Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Liputan Khusus <i>AntiGravity</i> Yoga

Penderita Skoliosis Tak Boleh Latihan AntiGravity Yoga, Mitos atau Fakta?

wolipop
Jumat, 19 Sep 2014 18:32 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Alissa Safiera/Wolipop
Jakarta -

Sebagai salah satu aktivitas yang dapat memacu adrenalin, berolahraga nampaknya menjadi kegiatan mengasyikan yang dapat dilakukan sendiri maupun bersama-sama. Bagi Anda yang tidak terlalu gemar dengan kegiatan ini melakukan yoga nampaknya bisa menjadi salah satu pilihan yang tepat untuk berolahraga.

Dari berbagai jenis yoga yang diperkenalkan kepada publik umum, AntiGravity Yoga menjadi salah satu yang paling banyak diperbincangkan. Olahraga yang berfungsi untuk melatih pernapasan ini merupakan gabungan dari gerakan akrobatik yang juga mengadaptasi gerakan dalam pilates dan yoga. Uniknya, terdapat alat bantu seperti gantungan yang berfungsi untuk menopang tubuh sehingga gerakan yang dilakukan lebih maksimal.

Banyak orang yang mempercayai bahwa penderita skoliosis, yaitu kelainan pada tubuh berupa tulang belakang yang melengkung, sebaiknya tidak mengikuti AntiGravity Yoga. Mitos ini dibantah oleh para instruktur AntiGravity Yoga. Menurut Wihartantyo Ari Wibowo, latihan ini sebenarnya bagus untuk menyembuhkan penyakit skoliosis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di sini justru banyak member yang menderita skoliosis. Kalau dia benar-benar mau usaha dan sangat intensif latihannya, pasti bisa sembuh," ucapnya ketika diwawancara Wolipop, Selasa (16/09/2014) di Svarga Studio, Darmawangsa, Jakarta Selatan.

Ari juga menambahkan, untuk memperbaiki postur tubuh kembali ke bentuk semula bergantung dari seberapa parah posisi tulang yang tidak sejajar. Apabila sangat parah, penyembuhannya bisa lebih lama. Selain itu, tingkat kesembuhannya juga tergantung dari semangat dan usaha tiap invidu. Ia juga menyarankan untuk mengikuti AntiGravity Yoga dua kali dalam seminggu agar hasilnya lebih maksimal.

Sedangkan menurut Slamet Riyanto selaku instruktur AntiGravity Yoga di Celebirty Fitness, pada penderita skoliosis terdapat tulang belakang yang tidak simetris. Alat AntiGravity Yoga yaitu hammock yang berguna sebagai penopang tubuh dapat memberikan tumpuan pada pinggul dan membebaskan tulang belakang. Hal ini justru menimbulkan rasa nyaman karena tulang belakang tidak mendapat tekanan.

"Ketika kita berdiri, ada tekanan di tulang belakang. Jadi pada saat kita menarik napas, tulang belakang kita juga tertarik lebih panjang," tuturnya kepada Wolipop, Selasa (16/09/2014) di Celebrity Fitness Lifestyle X'nter, Sudirman, Jakarta Pusat.

Mitos lainnya adalah orang-orang yang mempunyai penyakit vertigo dan darah rendah tidak bisa melakukan latihan ini. Karena ada salah satu gerakan yang bernama inversion, yaitu posisi kepala berada di bawah dan kaki di atas. Gerakan ini dipercaya akan membuat penderitanya menjadi pusing.

Namun bapak tiga anak ini justru memperbolehkan orang-orang dengan kondisi seperti ini untuk mengikuti AntiGravity Yoga. "Biasanya awal-awal melakukan inversion kita pasti bantu. Posisi kepala dan jantung harus sejajar dulu dan didiamkan selama satu menit agar peredaran darahnya jalan. Baru dibalik pelan-pelan agar tidak pusing," jelasnya kemudian.

Ada juga yang mengatakan bahwa dengan melakukan AntiGravity Yoga dapat menambah tinggi badan. Mitos ini dibenarkan oleh kedua ahli di bidang yoga tersebut. "Berpotensi untuk bertambah tinggi tapi tidak terlalu signifikan, mungkin sekitar satu sampai dua sentimeter saja. Namun tidak permanen," ujar Ali diakhir perbincangan.

(aln/aln)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads