujar Lisa kepada NewsNet5, yang akan tetap berjuang semampunya untuk sembuh dari penyakitnya.

Perawatan SMAS
Ada dua metode untuk mengatasi SMAS. Pertama adalah melalui endoskopi, yaitu memberi makanan lewat tuba yang dimasukkan lewat hidung ke usus hingga batas dimana terjadi penyempitan usus halus tersebut. Setelah enam bulan, pasien akan mulai naik berat badannya, menciptakan 'ruang' yang dibentuk oleh lemak sehingga tekanan pada usus berkurang.

Cara kedua adalah dengan pembedahan untuk memperbaiki penyempitan pada usus kecil. Meskipun langka dan sulit terdeteksi, Truptesh menyatakan bahwa SMAS adalah penyakit yang bisa disembuhkan.

(hst/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads