Awas! Suara Blender dan Mesin Cuci Bisa Tingkatkan Risiko Sakit Jantung

Hestianingsih - wolipop Selasa, 18 Mar 2014 08:33 WIB
Dok. Thinkstock
Jakarta -

Kemacetan lalu lintas dan bisingnya lalu lalang kendaraan, belum lagi suara deru mesin dari pabrik atau pembangunan gedung menjadi salah satu faktor penyebab stres. Bukan hanya di luar ruangan, rumah yang kita tinggali sehari-hari pun berpotensi menimbulkan stres akibat polusi suara.

Penyebabnya tak lain datang dari perangkat di dalam rumah sendiri. Mulai dari blender, mixer sampai mesin cuci, rumah di zaman modern ini dipenuhi dengan peralatan rumah tangga yang menimbulkan suara-suara mengganggu.

Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan kalau suara-suara yang datang dari penggunaan alat rumah tangga elektronik bisa membuat penghuninya sakit. Ada satu dari lima orang yang dilaporkan mengalami tingkat stres yang lebih tinggi akibat hal tersebut.

Beberapa peralatan rumah tangga yang suara bisingnya paling mengganggu justru merupakan yang paling penting digunakan untuk mengurus rumah. Beberapa di antaranya mesin cuci, penyedot debu dan penyaring udara.

Berdasarkan World Health Organization (WHO), 40 persen populasi di Eropa terpapar suara berisik dengan level di atas 55dB. Artinya, rumah sama bisingnya dengan kantor yang sibuk.

Rata-rata mesin cuci mengeluarkan level suara hingga 70dB, kulkas 50dB dan pemroses makanan seperti mixer atau blender mencapai 90dB. WHO mengatakan tingkat suara berisik ini bisa mengganggu tidur, meningkatkan tekanan darah bahkan menaikkan risiko penyakit jantung.

Menurut survei yang dilakukan John Lewis, retailer produk rumah tangga terhadap 2000 orang dewasa di Inggris, 39 persen orang menghindari memakai alat berteknologi tinggi pada waktu-waktu tertentu karena suara berisik yang ditimbulkannya. Sementara itu hampir sepertiga orang kesulitan meredam atau mengurangi suara berisik dan setengah responden menganggap bunyi yang dihasilkan dari mesin jadi faktor penting saat memilih alat rumah tangga yang baik.

Suara dari produk rumah tangga berteknologi tidak hanya mengganggu kenyamanan. Seperempat orang yang disurvei juga mengaku suara-suara tersebut membuat mereka sulit berkonsentrasi.

"Kita tidak selalu sepenuhnya sadar seberaps besar suara memengaruhi kehidupan sehari-hari, dan kita biasanya baru sadar perbedaannya saat suara mengganggu itu dihilangkan, ujar Poppy Elliott, managing director yayasan amal dan NGO Quiet Mark, seperti dikutip dari Daily Mail.

Poppy menyarankan agar mengurangi suara-suara yang kurang penting dari penggunaan perangkat dan gadget di sekitar rumah. Tindakan kecil ini bisa membantu menjaga kesehatan baik secara jasmani maupun rohani.

(hst/eny)