Cinta Kain Indonesia, Dokter Australia Koleksi Seribuan Tenun dan Batik

Daniel Ngantung - wolipop Rabu, 11 Jul 2018 15:51 WIB
Pengunjung mengamati tenun di pameran Encounters with Bali: A Collectors Journey di Museum Tekstil Jakarta. (Foto: Daniel Ngantung/Wolipop) Pengunjung mengamati tenun di pameran 'Encounters with Bali: A Collector's Journey' di Museum Tekstil Jakarta. (Foto: Daniel Ngantung/Wolipop)

Jakarta - Keindahan wastra Nusantara mencuri perhatian seorang pensiunan dokter asal Australia. Saking cintanya, dia bahkan mengoleksi hampir seribu kain tradisional Indonesia sejak 30 tahun lalu.

Dialah dr. John Yu AC, pria Australia keturunan China yang hampir 50 tahun lebih mendedikasikan diri sebagai dokter anak. Di tengah kesibukannya sebagai dokter sekaligus rektor sebuah universitas di Australia dulu, John rupanya hobi mengoleksi benda-benda antik, salah satu langka kain langka Indonesia. Setelah pensiun, ia pun masih menekuni hobinya.

Baca Juga: Foto: Intip Tenun Indonesia Berusia Ratusan Tahun Milik Kolektor Australia

Dr. John Yu, kolektor kain tenun dan batik asal Australia. Koleksinya kini hampir mencapai seribuan kain.Dr. John Yu, kolektor kain tenun dan batik asal Australia. Koleksinya kini hampir mencapai seribuan kain. (Foto: Daniel Ngantung/Wolipop)
Kecintaan John pada wastra Nusantara bermula dari perburuan di sebuah toko barang antik di Sydney, Australia, sekitar tiga dekade lalu. Sebuah kain tenun bernuansa kebiruan dari Sawu, Nusa Tenggara Timur, yang dijual toko tersebut menarik perhatiannya. Bagai cinta pada pandangan pertama, ia dibuat terpesona oleh warna indigo alaminya, serta motif yang menyerupai ikan.

Sejak itu, John mulai rajin berburu kain tenun Indonesia di toko-toko antik dan balai pelelangan di Australia. Tiga tahun setelah momen cinta pertamanya, John bersama rekannya, mendiang dr George Bryce Soutter AM, lalu melancong ke Bali untuk mencari kain incarannya. Ia lalu mengeskplor ke penjuru lainnya di negeri ini, terutama kawasan timur Indonesia.

Baca Juga: Oscar Lawalata Bicara Potensi Batik Bisa Eksis di Pasar Eropa

Tenun dari Sawu, NTT, ini merupakan wastra yang pertama kali dibeli oleh John.Tenun dari Sawu, NTT, ini merupakan wastra yang pertama kali dibeli oleh John. F(oto: Daniel Ngantung/Wolipop)
Dan kini, sebagian kecil dari hasil perburuan tersebut dipamerkan di Museum Tekstil Jakarta dalam sebuah ekshibisi bertajuk 'Encounters with Bali: A Collector's Journey' pada 11 Juli - 5 Agustus 2018. Sebanyak 63 kain dari seluruh penjuru Nusantara milik John dan George dipamerkan, mulai dari tenun geringsing khas Bali hingga tapis dari Lampung.

Kain tenun dari Sawu yang merupakan cinta pertama John pun termasuk dalam koleksi pameran ini. "Ibarat anak, sungguh sulit memilih kain terfavorit dari koleksi saya. Tapi anak pertama selalu terasa spesial karena di situlah momen Anda menjadi orangtua. Begitu pula perasaan saya pada kain ini," ujar pria kelahiran 1934 ini jelang acara pembukaan pameran, Selasa (10/7/2018).

Deretan kain tersebut hanya segelintir dari koleksi John yang jumlahnya sudah mencapai hampir seribuan. Koleksi tersebut didominasi oleh tenun, hanya seratus di antaranya batik. "Sekitar 600-700 saya simpan di rumah, lalu tiga ratus saya pinjamkan ke museum untuk dipamerkan," jelas John.

Koleksi tenun milik John dipamerkan di Museum Tekstil Jakarta hingga 5 Agustus mendatang.Koleksi tenun milik John dipamerkan di Museum Tekstil Jakarta hingga 5 Agustus mendatang. (Foto: Daniel Ngantung/Wolipop)
Bagi pria yang mengaku pecinta seni rakyat ketimbang high-art ini, mengoleksi kain antik bukan soal komersial atau investasi. Kepuasan pribadi serta pengalaman untuk memerolehnya yang menjadi tujuan utama John sebagai kolektor kain. Maka ketika ditanya berapa total nilai koleksinya, John sulit untuk mengestimasinya.

Tak heran bila ia dengan senang hati 'menyumbangkan' beberapa koleksinya kepada museum selama kain dapat dijaga dengan baik. Seperti yang dilakukan mantan rektor Universitas New South Wales ini di Museum Tekstil Jakarta. Ini adalah kali pertama kain-kain tersebut dipamerkan di luar Australia.

"Impian saya adalah mengembalikan kain-kain ini untuk dipamerkan lagi di tempat asalnya. Lewat pameran ini, saya ingin orang Indonesia tahu bahwa budaya mereka sangat dihargai betul oleh orang luar. Jadi Anda seharusnya bangga," kata John.
(dtg/dtg)