Liputan Khusus Masalah Miss V
Jenis-jenis Keputihan dan Cara Mengatasinya
Bagi kaum wanita, istilah keputihan atau vaginal discharge nampaknya sudah tidak asing lagi di telinga. Menurut data penelitian, sebanyak 75% wanita di Indonesia pernah mengalami keputihan setidaknya sekali dalam hidupnya. Dalam dunia kedokteran, terdapat dua jenis keputihan, yaitu keputihan normal dan tidak normal.
Salah satu ciri khas dari keputihan normal adalah keluarnya lendir yang sifatnya encer dan tidak berwarna atau jernih. Dalam keputihan normal juga tidak ada gejala-gejala seperti gatal, panas, atau perih.
Sedangkan sebaliknya, gejala-gejala dari keputihan yang tidak normal adalah lendir yang berwarna seperti putih susu, kekuningan atau kehijauan. Apabila terdapat perubahan warna, biasanya diikuti juga dengan rasa gatal, perih, panas dan mengeluarkan bau yang tidak sedap.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Vaginal swab itu mengambil sample keputihan lalu diperiksa di laboratorium dan diteliti penyebabnya. Biasanya berupa bakteri, jamur, protozoa atau virus. Setelah diketahui penyebabnya baru bisa diatasi," jelas Dr. Rezha kepada Wolipop, Rabu (27/8/2014)
Dokter kelahiran Palembang, 27 Mei 1978 ini juga mengatakan bahwa keputihan normal merupakan proses alami sehingga tidak memerlukan obat untuk menyembuhkannya. Tetapi lain halnya dengan keputihan yang tidak normal, setelah mengetahui sumber penyebabnya, barulah kita dapat mengobatinya.
Jika penyebabnya bakteri atau protozoa, dapat meminum obat antibiotik. Apabila jamur yang menjadi penyebabnya, dapat menggunakan obat anti jamur yang biasanya langsung dimasukkan atau dioleskan ke dalam vagina.
Selain itu terdapat juga obat kombinasi antara anti jamur dan anti bakteri. Seperti yang dijelaskan oleh Dr. Rezha, "Keputihan itu tidak cuma satu penyebab saja. Ada bakterinya juga, ada jamurnya juga, jadi multi faktor. Untuk mengobati keputihan ini memang susah-susah gampang. Kalau keputihan normal paling lama sekitar seminggu atau dua minggu, sedangkan keputihan yang tidak normal perlu penanganan yang lebih lama,” pungkas dokter tiga anak ini di akhir wawancara. (fer/aln)











































