ADVERTISEMENT

Membuat Tenun Batak, Pekerjaan Hati Artisan yang Harus Jago Matematika

Daniel Ngantung - wolipop Selasa, 19 Jul 2022 11:00 WIB
Pembuatan Kain Tenun Batak di Jabu Borna Tobatenun Perajin tenun Batak mitra Tobatenun menggunakan alat gedogan untuk menenun di Jabu Bonang, Pematangsiantar, Sumatera Utara. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)
Pematangsiantar -

Acapkali terdengar orang-orang mengeluhkan harga kain tradisional yang dianggap terlalu 'mahal'. Kalau suka mengapresiasi sesuatu dari tampilan dari luar saja, mungkin kita akan melontarkan keluhan yang sama. Padahal, kain tersebut bukan sembarang dibuat karena melibatkan hati, ketelitian dan keahlian berhitung, seperti tenun berperwarnaan alami karya perajin di tanah Batak.

Tak hanya ulos, tenun Batak yang dibuat dengan teknik ikat sangat beragam tergantung daerah pembuatannya. Kalau di Karo, ada kain uis. Sementara di Pakpak, kain tradisionalnya disebut oles. Lain lagi di Simalungun yang memiliki kain hiou.

Para partonun atau perajin tenun khas Batak menenun dengan alat bernama gedogan yang sudah digunakan sejak zaman leluhur.

"Menariknya setiap daerah punya gedogan yang berbeda-beda. Makanya hasilnya bisa berbeda-beda," ungkap Fatimah Rangkuti, seorang spesialis tekstil Tobatenun, saat ditemui Wolipop baru-baru ini di Jabu Bonang Pematangsiantar, Sumatera Utara.

Didirikan oleh Kerri Na Basaria pada 2018, Tobatenun memiliki misi, salah satunya, melestarikan wastra khas Sumatera Utara dengan cara yang lebih ramah lingkungan dan melibatkan ekosistem hulu ke hilir.

Pembuatan Kain Tenun Batak di Jabu Borna TobatenunPembuatan Kain Tenun Batak di Jabu Bonang, Tobatenun. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)

Jabu Borna sendiri merupakan rumah komunitas untuk mewadahi pembinaan penenun mitra Tobatenun yang kebanyakan kaum perempuan mengingat upaya pemberdayaan perempuan dan kesetaraan upah juga menjadi fokusnya.

Saat ini, Tobatenun telah bermitra dengan 200 perajin yang tersebar di dua kota dan lima kabupaten, seperti Medan, Siantar, Toba, Labuhan Batu Utara, Tapanuli Utara, Samosir, dan Dairi.

Kembali ke pembuatan tenun ikat khas Batak, Fatimah menjelaskan, proses tersebut dimulai dengan penghanian seperti tenun-tenun pada umumnya di Indonesia.

"Jadi dalam tekstil adalah benang lungsin dan pakan. Lungsin itu benang yang lurus. Kalau pakan, benang yang diatur untuk membuat motif. Hani adalah proses memasang benang-benang lungsin," ujarnya.

Ada 1.200 Benang dalam Satu Kain Tenun

Usai dihani, kain lungsin dan pakan diikat untuk masuk ke tahap pencelupan ke pewarnaan alami. Setelah mendapat warna yang diinginkan, benang disusun dan dirapikan dengan gedogan.

Para partonun meyakini, keindahan sebuah kain tenun ditentukan oleh komposisi benang. Mereka pun memiliki rumus tersendiri untuk menghitung benang-benang agar terjalin dan membentuk kain yang diinginkan.

"Dalam satu kain, biasanya ada kurang-lebih 1.200 helai benang lungsin. Kalau lupa hitung, ukurannya jadi beda. Apalagi kalau kita main ikat. Kalau hitung ikatnya salah, ya sudah berantakan," kata Fatimah. Satu kain biasanya memiliki panjang sekitar satu meter dan 80 cm.

Pembuatan Kain Tenun Batak di Jabu Borna TobatenunRia Manulang, partonun mitra Tobatenun, saat membuat tenun menggunakan ATBM (alat tenun bukan mesin) di Jabu Borna. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)

Di Samosir, tambah Fatimah, perajin melakukan pengkajian benang sebelum penggedogan agar benang tidak putus. Mengkaji harus dilakukan pada pagi hari agar selesai dalam satu hari. "Kalau lewat satu hari, kaji tidak meresap dengan baik di benang. Jadinya akan susah ditenun," jelasnya.

Keragaman tersebut menggambarkan betapa beragamnya keahlian para partonun dalam menghasilkan sebuah kain tenun. "Itu adalah tugas Jabu Bonang, bagaimana membuat produk sesuai kemampuan penenun tanpa diforsir dan mengembangkan skill mereka, kuat di mana," ungkap Fatimah.

Belum Bisa Disebut Ulos Kalau...

Teknik menjahit juga diaplikasikan jika ada tiga kain tenun yang disatukan. Berarti pembuatannya membutuhkan proses tiga kali penenunan dan melibatkan tiga penenun. Jangan protes, jika kain ini dihargai lebih 'mahal'.

Tahap terakhir, merapikan rumbai pada ujung kain atau selendang dengan cara disirat. Berbeda dari obras, sirat dimaknai sebagai 'pengunci' yang jahitannya membentuk motif tanda panah. Beberapa adat Batak meyakini, sebuah selendang pantas disebut ulos jika memiliki sirat.


"Kalau tidak ada sirat, kami menyebutnya selendang kreasi. Kalau pemakaian ulos lebih untuk seremoni, selendang kreasi khusus dibuat untuk fashion goods atau dekorasi," kata Fatimah.

Pembuatan Kain Tenun Batak di Jabu Borna TobatenunSirat atau 'pengunci' pada ujung kain ulos karya partonun mitra Tobatenun. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)

Chief Operating Officer Tobatenun Melvi Tampubolon mengatakan, menenun adalah pekerjaan hati. Dengan proses pembuatan yang begitu panjang hingga sebulan lebih (belum termasuk riset dan pembuatan warna dari bahan alami yang ramah lingkungan), mustahil bagi perajin tenun untuk menghasilkan kain yang indah tanpa kesabaran dan craftsmanship yang tinggi.

Itu mengapa, katanya, penenun sudah sepatutnya dianggap sebagai artisan. Di luar itu, mereka juga jagonya berhitung. "Untuk membuat motif pada pakan penenun harus mampu menentukan berapa lidi yang digunakan untuk membuat motif yang diinginkan. Oleh karena itu, penenun harus paham konsep perkalian, penjumlahan, pengukuran, geometri, transformasi geometri dan konsep logika matematika," ujar Melvi.

Masih mau protes kain tradisional mahal?



Simak Video "Jerit Perajin Dibalik Keindahan Kain Ulos Khas Batak"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)