Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Tips Merawat Koleksi Batik Tua dari Ahli Tekstil Amerika

Alissa Safiera - wolipop
Kamis, 09 Apr 2015 18:35 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Alissa Safiera/Wolipop
Jakarta -

Keindahan batik tampaknya tak akan lekang di makan waktu. Namun jika tidak dirawat dengan baik, tentu keindahan itu pun bisa berkurang. Entah karena warna yang pudar, atau noda dan jamur yang sulit dihilangkan. Julia Brennan, seorang konservator tekstil ternama asal Amerika pun memberi sedikit tips bagi Anda yang memiliki koleksi batik puluhan tahun. Seperti apa?

1. Jangan Disimpan di Tempat Lembab
Ahli tekstil yang berbasis di Washington DC ini mengingatkan untuk menyimpan batik denga baik, yaitu di tempat kering. Udara yang lembab akan membuat kain batik berjamur. "Jangan disimpan di ruangan dekat kamar mandi," ujarnya saat berbincang dengan Wolipop di Museum Tekstil, Jakarta Pusat, Kamis (9/4/2015).

2. Jangan Dilipat
Untuk menghemat tempat, tak jarang yang menyimpan koleksi kain batik dengan cara dilipat di lemari. Namun menurut Julia, melipat justru dapat meninggalkan bekas garis permanen. Ia menyarankan untuk menyimpan koleksi kain di sebuah pipa PVC karena tidak mengandung asam yang dapat meninggalkan noda pada kain.

 

Baca Juga: 50 Momen Menghebohkan dari Pekan Mode Dunia

3. Tidak Diletakkan di Atas Kayu
Kayu mengandung asam yang dapat merusak warna dan meninggalkan noda pada koleksi batik Anda. Untuk mengatasinya, Anda bisa melapisinya terlebih dulu dengan kertas koran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

4. Jangan Pakai Deterjen
Bersihkan koleksi kain batik dengan sangat hati-hati. Julia menyarankan untuk menggunakan bahan tradisional seperti lerak. Hindari penggunaan deterjen karena kandungannua terlalu kuat dan dapat memudarkan warna asli batik.

5. Bangga Memakai Batik
Terakhir Julia mengingatkan agar masyarakat Indonesia bangga memakai batiknya sendiri. Karya batik yang sangat indah dengan segala proses yang rumit.

"Di Amerika, banyak dari mereka tak tahu tentang budaya tekstilnya dan lama-lama itu menghilang. Aku harap itu tak akan terjadi di Indonesia. Jadi kalian pakailah, selamatkan dan bangga akan itu. Itulah kenapa aku di sini," tutupnya.

(asf/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads