ADVERTISEMENT

Samudra Hartanto, Mantan Desainer LV yang Populerkan Batik di Paris

Hanifa Widyas - wolipop Jumat, 24 Jun 2022 15:59 WIB
Samudra Hartanto Foto: Istimewa
Jakarta -

Karya desainer asal Malang Samudra Hartanto tengah menarik perhatian di ajang pembukaan ajang Java in Paris. Ia menampilkan beberapa karyanya, yakni blouse, rok, dan dress batik yang mengusung konsep tradisional.

Saat pembukaan acara Java in Paris, Samudra merancang busana yang mengusung konsep ready to wear dengan mempertimbangkan nilai historis pada kain batik. Ia memilih motif batik yang biasa digunakan untuk pernikahan adat Jawa. Menurutnya, mengaitkan Paris yang dikenal sebagai the city of love dengan pernikahan sebagai esensi wujud cinta adalah pilihan yang tepat.

"Sebagian besar masyarakat di luar negeri lebih senang menggunakan produk khas asal negara lain karena cerita dan histori. Mereka akan senang membaca informasi mengenai makna suatu motif dan bagaimana proses pembuatannya, tidak sekadar model pakaian," jelas Samudra, dikutip Jumat (24/6/2022).

Ia menjelaskan konsep batik ready to wear dipilih agar bisa mendekatkan batik hingga dapat digunakan sehari-hari oleh masyarakat Paris.

"Saat sedang merancang, saya berpikir menjadikan batik sebagai motif pakaian yang tidak hanya untuk masyarakat Indonesia saja, tetapi juga warga Paris di sini. Saya mencoba mengomunikasikan batik lawas ini menjadi bisa dipakai oleh remaja dan kaum muda di sini," kata pria yang kini tinggal di Le Marais, Paris.

Samudra Hartanto, Mantan Desainer LVSamudra Hartanto, mantan Desainer LV dari Malang (Foto: Istimewa)


Unsur yang dipilih dalam rancangan busana batiknya adalah unsur warna tanah dari beberapa motif yang biasa dipakai untuk acara formal. Samudra berhasil menyulap batik dengan motif yang kental akan nilai warisan budaya menjadi pakaian yang dapat dinikmati serta menarik perhatian sejumlah warga yang tinggal di pusat mode fesyen dunia itu. Samudra mengaku karyanya mendapat respons positif dari masyarakat Paris.

"Beberapa dari mereka mengatakan suka untuk memakai rok kain batik buatan saya yang baru saja dibeli di BHV Marais. Mereka sebenarnya cukup mengetahui Indonesia memiliki batik. Namun, mereka tidak menyangka bahwa kain batik Indonesia bisa digunakan untuk pakaian sehari-hari di Paris," jelas Samudra.

Samudra mengatakan ajang Java in Paris ini merupakan momen yang tepat untuk mempromosikan batik kepada warga Paris.

"Selain itu, masyarakat Eropa sangat menyukai budaya. Mereka akan antusias mencari tahu jika sudah tertarik pada suatu budaya sehingga dari pakaian batik ini sekaligus dapat mempromosikan budaya dari negeri tempat kelahiran saya. Saya berharap warga Paris tertarik berkunjung dan berlibur ke Indonesia," jelasnya.

Ia berharap dapat terus berkontribusi memperkenalkan Indonesia melalui fesyen di kota pusat mode dunia itu.

"Saya memiliki banyak rencana ke depan untuk menunjukkan ciri khas motif dan budaya Indonesia yang bisa saya sesuaikan dengan fesyen di sini. Semoga ke depannya kolaborasi yang membawa budaya dan produk lokal Indonesia terus berlanjut," ujarnya.

Arek Malang di Pusat Fesyen Dunia

Samudra Hartanto, Mantan Desainer LVSamudra memutuskan untuk bersolo karier semenjak tahun 2020 dengan menjadi konsultan mode (Foto: Istimewa)

Sebagai informasi, Samudra Hartanto merupakan desainer busana asal Indonesia yang bekerja untuk Louis Vuitton sejak 1997. Sejak kecil, ia sudah menyukai dunia fesyen hingga memutuskan untuk berkuliah di di Royal College of Art, London.

Awal mula Samudra bekerja sama dengan Louis Vuitton adalah perkenalannya dengan Marc Jacobs. Siapa sangka, perkenalan tersebut membuat dirinya diangkat menjadi salah satu asisten desainer Marc Jacobs yang saat itu sedang mempersiapkan koleksi perdananya untuk rumah mode Louis Vuitton. Ini menjadi awal karirnya sebagai perancang busana setelah lulus tahun 1996.

Tidak hanya Louis Vuitton, Samudra juga pernah bekerja sebagai asisten desainer di Hermès saat perancang mode asal Paris, Jean Paul Gaultier, menduduki posisi direktur kreatif pada tahun 2003. Ia kemudian bergabung dengan rumah mode milik sang desainer saat Jean Paul Gaultier meninggalkan Hermès.

"Saya sangat menyukai fashion, dan sebenarnya saya ingin kembali ke Tanah Air setelah lulus. Namun, ternyata saya langsung direkomendasi ke Kota Paris. Saya berpikir itu merupakan kesempatan emas saya untuk berkarya di kota pusat mode dunia. Saat itu, saya hanya merencanakan akan dua tahun di sana. Ternyata, sudah hampir 23 tahun saya terlibat dalam karya-karya fashion brand dunia," ungkapnya.

Ia mengaku banyak mendapat pelajaran selama bekerja dengan beberapa brand ternama asal dunia, salah satunya pemahaman mengenai sejarah.

"Saya selalu ditekankan untuk mengenal sejarah sebelum menciptakan karya. Sejarah inilah yang dijadikan sebagai dasar dalam menciptakan busana. Hal inilah yang masih saya bawa hingga saat ini," jelas Samudra.

Samudra memutuskan untuk bersolo karier semenjak tahun 2020 dengan menjadi konsultan mode dan mengerjakan berbagai proyek personal. Kiprahnya dalam bersolo karier membawanya terpilih sebagai salah satu desainer dalam pameran Java in Paris yang merupakan kolaborasi dari Pemerintah Kota Solo, Shopee Indonesia, dan KBRI di Paris.

Ajang Java in Paris merupakan pameran UMKM Indonesia yang digelar di department store ternama, Le BHV Marais di Paris, Prancis pada 8 Juni 2022 lalu. Perhelatan #ShopeeJAVAinPARIS ini diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Solo dan Shopee Indonesia ini bertujuan membawa produk UMKM lokal ke kancah dunia ini.

Adapun beberapa desainer ternama selain Samudra ikut menampilkan rancangan terbaiknya dalam acara tersebut, di antaranya Denny Wirawan serta Andika Pramudya dan Satria Soewiryo dari brand Ansoe.



Simak Video "Yuk Intip Pameran Batik Karya Anak Sekolah di Ciamis!"
[Gambas:Video 20detik]
(ncm/eny)