ADVERTISEMENT

Melihat Proses Pewarnaan Alami Tenun Batak, Ciptakan 32 Warna

Daniel Ngantung - wolipop Minggu, 17 Jul 2022 11:00 WIB
Pewarnaan Alami di Jabu Borna Tobatenun Proses pewarnaan alami di Jabu Borna yang didirikan Tobatenun di Pematangsiantar, Sumatera Utara. (Foto: Daniel Ngantung/Wolipop)
Pematangsiantar -

Konsep fashion berkelanjutan yang ramah lingkungan sebenarnya sudah dikenal sejak zaman leluhur dengan peninggalan wastranya yang terbuat dari pewarnaan alami. Di Jabu Borna, tumbuhan diramu untuk mewarnai benang sebelum menjadi tenun Batak yang indah tanpa mengintervensi alam di sekitarnya.

Berada di Desa Tanjung Pinggir, Pematangsiantar, Sumatera Utara, Jabu Borna didirikan oleh PT Toba Tenun Sejahtra (Tobatenun) sebagai salah satu bentuk komitmennya memperkuat ekosistem tenun Batak dan para pelaku usaha di dalamnya dengan mengedepankan proses produksi yang ramah lingkungan yang sempat ditinggalkan.

Dalam bahasa Batak, jabu berarti 'rumah', sementara borna adalah 'warna'. "Kami menyebutnya rumah pewarnaan alami," ujar COO Tobatenun Melvi Tampubolon saat peresmian Jabu Borna, Kamis (14/7/2022).

Proses pewarnaan alam di Jabu Borna yang didirikan Tobatenun di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Jabu Borna, rumah pewarnaan alami yang didirikan Tobatenun, di Pematangsiantar, Sumatera Utara, diresmikan, Kamis (14/7/2022). (Foto: Daniel Ngantung/Wolipop)

Jabu Borna menyusul Jabu Bonang di perbatasan kota Pematangsiantar. Dulu, proses pewarnaan alami berlangsung di Jabu Bonang yang lebih difungsikan sebagai tempat pembinaan para partonun (penenun) untuk pemberdayaan perempuan.

Namun, lokasi tersebut tak memadai lagi karena permintaan benang berperwarnaan alami semakin tinggi. Lalu hadirlah Jabu Borna, yang fokusnya mencakup riset pewarna alami, serat alami, penyediaan benang celup bagi ekosistem tenun, serat pengolahan limbah yang tepat dan ramah lingkungan.


Bahan Baku

Proses pewarnaan alam di Jabu Borna yang didirikan Tobatenun di Pematang Siantar, Sumatera Utara.Proses pewarnaan alam di Jabu Borna yang didirikan Tobatenun di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Foto: Daniel Ngantung/Wolipop

Proses pembuatan warna alami di Jabu Borna dimulai dari riset bahan baku yang mumpuni. Saat ini, Tobatenun menggunakan 10 tumbuhan, di antaranya jolawe (Terminalia bellirica), tingi (Ceriops tagal), kayu jior (Senna siemea), dan kayu merr (Arcangelisia flava).

"Untuk saat ini, hampir semua bahan baku kami dapatkan dari pulau Jawa karena hanya di sana yang tersedia. Kecuali johar yang dipasok dari Samosir," kata Natural Dye Project Officer Tobatenun Agus Handoyo.

Ia menambahkan, masih banyak tanaman yang berpotensi untuk dijadikan pewarna sehingga warna yang dihasilkan lebih bervariasi. "Namun, perlu riset lebih lanjut untuk memastikannya," tutur Agus.


Proses Pembuatan Warna dari Bahan Alami

Salah satu alasan metode pewarnaan alami ditinggalkan perajin karena prosesnya yang panjang sehingga tak dapat memenuhi permintaan pasar. Mereka lalu beralih ke pewarnaan kimiawi yang dampak limbahnya sangat berbahaya bagi kelangsungan ekosistem di sekitarnya.

"Tantangan pewarnaan alam adalah hasil warnanya bisa beda-beda walau dipegang satu tangan dengan takaran yang sama. Di sisi lain, itu bisa jadi keunikan tersendiri," ungkap Agus.

Dengan masyarakat yang berangsur sadar terhadap lingkungan, Tobatenun berupaya mengakomodasi kebutuhan partonun akan benang hasil pewarnaan alami di Jabu Borna.

Lantas, seperti apa alur proses pewarnaan benang dan serat alami di Jabu Borna?

1. Material berupa tumbuhan direbus menggunakan air bersih dengan takaran maksimal 1:10 selama kurang lebih dua jam sampai material pewarnaan mengeluarkan ekstraknya secara maksimal.

2. Benang disiapkan untuk proses pencelupan. Benang tersebut berbahan katun, serat alam, sutra atau rayon. "Polyester tidak digunakan karena daya serapnya jelek," kata Agus.

3. Sebelum dicelup, benang berbahan katun harus melalui proses pencucian dengan menggunakan cairan TRO. Adapun benang sutra dan serat alami direbus dengan tawas. Setelah itu, benang harus dibilas hingga bersih.

Pewarnaan Alami di Jabu Borna TobatenunPewarnaan Alami di Jabu Borna Tobatenun (Foto: Dok. Tobatenun)

4. Masuk ke proses pencelupan benang ke larutan pewarna. Benang biasanya dicelup hingga 25-30 kali, tergantung ketebalan warna yang diinginkan. Jika sudah sesuai, warna lalu 'dikunci' dengan kapur sirih atau tawas sebelum dibilas.

5. Benang lalu dijemur secara rapi. Proses penjemuran cukup diangin-anginkan dan tidak perlu di bawah matahari secara langsung agar warna tidak pecah.


32 Warna Hasil Kreasi Tobatenun

Sejak beroperasi pada 2020, Tobatenun yang dibesut oleh aktivis perempuan Kerri Na Basaria telah berhasil menemukan 32 warna yang terbuat dari 10 bahan baku tersebut. Dengan kehadiran Jabu Borna, riset pencarian warna bisa lebih fokus lagi sehingga menghasilkan warna yang lebih bervariasi.

Salah satu warna hasil kreasi Tobatenun adalah Cabarnet (menyerupai merah marun) yang dihasilkan dari kombinasi tingi, secang, indigofera, kapur. Lalu Mimosa (kuning temaram), hasil campuran ketapang, merr, dan tawas.

"Bahasa warnanya mengikuti penamaan color tone yang berlaku di industri fashion," kata Melvi. Berikut 10 dari 32 warna hasil pewarnaan alam Tobatenun:

Pewarnaan Alami di Jabu Borna TobatenunSepuluh warna dari 32 warna yang diciptakan Tobatenun dari bahan-bahan alami. (Foto: Dok. Tobatenun)

Agus mengungkapkan, dari semua warna, hitam dan merah sangat sulit dibuat. "Untuk per kilo benangnya, proses pewarnaan butuh 3-5 hari," katanya.

Warna tersebut sangat diminati karena merupakan ciri khas ulos Batak. "Apalagi sekarang kami juga melakukan revitalisasi kain tenun Batak kuno yang warnanya kebanyakan hitam dan merah," tambahnya.



Simak Video "Jerit Perajin Dibalik Keindahan Kain Ulos Khas Batak"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)