3 Desainer Lokal Fashion Show di Atas Sawah Tercemar Limbah
Alissa Safiera - wolipop
Minggu, 22 Mar 2015 13:05 WIB
Jakarta
-
Jika biasanya fashion show digelar di panggung mewah atau hotel berbintang, kali ini 3 desainer lokal menyelenggarakannya secara berbeda, yaitu di sawah. Bukan tanpa alasan, melainkan demi tujuan menyuarakan industri fashion yang ramah lingkungan.
Bertepatan dengan hari air sedunia, tiga desainer ternama Indonesia, Lenny Agustin, Felicia Budi dan satu mahasiswa sekolah mode Binus, Indita Karina bersama organisasi Greenpeace akan menampilkan karyanya di atas lingkungan sawah yang tercemar limbah industri tekstil. Runway pun dibangun di atas lahan persawahan masyarakat di kawasan Rancaekek, Kabupaten Bandung yang telah puluhan tahun terkena pencemaran parah industri tekstil.
"Kita berkolaborasi dengan semangat eco fashion. Kita ingin menunjukkan sebenarnya ada solusi bahwa pencemaran yang parah seperti ini bisa dihentikan. Ini bagian kampanye dari Greenpeace global, yaitu Detox yang telah menggeser para brand untuk mulai ramah lingkungan. Fashion itu identik dengan keindahan seharusnya tidak boleh mencemari lingkungan publik," ujar juru kampanye Detox Greenpeace, Ahmad Ashov Birry di Desa Rancaekek, Bandung, Minggu (22/3/2015).
Pemilihan sawah di daerah Rancaekek ini pun dipilih karena telah bertahun-tahun menimbulkan dampak negatif dari industri tekstil kepada masyarakat sekitar. Berdasarkan data yang dihimpun Greenpeace, lebih dari 1.200 ha tanaman padi tercemar oleh limbah industri yang menyebabkan kerugian sampai 3,65 miliar per tahun.
Kembali ke acara fashion show, di atas sawah tercemar itu para model menampilkan karya-karya tiga desainer yang disebut memiliki semangat eco fashion. Lenny Agustin misalnya, dengan koleksi batik yang memakai teknik pewarnaan alam sehingga minim bahan kimia berbahaya. Untuk koleksinya kali ini, Lenny memanfaatkan rontokan daun jati sampai limbah kulit buah manggis.
Kemudian ada pula 3 busana putih dari Felicia Budi. Felicia kembali menawarkan koleksi yang ia tampilkan di Jakarta Fashion Week 2015 yang berlangsung 2014 lalu. Ada tekstur kertas yang membuat karyanya terlihat unik.
Terakhir adalah mahasiswa sekolah mode Binus yang menampilkan busana dari potongan-potongan kain perca. Semangat eco fashion tak hanya ditampilkan lewat daur ulang, namun juga penggunaan katun organik. Untuk memberi tekstur dan struktur pada busananya, sang desainer pun menghadirkan bahan poplin yang konstruktif sebagai padanannya.
Seluruh model memakai masker, sepatu boot dan payung yang menambah drama bagi pagelaran kali ini. Mereka juga membawa spanduk, yang di antaranya bertuliskan 'Fashion Indah Tidak Merusak Lingkungan'. Tak lain, hal itu dilakukan demi memberi gambaran bahwa industri mode tak seharusnya menjadi 'musuh' bagi lingkungan.
"Di dunia fashion, konsumen adalah penentu penggerak industri. Kuasa ada di tangan konsumen. Kita bisa menuntut perusahaan fashion untuk menggunakan cara yang lebih ramah lingkungan dalam menciptakan tekstil mereka," tutur Felicia Budi dalam pernyataan resminya.
(asf/kik)
Bertepatan dengan hari air sedunia, tiga desainer ternama Indonesia, Lenny Agustin, Felicia Budi dan satu mahasiswa sekolah mode Binus, Indita Karina bersama organisasi Greenpeace akan menampilkan karyanya di atas lingkungan sawah yang tercemar limbah industri tekstil. Runway pun dibangun di atas lahan persawahan masyarakat di kawasan Rancaekek, Kabupaten Bandung yang telah puluhan tahun terkena pencemaran parah industri tekstil.
"Kita berkolaborasi dengan semangat eco fashion. Kita ingin menunjukkan sebenarnya ada solusi bahwa pencemaran yang parah seperti ini bisa dihentikan. Ini bagian kampanye dari Greenpeace global, yaitu Detox yang telah menggeser para brand untuk mulai ramah lingkungan. Fashion itu identik dengan keindahan seharusnya tidak boleh mencemari lingkungan publik," ujar juru kampanye Detox Greenpeace, Ahmad Ashov Birry di Desa Rancaekek, Bandung, Minggu (22/3/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kembali ke acara fashion show, di atas sawah tercemar itu para model menampilkan karya-karya tiga desainer yang disebut memiliki semangat eco fashion. Lenny Agustin misalnya, dengan koleksi batik yang memakai teknik pewarnaan alam sehingga minim bahan kimia berbahaya. Untuk koleksinya kali ini, Lenny memanfaatkan rontokan daun jati sampai limbah kulit buah manggis.
Kemudian ada pula 3 busana putih dari Felicia Budi. Felicia kembali menawarkan koleksi yang ia tampilkan di Jakarta Fashion Week 2015 yang berlangsung 2014 lalu. Ada tekstur kertas yang membuat karyanya terlihat unik.
Terakhir adalah mahasiswa sekolah mode Binus yang menampilkan busana dari potongan-potongan kain perca. Semangat eco fashion tak hanya ditampilkan lewat daur ulang, namun juga penggunaan katun organik. Untuk memberi tekstur dan struktur pada busananya, sang desainer pun menghadirkan bahan poplin yang konstruktif sebagai padanannya.
Seluruh model memakai masker, sepatu boot dan payung yang menambah drama bagi pagelaran kali ini. Mereka juga membawa spanduk, yang di antaranya bertuliskan 'Fashion Indah Tidak Merusak Lingkungan'. Tak lain, hal itu dilakukan demi memberi gambaran bahwa industri mode tak seharusnya menjadi 'musuh' bagi lingkungan.
"Di dunia fashion, konsumen adalah penentu penggerak industri. Kuasa ada di tangan konsumen. Kita bisa menuntut perusahaan fashion untuk menggunakan cara yang lebih ramah lingkungan dalam menciptakan tekstil mereka," tutur Felicia Budi dalam pernyataan resminya.
(asf/kik)
Health & Beauty
Secret Garden Extrait de Parfum, Wangi Mewah yang Tahan Lama dan Bikin Kesan Lebih Berkelas!
Health & Beauty
Rambut Lebih Halus & Anti Ngembang, Ini 3 Hair Care Andalan untuk Rambut yang Susah Diatur!
Hobbies & Activities
Main Badminton Lebih Stabil, Ini Rekomendasi 3 Shuttlecock yang Nyaman Dipakai Latihan Rutin
Hobbies & Activities
American Tourister Argyle Cabin 20 Inch jadi Solusi Ringkas dan Aman untuk Travel Singkat
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Deretan Perhiasan Mewah di Karpet Merah Critics' Choice Awards 2026
5 Tren Sepatu 2026 yang Bakal Booming, Terinspirasi Runway Dunia
Kontroversi Boots Rama Duwaji di Pelantikan Mamdani, Dianggap Terlalu Mewah
Hermes Birkin Dijual di Department Store, Tanda Pergeseran Dunia Luxury?
130 Tahun Monogram Louis Vuitton: Sejarah, Inovasi, dan Warisan Abadi
Most Popular
1
Ramalan Zodiak 8 Januari: Capricorn Harus Tegas, Pisces Hadapi Tantangan
2
Tips Styling Dasi untuk Gaya Kasual, Diprediksi Jadi Tren Fashion 2026
3
Momen Miley Cyrus Ngomel ke Fotografer, Disuruh Lepas Kacamata di Red Carpet
4
Penampilan Terbaru Vidi Aldiano Bikin Pangling, Kini Berkumis Tebal
5
Kate Middleton Jadi Korban Kekejaman AI, Tersebar Gambar Sensual
MOST COMMENTED











































