Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Studi: Banyak Gen Z Dipecat Setelah Masuk Perusahaan, Begini Saran dari Pakar

Rahmi Anjani - wolipop
Minggu, 10 Mei 2026 09:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Asian woman holding cardboard box containing personal belongings after being fired by employer
Foto: Getty Images/iStockphoto/hxyume
Jakarta -

Masalah kemampuan kerja generasi muda kembali jadi perbincangan. Sebuah diskusi tentang banyaknya perusahaan memecat gen Z padahal baru masuk kerja menuai perhatian. Pakar menyebutkan bahwa akar dari fenomena global tersebut lebih dari sekadar masalah kemampuan atau profesionalisme.

Berbagai studi mengungkap bahwa banyak gen Z diserap sebagai tenaga kerja. Namun sayangnya banyak juga yang tidak diteruskan bahkan dipecat karena berbagai masalah. Hal itu menyebabkan banyak pekerja muda yang menganggur di usia produktif mereka.

Menurut Federal Reserve Bank of New York, tingkat pengangguran bagi lulusan perguruan tinggi baru-baru ini adalah 5,7% pada akhir tahun 2025, sekitar 1,5 poin persentase lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya. Kemudian survei Intelligent.com melaporkan bahwa sebanyak 60% perusahaan membiarkan karyawan Gen Z berhenti bekerja dalam beberapa bulan belakangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Alasan Gen Z Dipecat

Karyawan Gen Z diberhentikan dalam waktu beberapa bulan karena berbagai alasan. Beberapa perusahaan mendapati adanya kesenjangan dalam komunikasi, profesionalisme, dan kesiapan.

Hal tersebut menjadi perhatian Suzy Welch, seorang profesor di Stern School of Business NYU. Ia mengatakan masalah ini adalah ketidakselarasan mendasar antara pekerja muda dan tempat kerja modern.

ADVERTISEMENT

"Aku melakukan survei kedua yang mewawancarai manajer perekrutan, 25.000 manajer perekrutan, berusia di atas 40 tahun. Dan kami bertanya kepada mereka, nilai apa yang kalian cari dari generasi Z? Dan kemudian aku melakukan referensi silang terhadap data tersebut. Dan hal ini menunjukkan bahwa hanya 2% dari Gen Z yang memiliki nilai-nilai yang diinginkan dan dicari oleh manajer perekrutan. Mengejutkan,"

"Jadi yang terjadi adalah mereka mengajak gen Z masuk, mereka melihat apakah mereka bisa mengubahnya. Ketika mereka tidak mengubah, gen Z berkata, 'Aku sudah muak dengan ini'" lanjutnya.

Alasan Gen Z Dipecat

Young Asian businesswoman having a headache and massaging her temples while making a phone call in the office

Foto: Getty Images/AmnajKhetsamtip

Suzy kemudian menyoroti adanya perbedaan ekspektasi antara Gen Z dan perusahaan. Gen Z lebih menomorsatukan self-care atau eudaimonia yakni keinginan memenuhi perawatan diri, perkembangan pribadi, rekreasi, dan waktu luang. Nilai kedua mereka adalah suara yaitu ekspresi diri yang otentik. Mereka ingin menjadi diri mereka sendiri setiap saat. Dan nilai nomor tiga mereka adalah menolong sesama.

Ketiganya berbeda dengan yang diinginkan perusahaan. "Bagi manajer, nilai nomor satu yang mereka cari adalah prestasi, keinginan untuk menang. Nilai nomor dua yang mereka cari adalah work centricism, keinginan untuk bekerja. Dan nilai nomor tiga adalah ruang lingkup, yaitu keinginan untuk belajar, beraktivitas, dan berpetualang,"

"Jadi itu adalah ketidaksesuaian nilai yang sangat besar, dan itulah yang kita lihat terjadi. Dan karena pasar lebih memihak pembeli, maka saat ini pemberi kerja berkata: Aku tidak suka ini. Aku akan mengembalikannya ke toko dan aku akan mencari model yang lebih aku sukai," jelas Suzy.

Saran untuk Gen Z dan Perusahaan

Pakar pun memberi pandangan mengenai apa yang harus dilakukan gen Z untuk yakni menurunkan ekspektasi saat baru mulai bekerja. "Aku tidak menyarankan siapa pun mencoba mengubah nilai-nilai mereka. Menurutku yang perlu gen Z lakukan bukan hanya ekspektasi tentang di mana mereka akan bekerja. Mereka harus memahami konsekuensinya dan mereka mungkin tidak mendapatkan pekerjaan sesuai gelar sarjana,"

Sekarang, apa yang harus dilakukan pengusaha? Jawabannya ternyata tidak mudah. "Tergantung apakah pengusaha ingin mempekerjakan 2% atau 98%. Maka perusahaan akan berjuang mati-matian untuk mendapatkan 2% itu. Dan perusahaan lainnya, aku tidak tahu apakah mereka akan menyesuaikan diri. Sangat sulit untuk bersaing saat kamu memiliki karyawan yang tidak peduli dengan persaingan, dan sangat sulit untuk menyelesaikan pekerjaan jika kamu memiliki karyawan yang tidak mau bekerja. Jadi mungkin mereka akan menyesuaikan diri," katanya.

(ami/ami)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads