'Barbie' Berbaju Batik, Kurang Dilirik Orang Indonesia Tapi Disukai WNA

- wolipop Kamis, 16 Apr 2015 15:49 WIB
Foto: Arin Yundira/Wolipop
Jakarta -

Lusia Efriani, seorang socialpreneur asal Batam menciptakan replika boneka Barbie yang didesain dengan ciri khas budaya Indonesia, yaitu dengan batik. Di balik boneka-bonekanya yang dia namakan Batik Girl, wanita yang akrab disapa Lusi itu memiliki misi kemanusiaan di dalamnya.

Lusi membuat Batik Girl dengan memberdayakan narapidana wanita yang ada di Lembaga Pemasyarakatan Batam dan Jakarta. Tujuannya pun bukan mencari keuntungan namun digunakan untuk program kemanusiaan pembinaan anak jalanan, penderita HIV/AIDS, para mantan narapidana sampai orangtua tunggal.

Seluruh hasil penjualan boneka yang dibuat pada 2013 itu didedikasikan untuk amal lewat yayasan yang didirikannya, Cinderella From Indonesia Center. Produk yang disebutnya kualitas premium itu pun dijual dengan harga terjangkau Rp 100 ribuan.

Namun diakui Lusi, menjual boneka untuk amal justru jauh lebih sulit diterima pasar Indonesia, dibanding di luar negeri atau kaum ekspatriat yang ada di sini. Walaupun boneka buatan lokal ini telah didesain dengan kualitas yang tak kalah bagus dari Barbie aslinya keluaran Mattel.

"Peminatnya kebanyakan ekspatriat. Beberapa kali saya ikut pameran 4-5 hari di Jakarta yang pengunjungnya Indonesia semua. Dibanding saya ikut pameran yang isinya bule semua, itu pendapatan satu hari sama kayak di Indonesia 4-5 hari pameran," ungkap Lusi, CEO Batik Girl dan Cinderella From Indonesia Center saat berbincang dengan Wolipop di Gado-gado Boplo Menteng, Rabu (15/4/2015).

Kaum ekspatriat justru menganggap boneka yang kental dengan nuansa budaya ini adalah hal menarik. Penjualan boneka diakui Lusi lebih berkembang di negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, bahkan Amerika dan juga Australia. Menurutnya, pasar Indonesia masih banyak mengarah ke negeri barat jika bicara tentang kualitas. Padahal buatan lokal tak kalah bagusnya.

"Saya sudah bandingkan kalau Barbie asli Rp 800 ribuan, kalau ini saya pilih kualitas premium, handmade, satu boneka satu dan ekspatriat justru bilang ini murah sekali. Apalagi karena ada charity. Sayang di Indonesia hanya sebagian orang yang peduli dengan penjualan amal ini," tambah Lusi.

(als/eny)