Hari Batik Nasional

Yang Muda Yang Berbatik, Kisah Dea Valencia Sukses Bisnis Batik Sejak Remaja

Gresnia Arela Febriani - wolipop Rabu, 02 Okt 2019 09:27 WIB
Foto: Gresnia Arela/Wolipop Foto: Gresnia Arela/Wolipop

Jakarta - Hari Batik Nasional diperingati setiap 2 Oktober. Pada peringatan Hari Batik Nasional 2019 ini kisah anak-anak muda yang melestarikan batik dengan berbisnis batik bisa jadi inspirasi kamu untuk ikut melestarikan budaya bangsa. Salah satu anak muda itu adalah Dea Valencia pemilik merek Batik Kultur yang omzetnya sudah ratusan juta.

Dea Valencia sukses membangun bisnis batiknya, Batik Kultur, dari yang awalnya hanya dengan satu penjahit di sudut garasi rumah orangtuanya hingga kini memiliki 120 karyawan dan bermitra dengan lebih dari 200 pengrajin. Dea menjadi sosok yang menginspirasi karena merintis bisnis batiknya dengan melibatkan penyandang difabilitas seperti tuna rungu, tuna wicara dan tuna daksa. Pada 2017, dia pun mendapatkan penghargaan Young Heroes dari program Kick Andy.

Dea mengatakan dirinya tidak pernah secara khusus mencari atau merekrut penyandang disabilitas tersebut. "Berjalan natural saja. Begitu ada yang melamar kerja dari disabilitas, saya rekrut. Lalu yang tadinya ada 15-20%. Sekarang malah bertambah sebanyak 50% dari total karyawan saya adalah para penyandang disabilitas," ungkap wanita 25 tahun itu.

Pemilik nama lengkap Dea Valencia Budiarto itu mulai berbisnis batik sejak usia 17 tahun. Saat itu, Dea yang mengikuti program akselerasi sejak SD, sudah duduk di bangku kuliah semester empat Universitas Multi Media Nusantara.

[Gambas:Instagram]

"Awal mulanya aku berbisnis batik dengan menjual koleksi kain batik punya ibu aku. Dari hasil penjualan tersebut, digunakan untuk modal bisnis aku sendiri," ceritanya dalam wawancara dengan Wolipop beberapa waktu lalu.

Penyandang gelar Sarjana Komputer itu mendirikan brand Batik Kultur dengan memproduksi kain batik lawas yang dimodifikasi menjadi busana untuk sehari-hari. Dengan konsep sederhana itu, Dea meraih kesuksesan.

Kain-kain yang digunakan untuk baju batiknya diproduksi secara handmade. Untuk motif batik, yang digunakannya adalah motif asli Pekalongan, Solo dan Cirebon.

Dea mengaku awalnya dia sama sekali tidak pernah terpikir untuk berbisnis seperti yang sekarang dijalankannya. Tuntutan ekonomi lah yang membuatnya harus berpikir kreatif untuk mencari tambahan uang. Saat menjual koleksi batik orangtuanya, dia mulai belajar bagaimana caranya berbisnis dan memperdalam pengetahuan mengenai filosofi batik.

" The more I understand about the history, values, and the intricate process of Batik making, aku mulai jatuh cinta pada batik dan muncul ide untuk berjualan baju dari batik 'lawasan' yang tidal sempurna," tutur wanita yang pernah terpilih menjadi bintang kampanye POND'S itu.


Simak Video "Presiden Jokowi dan Ibu Iriana Asyik Membatik di Solo"
[Gambas:Video 20detik]
(ami/ami)