Uniqlo Hadirkan Doraemon Tak Lagi Warna Biru Tapi Hijau, Ini Alasannya

Daniel Ngantung - wolipop Selasa, 23 Mar 2021 05:30 WIB
Uniqlo Gandeng Doraemon Lagi Kolaborasi baru Uniqlo dan Doremon (Foto: Dok. Uniqlo)
Tokyo -

Uniqlo dan Doraemon kembali berkolaborasi. Kali ini bukan dalam bentuk koleksi kaus seperti sebelumnya, untuk sebuah tujuan baik demi menjaga kelestarian lingkungan.

Doraemon secara resmi menjadi duta global untuk kampanye sustainability milik Uniqlo. Merek fashion asal Jepang ini mengumumkan kemitraan baru tersebut dalam sebuah acara virtual di Tokyo, Jepang, Senin (22/3/2021).

Koji Yanai, Group Senior Executive Officer Fast Retailing, mengatakan sudah hampir 20 tahun Uniqlo melakukan banyak inisiatif terkait keseimbangan ekologi (sustainability). Upaya tersebut akan terus berlanjut dengan membawa pesan 'Mengubah masa depan kita melalui kekuatan pakaian'.

Untuk menyampaikan pesan tersebut ke khalayak, Uniqlo menggandeng Doraemon, karakter manga Jepang yang eksis sejak 50 tahun lalu dan telah mendunia. "Diharapkan, Doraemon bisa membawa pesan ini secara lintas generasi," katanya.

Kolaborasi ini juga diikuti oleh perubahan warna logo, dari merah ke hijau. Begitu pula Doraemon, yang dulunya berwarna biru, kini ikut menghijau. Doraemon versi hijau ini pun mendapat julukan baru, 'Doraemon Sustainability Mode'.

Selain Doraemon, kampanye ini juga melibatkan Haruka Ayase sebagai LifeWear Special Ambassador dan Global Ambassador lainnya seperti petenis Roger Federer, Kei Nishikori, Shingo Kunieda, Gordon Reid, Ayumu Hirano, dan Adam Scott.

Uniqlo Gandeng Doraemon Lagi(Foto: Dok. Uniqlo)

Lewat kegiatan ini, Uniqlo tampaknya juga tengah berusaha menghilangkan citra buruknya sebagai pelaku industri fast fashion. Sudah bukan rahasia lagi, sektor fashion menjadi salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia dan sebagian besar dari industri fast fashion yang memproduksi barang fashion secara massal.

Tahun lalu, Uniqlo telah meluncurkan program Re.Uniqlo yang bertujuan mendaur ulang pakaian bekas. Upaya lain adalah memproduksi jeans dengan menggunakan air seminimal mungkin.

"Ke depan, kami tak ingin disebut lagi sebagai perusahaan fast fashion," kata Koji.

(dtg/dtg)