Lika-Liku Bisnis Baju Batik, Sulit Cari perajin Sampai Kehabisan Bahan Baku
Belakangan, bermunculan jenama (merek) fashion lokal yang menawarkan pakaian batik bergaya kekinian. Menjalankan bisnis tersebut ternyata tak mudah, terlebih karena urusan bahan baku batik yang terbatas ketika permintaan konsumen sedang tinggi-tingginya.
Setidaknya demikian yang dialami Lalua, label besutan dua sahabat, Merry Putrian dan Rencany Indra Martani. Mereka mendirikan Lalua pada pertengahan 2020, tepatnya saat pandemi COVID-19 mulai melanda.
Awalnya, Lalua lahir dari keprihatinan mereka terhadap nasib para perajin batik di Pekalongan, Jawa Tengah, yang kehilangan lapangan kerja sebagai dampak bisnis produsen dan rumah batik yang terpuruk akibat wabah virus Corona.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Merry dan Rencany akhirnya menggandeng perajin batik cap yang pernah bekerja untuk usaha batik milik keluarga temannya.
Menurut keduanya, membuat koleksi busana dari batik cap susah-susah gampang. Awalnya, mereka berpikir pembuatan batik cat tak serumit batik tulis. Namun, praktik di lapangan mengatakan sebaliknya.
Pendiri Lalua, Rencany Indra Martani dan Merry Putrian (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Salah satu tahapan yang cukup menantang adalah pewarnaan. Warna yang dihasilkan sangat bergantung pada intensitas sinar matahari saat proses penjemuran kain.
"Jadi sering kali hasil akhirnya nggak sesuai yang diinginkan. Misal mau warna coklat tua, tapi jadinya coklat yang terang," ujar Rencany saat berbincang dengan Wolipop baru-baru ini.
Meski dibuat dengan teknik cap, jumlah kain yang bisa diproduksi tetap terbatas. Alhasil, Merry dan Rencany sempat kewalahan karena tidak bisa memenuhi permintaan konsumen yang meningkat.
Tantangan lain adalah menemukan perajin yang terbuka dengan desain motif baru. Banyak perajin yang mereka temui ternyata sudah memiliki standarisasi motif tersendiri dan enggan menerima permintaan di luar 'pakem' tersebut.
"Dari proses itu kita belajar, masih banyak yang bisa diolah, asal ada kemauan saja untuk belajar walaupun sedikit. Sayang sih, Indonesia padahal kaya banget warisan budayanya," ungkap Merry.
Saat ini, bahan baku Lalua dipasok dari tiga perajin yang berada di Pekalongan dan Bali. Masing-masing 'supplier' memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Di Bali, kata mereka, perajinnya cakap dan lebih adaptif dengan permintaan desain yang baru. Namun, permainan para 'broker' membuat harga bahan baku di sana cenderung lebih mahal.
Beruntung, kedua pendiri Lalua ini mempunyai strategi tersendiri. "Dalam berbisnis, pendekatan pertemanan harus diterapkan. Kami mengakrabkan diri dengan owner-nya. Kebetulan, dia juga sangat baik," kata Merry.
(dtg/dtg)
Health & Beauty
Mykonos Hawaiian Crush Extrait de Parfum, Parfum Wangi Tropis yang Bikin Mood Naik!
Elektronik & Gadget
Airbot X40 Master, Robot Vacuum Super Pintar untuk Rumah Bersih Tanpa Ribet!
Health & Beauty
Secret Garden Extrait de Parfum, Wangi Mewah yang Tahan Lama dan Bikin Kesan Lebih Berkelas!
Health & Beauty
Rambut Lebih Halus & Anti Ngembang, Ini 3 Hair Care Andalan untuk Rambut yang Susah Diatur!
Demi Totalitas Akting, Kate Hudson Rela Nggak Skincare-an dan Naik BB 7 Kg
Rihanna Gandeng Anak Elon Musk Jadi Model Lingerie untuk Koleksi Valentine
Tas Belanja Kanvas Ini Jadi Rebutan Dunia, Ada yang Dijual Rp 160 Juta
Jaket Nicolas Maduro saat Ditangkap Jadi Sorotan, Viral Diburu Netizen
Deretan Perhiasan Mewah di Karpet Merah Critics' Choice Awards 2026
Gaya Berani Sydney Sweeney di Pemotretan Terbaru, Tubuh Emas Tanpa Busana
Potret Piper Rockelle, Mantan Influencer Cilik Gabung OnlyFans Jadi Kontroversi
Demi Totalitas Akting, Kate Hudson Rela Nggak Skincare-an dan Naik BB 7 Kg
50 Ucapan Selamat Tidur Bahasa Inggris Romantis, Bikin Pacar Senyum Meleleh












































Pendiri Lalua, Rencany Indra Martani dan Merry Putrian (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)