Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Viral Eks Dosen ITB Sukses Bisnis Laundry Unik, Nyuci Pakai Sampah Buah!

Gresnia Arela Febriani - wolipop
Rabu, 17 Jun 2026 08:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Tanpa deterjen kimia, wanita ini olah sampah buah jadi eco enzym untuk bisnis laundry. Formula nabati ini bikin air sisa cucian aman dipakai siram tanaman.
Tanpa deterjen kimia, wanita ini olah sampah buah untuk bisnis laundry. Formula nabati ini bikin air sisa cucian aman dipakai siram tanaman. Foto: Dok. Instagram @house_ofherbs & @nanta2208..
Tangerang -

Viral kisah inspiratif mantan dosen sekaligus alumni Magister Teknik Industri ITB bernama Anantasari, S.Si., MT., yang sukses membuka bisnis laundry unik tanpa deterjen kimia konvensional. Anantasari menggunakan sabun ramah lingkungan untuk bisnis laundry tersebut.

Lewat akun Instagram miliknya, @nanta2208, wanita yang aktif sebagai penggerak lingkungan ini membagikan inovasinya dalam memanfaatkan sabun cair eco enzym buatan sendiri untuk operasional laundry. Menariknya, laundry yang berlokasi di Bintaro Sektor 3A, Tangerang, Banten ini tidak hanya efektif membersihkan pakaian, tetapi juga menghasilkan air sisa cucian yang aman dan bisa langsung digunakan kembali untuk menyiram tanaman.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

[Gambas:Instagram]

ADVERTISEMENT

Rahasia di balik formula ramah lingkungan ini terletak pada kombinasi antara eco enzym mandiri dan MES (Methyl Ester Sulfonate). Ananta menjelaskan bahwa MES merupakan surfaktan anionik alias bahan aktif pembersih yang diekstrak langsung dari minyak nabati. Karena berbasis bahan alami, zat ini menjadi jauh lebih mudah terurai oleh alam dan meminimalkan limbah kimia berbahaya yang biasanya mencemari sumber air.

Cairan eco enzym berasal dari sampah kulit buah jeruk, nanas dan sisa sampah buah lainnya. Penggunaan eco enzym yang diracik sendiri oleh Ananta ini terbukti tidak hanya ampuh mengangkat kotoran di pakaian, melainkan juga memangkas biaya operasional secara signifikan sehingga bisnisnya menjadi jauh lebih hemat dan berkelanjutan.

Tanpa deterjen kimia, wanita ini olah sampah buah jadi eco enzym untuk bisnis laundry. Formula nabati ini bikin air sisa cucian aman dipakai siram tanaman.Tanpa deterjen kimia, wanita ini olah sampah buah jadi eco enzym untuk bisnis laundry. Formula nabati ini bikin air sisa cucian aman dipakai siram tanaman. Foto: Dok. Instagram @house_ofherbs & @nanta2208.

Dampak positif dari inovasi ini rupanya tidak berhenti di mesin cuci saja. Cairan eco enzym serbaguna buatan Ananta ternyata juga bisa diaplikasikan untuk keperluan rumah tangga lain, seperti sabun mandi, pencuci piring, hingga cairan pembersih lantai.

Bagi masyarakat yang tertarik untuk mengikuti jejaknya dan beralih ke gaya hidup minim limbah, ia kerap membagikan ilmunya secara online. Selain itu masyarakat juga bisa datang ke kediamannya untuk belajar cara membuat sabun eco enzym sendiri, demi mewujudkan lingkungan yang lebih hijau dari rumah masing-masing.

Unggahan inovasi bisnis laundry ramah lingkungan tersebut viral mencuri atensi warganet yang ingin mencoba eco enzym.

"Bikin eco enzym nya gmn?" tanya pengguna Instagram @3.ahmad2024.

"Bole tau bu,. Kapan lg ada kelas onlinenya?" penasaran akun @ellyana_k.

"Ada kelas online?" timpal akun @nur_epi7.


Konfirmasi Wolipop

Tanpa deterjen kimia, wanita ini olah sampah buah jadi eco enzym untuk bisnis laundry. Formula nabati ini bikin air sisa cucian aman dipakai siram tanaman.Tanpa deterjen kimia, wanita ini olah sampah buah jadi eco enzym untuk bisnis laundry. Formula nabati ini bikin air sisa cucian aman dipakai siram tanaman. Foto: Dok. Instagram @house_ofherbs & @nanta2208.


Saat dihubungi oleh Wolipop, wanita yang bernama Anantasari ini menceritakan kisah di balik unggahannya yang viral tersebut. Di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, ia kini fokus mengelola UMKM laundry ramah lingkungan miliknya yang diberi nama Binatu Koe. Ananta mengungkapkan bahwa bisnis ini lahir dari sebuah keresahan pribadi yang mendalam terhadap kelestarian ekosistem di sekitar tempat tinggalnya.

"Ide awal pemakaian sabun ini karena panggilan hati untuk tidak semakin mencemari lingkungan sekitar, khususnya selokan. Karena limbah air cucian dialirkan langsung ke selokan," ungkap Ananta kepada Wolipop.

Berangkat dari niat tulus tersebut, Ananta mulai memproduksi sendiri eco enzyme sebagai bahan dasar pembersih pakaian di setian pencucian. Guna menghasilkan formula yang seimbang, ia memadukan cairan fermentasi alami tersebut dengan surfaktan nabati.

Tanpa deterjen kimia, wanita ini olah sampah buah jadi eco enzym untuk bisnis laundry. Formula nabati ini bikin air sisa cucian aman dipakai siram tanaman.Tanpa deterjen kimia, wanita ini olah sampah buah jadi eco enzym untuk bisnis laundry. Foto: Dok. Instagram @house_ofherbs & @nanta2208.


Bagi masyarakat awam, istilah eco enzyme mungkin masih terdengar asing. Ananta menjelaskan bahwa cairan ini sebenarnya memanfaatkan bahan-bahan yang biasanya berakhir di tempat sampah, seperti sisa sayur dan buah yang masih segar. Proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan karena melibatkan masa fermentasi hingga berbulan-bulan dengan rumus perbandingan yang sangat spesifik.

"Eco enzyme adalah cairan fermentasi limbah kulit buah ataupun bonggol sayur yang masih segar. Rumusan pembuatannya adalah satu bagian gula (bisa gula merah, gula tebu, molase atau tetes tebu), tiga bagian bahan atau limbah organik yang masih segar, dan sepuluh bagian air (bisa air tanah, sumur, air hujan, atau air buangan AC). Dicampurkan semua dan difermentasi selama 90 hari atau 3 bulan," papar alumnus ITB tersebut secara mendetail.

Meski menggunakan formula yang tidak biasa, langkah inovatif yang diambil oleh Ananta ini mendapatkan respons yang sangat positif dari lingkungan sekitarnya. "Sejauh ini tidak bermasalah," tambah Ananta mengenai reaksi para tetangga dan warga sekitar terhadap operasional Binatu Koe.

Meskipun mengusung konsep go-green dengan bahan premium hasil racikan sendiri, tarif jasa yang ditawarkan oleh Binatu Koe tetap bersaing dan ramah di kantong masyarakat. Untuk layanan kiloan, usaha ini mematok tarif Rp 8.000 per kilogram untuk jasa cuci sekaligus setrika. Jika pelanggan hanya membutuhkan jasa cuci lipat atau setrika saja, tarif yang dikenakan jauh lebih ekonomis, yakni hanya Rp 6.000 per kilogram.

Selain layanan kiloan, Binatu Koe juga menerima pencucian jenis satuan untuk pakaian tertentu, bedcover, selimut, hingga gorden. Guna memberikan pelayanan terbaik, operasional laundry ini mengandalkan sistem drop off serta layanan antar-jemput (pick up-delivery) untuk kemudahan para pelanggannya.

Faktor higienitas juga menjadi prioritas utama Ananta, di mana ia menerapkan aturan ketat berupa sistem "Satu Pelanggan, Satu Mesin" agar pakaian antar-konsumen tidak saling bercampur. Tidak hanya itu, bagi masyarakat yang ingin lebih praktis dalam mengelola kebutuhan domestik mereka, Binatu Koe juga menyediakan pilihan jasa langganan bulanan lewat paket khusus keluarga.

(gaf/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads