ADVERTISEMENT

Nasib Maneken Baju di Bawah Kekuasaan Taliban, Wajah Harus Ditutup

Daniel Ngantung - wolipop Selasa, 17 Jan 2023 10:41 WIB
Kabul -

Ada pemandangan yang janggal di toko-toko pakaian di Kabul, Afganistan. Tak seperti toko pakaian pada umumnya, semua toko di sana memajang maneken tak berwajah.

Maneken di toko-toko tersebut, baik yang berbaju perempuan ataupun laki-laki, sebelumnya punya 'kehidupan' yang normal. Mereka bebas bersolek dengan wajah yang terpampang nyata.

Namun, semuanya berubah sejak Taliban mengambil alih kota Kabul pada Agustus 2021. Muncul aturan yang mengharuskan pemilik toko untuk menyingkirkan semua maneken atau setidaknya tampil tanpa kepala.

Mannequin's heads are covered in a wedding store in Kabul, Afghanistan, Monday, Dec. 26, 2022. Under the Taliban, the mannequins in women's dress shops across the Afghan capital Kabul are a haunting sight, their heads cloaked in cloth sacks or wrapped in black plastic bags. The hooded mannequins are one symbol of the Taliban's puritanical rule over Afghanistan (AP Photo/Ebrahim Noroozi)Penampilan maneken di salah satu toko pakaian di Kabul, Afganistan, pada Desember 2022. (Foto: AP Photo/Ebrahim Noroozi)

Menurut media lokal, sebagaimana dikabarkan Associated Press, aturan tersebut digagas oleh Kementerian Kebajikan, yang juga dikenal sebagai kementerian polisi moral Taliban. Mereka mengacu pada interpretasi terhadap Syariat Islam yang melarang adanya patung atau gambar manusia. Kehadiran mereka berpotensi menjadi berhala yang bisa disembah manusia.

Para pemilik toko sempat keberatan dengan keputusan tersebut karena dapat berdampak pada bisnis mereka. Membuat maneken yang seatraktif mungkin adalah salah satu cara mereka untuk menarik calon konsumen untuk berbelanja di toko mereka. Apalagi perekonomian di Kabul sedang melesu pascapendudukan Taliban.

"Beli gaun pernikahan, gaun malam, atau baju tradisional tidak lagi menjadi prioritas. Orang lebih memikirkan urusan perut dan cara bertahan hidup," ujar Bashir, seorang pedagang pakaian di Kabul.

TO GO WITH Afghanistan-US-war-anniversary-yuppies by-Usman SharifiIn this picture taken on September 27, 2011 an Afghan shopkeeper fixes Indian dresses on display at a shop in Kabul. Suasana toko pakaian di Kabul pada September 2011. Maneken kala itu bebas memperlihatkan wajahnya. (Foto: SHAH MARAI/AFP via Getty Images)

Akhirnya, pemerintahan Taliban melonggarkan aturan. Para pemilik toko tetap diperkenankan memajang maneken asalkan wajahnya tak terlihat.

Walau lega larangan maneken dibatalkan, Bashir dan pemilik toko lainnya harus tetap memutar otak demi mencari cara agar maneken di toko mereka tetap terlihat menarik.

"Saya tidak mau begitu saja menutup wajah maneken dengan plastik atau benda jelek lainnya karena akan merusak keindahan jendela toko," kata Bashir.

Mannequin's heads are covered in a wedding store in Kabul, Afghanistan, Monday, Dec. 26, 2022. Under the Taliban, the mannequins in women's dress shops across the Afghan capital Kabul are a haunting sight, their heads cloaked in cloth sacks or wrapped in black plastic bags. The hooded mannequins are one symbol of the Taliban's puritanical rule over Afghanistan (AP Photo/Ebrahim Noroozi) Foto: AP Photo/Ebrahim Noroozi

Untuk menyiasatinya, ia lantas menggunakan kain berbahan senada dengan pakaian yang dipajang untuk menutup wajah maneken. Lain lagi dengan Hakim yang justru mengandalkan bungkus makanan berbahan aluminium.

Efek mengilap dari lembaran tipis tersebut diyakininya dapat menarik perhatian orang yang lewat di depan tokonya. "Saya ingin mencoba memanfaatkan situasi ini sehingga maneken saya terlihat lebih atraktif dari biasanya," ujar Hakim.

Mannequin's heads are covered in a wedding store in Kabul, Afghanistan, Monday, Dec. 26, 2022. Under the Taliban, the mannequins in women's dress shops across the Afghan capital Kabul are a haunting sight, their heads cloaked in cloth sacks or wrapped in black plastic bags. The hooded mannequins are one symbol of the Taliban's puritanical rule over Afghanistan (AP Photo/Ebrahim Noroozi) Foto: AP Photo/Ebrahim Noroozi

Aziz, seorang pemilik toko baju lainnya, tak habis pikir ada aturan yang mengharamkan sebuah maneken. "Semua orang juga tahu fungsi maneken dan tidak ada yang mau menyembahnya. Di semua negara Muslim, maneken hanya dipakai untuk memajang pakaian," tegasnya.

Maneken di Kabul bebas didandani dengan baju apapun, mau itu dengan gaun terbuka yang mengekspos tangan, atau baju tertutup yang syar'i selama wajahnya ditutup. Maneken berbaju pria pun demikian, boleh tampil asalkan wajahnya tak terekspos.

"Saya seperti melihat diri saya di balik jendela toko-toko ini, seorang perempuan Afghanistan yang tak dijamin hak-haknya," ujar seorang konsumen.

(dtg/dtg)