ADVERTISEMENT

Edward Hutabarat Gelar Peragaan Kolosal di Borobudur, Dramatis Diguyur Hujan

Daniel Ngantung - wolipop Jumat, 02 Des 2022 05:22 WIB
Fashion show Edward Hutabarat A/W 2023 Peragaan 'Kabakil' karya Edward Hutabarat di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, pada Rabu (30/11/2022). (Foto: dok. Edward Hutabarat)
Magelang -

Hujan mengguyur kawasan Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, pada Rabu (30/11/2022) sore sejak pagi. Padahal tinggal beberapa jam lagi desainer Edward Hutabarat akan mempersembahkan peragaan kolosalnya di situs bersejarah tersebut.

Sampai tiba waktunya acara berkonsep terbuka itu digelar, hujan tak kunjung usai. Para model sudah siap melangkah, tamu-tamu sudah berdatangan dengan antusias meski harus berbasahan.

Hampir sejam acara mundur, hujan malah semakin deras. Tak ada pilihan lagi selain tetap melanjutkan peragaan koleksi Autumn/Winter 2023 itu.

Sosok perempuan muncul di atas kaki Candi Borobudur lalu menuruni anak tangga yang cukup curam lalu melangkah dengan pasti menerobos lebatnya hujan di catwalk berlantai bebatuan alam yang dibangun secara khusus untuk peragaan tersebut.

Fashion show Edward Hutabarat A/W 2023Izabel Jahja membuka fashion show Edward Hutabarat yang bertajuk 'Kabakil' di Candi Borobudur, Rabu (30/11/2022). (Foto: Dok. Edward Hutabarat)

Semakin dekat, terlihat perempuan yang membuka peragaan ini adalah model senior Izabel Jahja. Suasana terasa dramatis dan magis dengan panorama Candi Borobudur yang melatarbelakangi panggung, ditambah guyuran air hujan.

Fenomena alam yang berada di luar kuasa manusia tersebut justru menyempurnakan sebuah persembahan spesial Edward Hutabarat untuk merayakan peradaban Sumba yang luar biasa.

"Tadinya saya memang ingin membuat hujan buatan untuk mengiring langkah para tamu keluar usai acara. Tuhan justru memberikan saya yang asli," kata desainer yang akrab disapa Bang Edo itu, Kamis (1/12/2022).

Di peragaan bertajuk 'Kabakil' ini, Edo menyajikan deretan busana yang dibuatnya dari kain tenun karya perajin di Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Fashion Show Edward Hutabarat 'Kabakil' di Candi Borobudur, Rabu (30/11/2022).Hujan mengiringi langkah para model di peragaan 'Kabakil' persembahan Edward Hutabarat di Candi Borobudur, Rabu (30/11/2022). (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)

'Kabakil' menandai 20 tahun lamanya sejak Edo pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Sumba. Ia datang pada 2001 bersama Izabel Jahja untuk melakukan pemotretan.

Bak cinta pandangan pertama, pria yang telah menekuni profesi desainer selama 44 tahun ini langsung jatuh hati dengan keindahan alam Sumba, begitu pula dengan seni dan budayanya yang unik.

Perjalanan tersebut mengawali kunjungan-kunjungan berikutnya yang semakin memperluas pengetahuan Edo tentang khazanah budaya Sumba, terutama kain tenunnya.

Dalam lembaran kain, tergambar hubungan manusia dengan alam dan leluhurnya lewat corak-coraknya. Kain tersebut hadir sebagai penanda siklus kehidupan masyarakat Sumba, mulai dari kelahiran, perkawinan, hingga kematian.

Fashion Show Edward Hutabarat 'Kabakil' di Candi BorobudurPerajin kain khas Sumba menenun di Rumah Sumba yang didirikan di pelataran Candi Borobudur dalam rangkaian peragaan 'Kabakil' persembahan Edward Hutabarat. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)

"Saat peperangan terjadi, para tentara membungkus tubuhnya dengan kain Sumba berlapis-lapis sebagai perisai untuk melindungi diri dari tusukan tombak lawan," cerita Edo.

Lewat dokumentasi yang dibuatnya bersama sutradara Riri Riza, ia merekam momen para raja sebuah suku di Sumba yang wafat dibungkus dengan kain berlapis sebagai bentuk doa dan harapan rakyat bahwa pemimpin mereka sudah dalam dekapan sang pencipta.

Filosofi-filosofi tersebut yang semakin membuat Edo yakin bahwa kain-kain Sumba memiliki nilai yang tiada taranya. Belum lagi teknik tenun serta pewarnaan alam yang digunakan turut membuktikan sebuah peradaban yang lahir sejak manusia pertama menginjakkan kaki di Sumba.

Kain sebagai tanda sebuah peradaban juga terekam dalam relief-relief di Candi Borobudur yang kemegahannya mulai didirikan pada abad ke-8 SM. Terdapat sebuah pahatan yang menggambarkan seorang penenun dengan alat tenunnya. Bukan sebuah kebetulan jika Edo memilih Borobudur untuk mementaskan koleksi terbarunya.

Makna 'Kabakil'

Memilih tajuk 'Kabakil', Edo ingin mengajak khalayak untuk mengenal lebih dekat kain tenun khas Sumba yang memikat dengan warna-warna alamnya.

Kabakil merujuk pada teknik penyelesaian penenunan kain Sumba kain. Dalam proses ini, benang ditenun secara berlawanan dan dipelintir untuk menguncinya agar tidak lepas. Rumbai-rumbai yang menghiasi ujung setiap kain Sumba merupakan hasil kabakil.

Fashion show Edward Hutabarat A/W 2023Fashion show Edward Hutabarat A/W 2023 Foto: dok. Edward Hutabarat

Butuh keahlian khusus untuk menghasilkan kabakil yang rapi. "Itu mengapa keindahan sebuah tenun Sumba ditentukan dari kerapian kabakilnya," tambah perancang berdarah Batak ini.

Di tangan dingin Edo, kain tenun tersebut menjelma dalam ragam pilihan outerwear yang identik dengan musim dingin. Di jajaran busana wanita, luaran dalam potongan coat hingga blazer itu berpadu manis dengan kaftan, shirtdress, dan padanan atasan-rok maxi.

Fashion show Edward Hutabarat A/W 2023Koleksi Edward Hutabarat Autumn/Winter 2023 (Foto: Dok. Edward Hutabarat)

Cutting yang modern memberi keseimbangan sehingga busana tidak terkesan terlalu etnik. Pada koleksi busana siap pakai ini, Edo juga menyertai deretan busana pria yang juga didominasi oleh variasi luaran. Total hampir 70-an look yang dipersiapkannya.

Sesuai tajuknya, koleksi ini pun disertai lembaran kain yang dipermanis dengan kabakil. "Bila biasanya panjang kabakil hanya 1 cm, saya minta perajin membuatnya lebih panjang, sampai sekitar 10 cm, untuk memberi kesan yang modern," terang Edo.

Rumah Sumba

Usai peragaan, para tamu diajuk berkunjung ke Rumah Sumba yang letaknya tak jauh dari panggung catwalk. Bangunan bergaya rumah adat Sumba ini didirikan secara khusus untuk memamerkan koleksi sisa-sisa peradaban Sumba yang berhasil diarsipkan oleh Edo.

Tak cuma wastra, terdapat pula peralatan makan dan perlengkapan hantaran dari daun lontar hingga pandan kering yang digunakan masyarakat Sumba untuk para rajanya.

Fashion Show Edward Hutabarat 'Kabakil' di Candi BorobudurInstalasi Rumah Sumba pelataran di Candi Borobudur. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)

Beberapa di antaranya berasal dari Waikabubak di Sumba Barat dan Rende. Adapula yang dibuat oleh artisan dari Mbatakapidu, Waingapu.

"Di sini hanya mencakup 5 persen dari kekayaan budaya Sumba. Saya butuh 15 rumah adat lagi untuk menampung semuanya," kata Edo.

Terdapat pula instalasi yang memperlihatkan para mama artisan menenun kain atau membuat anyaman. Mereka didatangkan langsung dari Sumba dan hampir semuanya baru pertama kali bepergian dengan pesawat.


Peragaan Kabakil dan Rumah Sumba ini juga terwujud berkat dukungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek). Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid sangat mengapresiasi dedikasi Edo dalam upaya pelestarian warisan budaya Indonesia.

Fashion Show Edward Hutabarat 'Kabakil' di Candi BorobudurRumah Sumba di pelataran Candi Borobudur. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)

"Tentunya kegiatan seperti ini perlu terus didukung. Apalagi jika ada campur tangan seperti sosok Edward Hutabarat yang sangat peduli pada seni dan budaya, tak cuma karya seni tapi juga kesejahteraan masyarakat yang membuatnya," kata Hilmar.

Edo sendiri berharap, kehadiran koleksi busana 'Kabakil' serta instalasi Rumah Sumba dapat menginspirasi masyarakat luas, terutama kaum muda, agar semakin sadar bahwa Indonesia seperti yang disebutnya, "is the masterpiece of God". Bahwa Tuhan menciptakan alam dan budaya Indonesia dengan segala keunikan dan keindahannya yang tak dapat ditemui di negara lain.

Lebih dari itu, dalam memberikan inspirasi, Edo menemukan jati diri yang sebenarnya sebagai manusia. "Yang saya cari adalah berbagi apa yang saya lakukan dulu. Dengan usia yang semakin bertambah, energi semakin berkurang. Namun saat melihat arsip-arsip 20 tahun lalu, spirit saya untuk berbagi bangkit kembali. Good energy is a good blend, ditambah restu dari semesta," katanya.



Simak Video "Potret Jokowi Beli Sepatu Kets Corak Tenun di Bali"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)