ADVERTISEMENT

Jabu Borna, Upaya Tobatenun Mengembalikan Pewarnaan Alam Warisan Leluhur

Daniel Ngantung - wolipop Jumat, 15 Jul 2022 15:30 WIB
Pewarnaan Alami di Jabu Borna Tobatenun Benang dengan pewarnaan alami kreasi tim Tobatenun di Jobu Borna, Pematang Siantar, Sumatera Utara. (Foto: Daniel Ngantung/Wolipop)
Medan -

Jauh sebelum peradaban modern mulai mencari cara menyelamatkan lingkungan atas ulahnya sendiri, para leluhur sudah melakoni perilaku kehidupan yang berdampingan dengan alam. Salah satunya tercermin dari keindahan wastra Nusantara hasil pewarnaan alami, seperti tenun Batak.

Sebelum ulos berwarna sintetis merajalela, para perajin kain tenun Batak sudah mengenal metode pewarnaan alam untuk benangnya. Namun, metode tersebut mulai ditinggalkan seiring perkembangan zaman. Permintaan kain semakin meningkat tapi tak sebanding dengan kapasitas produksi karena proses pewarnaan yang panjang. Situasi tersebut membuat para partonun (perajin kain Batak) beralih ke benang berpewarnaan kimiawi.

Padahal, dampak limbahnya sangat berbahaya bagi kelangsungan ekosistem di sekitarnya. Belum lagi, kualitas kain juga menurun yang berujung pada kurangnya apresiasi masyarakat terhadap wastra sebagai warisan budaya.

Kondisi tersebut yang akhirnya memotivasi Tobatenun untuk mempopulerkan kembali metode penenunan yang bertanggung jawab, dimulai dari material dan penenun, sebagai salah satu misinya sejak didirikan oleh aktivis perempuan Kerri Na Basaria pada 2018.

Pendiri Tobatenun Kerri Na Basaria, Anak Luhut Binsar PanjaitanPendiri Tobatenun Kerri Na Basaria Foto: Dok. Pribadi

Baru mulai beroperasi dua tahun kemudian, Tobatenun telah mengembangkan berbagai tenun tradisional Batak maupun tenun bermotif kontemporer secara noneksploitatif dengan pewarnaan alam sehingga tak merusak lingkungan. Jangkauannya dari hulu ke hilir.

Untuk memperkuat komitmennya, Tobatenun mendirikan Jabu Borna. Berlokasi di Desa Tanjung Pinggir, Pematangsiantar, Sumatera Utara, Jabu Borna menjadi tempat khusus tim produksi Tobatenun mewarnai benang untuk tenun dengan material alami.

Proses pewarnaan alam di Jabu Borna yang didirikan Tobatenun di Pematang Siantar, Sumatera Utara.Proses pewarnaan alam di Jabu Borna yang didirikan Tobatenun di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Foto: Daniel Ngantung/Wolipop

Sebelumnya, pewarnaan dilakukan di Jabu Bonang, rumah komunitas penenun Tobatenun di perbatasan kota Pematangsiantar. Namun, tempatnya sangat terbatas untuk mencukupi permintaan benang dengan pewarnaan alami yang kian meningkat.

"Setahun terakhir ini, produksi benang kami mencapai 1 juta ton, sementara tempat di Jabu Bonang sudah tidak memadai lagi untuk pewarnaan sesuai dengan permintaan yang begitu banyak. Maka itu hadir Jabu Borna," ujar COO Tobatenun Melvi Tampubolon saat peresmian Jabu Borna, Jumat (15/7/2022).

Jabu Borna, yang dalam bahasa Batak berarti rumah pewarnaan, berdiri di atas lahan seluas 500 meter persegi. Selain rumah, terdapat halaman luas yang dimanfaatkan untuk pengolahan limbah. Pembangunannya terbilang cepat, kurang dari setahun, demi memenuhi kebutuhan pasar.

Proses pewarnaan alam di Jabu Borna yang didirikan Tobatenun di Pematang Siantar, Sumatera Utara.Proses pewarnaan alam di Jabu Borna yang didirikan Tobatenun di Pematang Siantar, Sumatera Utara. (Foto: Daniel Ngantung/Wolipop)

Melvi mengatakan, banyak pelaku usaha lokal yang mengeluhkan harga benang pewarnaan yang mahal. Biasanya, benang yang mereka beli hasil dari proses produksi yang berpindah-pindah dari satu ke daerah lain di pulau Jawa sebelum akhirnya dikirim ke perajin Sumatera Utara.

"Kami berusaha memperpendek rantai pasar untuk menekan production cost supaya harga jual kain tenun Batak bisa lebih bersaing," tambah perempuan 40 tahun itu.

Meski belum ideal, lanjutnya, Jabu Borna diharapkan bisa meringankan beban para mitra tenun. "Menenun adalah pekerjaan hati. Menenun sendiri sudah menguras energi para partonun karena prosesnya yang cukup lama. Kalau pasokan benang aman, tentu mereka akan lebih tenang dalam berkarya. Tenun yang dihasilkan pun berkualitas," terang Melvi.

Sampai ini, Tobatenun telah menciptakan 32 warna dari 10 bahan-bahan alami seperti kulit johar, kulit mahoni, dan jolawe. Warna akan bertambah lagi seiring riset yang konsisten dilakukan oleh Tobatenun.



Simak Video "Jerit Perajin Dibalik Keindahan Kain Ulos Khas Batak"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/eny)