ADVERTISEMENT

Lika-Liku Bisnis Baju Batik, Sulit Cari perajin Sampai Kehabisan Bahan Baku

Daniel Ngantung - wolipop Jumat, 21 Jan 2022 13:15 WIB
Lallua Koleksi Cahaya Koleksi Lalua, jenama lokal yang menggarap batik cap. (Foto: Dok. Lalua)
Jakarta -

Belakangan, bermunculan jenama (merek) fashion lokal yang menawarkan pakaian batik bergaya kekinian. Menjalankan bisnis tersebut ternyata tak mudah, terlebih karena urusan bahan baku batik yang terbatas ketika permintaan konsumen sedang tinggi-tingginya.

Setidaknya demikian yang dialami Lalua, label besutan dua sahabat, Merry Putrian dan Rencany Indra Martani. Mereka mendirikan Lalua pada pertengahan 2020, tepatnya saat pandemi COVID-19 mulai melanda.

Awalnya, Lalua lahir dari keprihatinan mereka terhadap nasib para perajin batik di Pekalongan, Jawa Tengah, yang kehilangan lapangan kerja sebagai dampak bisnis produsen dan rumah batik yang terpuruk akibat wabah virus Corona.

Merry dan Rencany akhirnya menggandeng perajin batik cap yang pernah bekerja untuk usaha batik milik keluarga temannya.

Menurut keduanya, membuat koleksi busana dari batik cap susah-susah gampang. Awalnya, mereka berpikir pembuatan batik cat tak serumit batik tulis. Namun, praktik di lapangan mengatakan sebaliknya.

Rencany Indra Martani & Merry PutrianPendiri Lalua, Rencany Indra Martani dan Merry Putrian (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)

Salah satu tahapan yang cukup menantang adalah pewarnaan. Warna yang dihasilkan sangat bergantung pada intensitas sinar matahari saat proses penjemuran kain.

"Jadi sering kali hasil akhirnya nggak sesuai yang diinginkan. Misal mau warna coklat tua, tapi jadinya coklat yang terang," ujar Rencany saat berbincang dengan Wolipop baru-baru ini.

Meski dibuat dengan teknik cap, jumlah kain yang bisa diproduksi tetap terbatas. Alhasil, Merry dan Rencany sempat kewalahan karena tidak bisa memenuhi permintaan konsumen yang meningkat.

Tantangan lain adalah menemukan perajin yang terbuka dengan desain motif baru. Banyak perajin yang mereka temui ternyata sudah memiliki standarisasi motif tersendiri dan enggan menerima permintaan di luar 'pakem' tersebut.

"Dari proses itu kita belajar, masih banyak yang bisa diolah, asal ada kemauan saja untuk belajar walaupun sedikit. Sayang sih, Indonesia padahal kaya banget warisan budayanya," ungkap Merry.

[Gambas:Instagram]



Saat ini, bahan baku Lalua dipasok dari tiga perajin yang berada di Pekalongan dan Bali. Masing-masing 'supplier' memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.


Di Bali, kata mereka, perajinnya cakap dan lebih adaptif dengan permintaan desain yang baru. Namun, permainan para 'broker' membuat harga bahan baku di sana cenderung lebih mahal.

Beruntung, kedua pendiri Lalua ini mempunyai strategi tersendiri. "Dalam berbisnis, pendekatan pertemanan harus diterapkan. Kami mengakrabkan diri dengan owner-nya. Kebetulan, dia juga sangat baik," kata Merry.



Simak Video "Wanita Indonesia Ini Konsisten Kenalkan Batik ke Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)