Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

'Work-life balance' Disebut 'Red Flag' di 2026, Para CEO Ungkap Alasannya

Rahmi Anjani - wolipop
Kamis, 23 Apr 2026 21:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Young Asian businesswoman having a headache and massaging her temples while making a phone call in the office
Foto: Getty Images/AmnajKhetsamtip
Jakarta -

'Work-life balance' adalah istilah yang umum di dunia profesional sejak tahun 2000an. Pascapandemi, konsep menyeimbangkan antara kehidupan karier dan pribadi kembali ramai diperbincangkan. Selagi banyak orang mengutamakan kesejahteraan, banyak pegawai mendambakan pekerjaan yang tidak butuh banyak lembur sehingga bisa menghabiskan waktu dengan orang tersayang. Tapi menurut CEO, ide tersebut malah dianggap sebuah 'red flag'.

Pekerja milenial dan Gen Z adalah golongan orang yang menomorsatukan 'work life balance'. Hal itu sering kali tersebut dalam interview saat menegosiasikan jam atau budaya kerja. Namun pendapat Iñaki Ereño bari-baru ini tentang fenomena 'work-life balance' jadi sorotan. Kepala eksekutif salah satu perusahaan perawatan kesehatan terbesar di dunia ini mengatakan obsesi 'work-life balance' adalah sebuah pertanda bahaya.

"Ketika keseimbangan hidup kamu menjadi topik pembicaraan, maka kamu memiliki masalah. Kamu perlu menyukai pekerjaan kamu, agar tidak merasa bahwa hidup kamu perlu diseimbangkan," kata Iñaki kepada Fortune.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, kebutuhan untuk memisahkan pekerjaan dari kehidupan dengan batasan waktu pukul 5 sore yang ketat tidak masuk akal jika benar-benar mencintai apa yang kamu lakukan. Karena dengan begitu, kamu akan terus-menerus menghitung mundur jam hingga akhir hari dan itu pertanda bahwa ada sesuatu yang mendasar yang tidak berjalan dengan baik.

ADVERTISEMENT


"Aku menikmati memikirkan hal-hal bisnis di akhir pekan. Aku membalas email, membaca koran, dan semua itu. Apakah aku merasa itu tekanan besar? Tidak... Aku menikmati melakukannya. Jadi aku tidak merasa perlu memikirkan bagaimana menyeimbangkan hidupku."

Pria tersebut kemudian memberikan sarannya untuk siapa pun yang terlalu terobsesi dengan jendela kerja atau hidup hanya untuk akhir pekan. Agar konsep 'work life balance' tidak membebani, disarankan untuk memilih pekerjaan yang bisa disukai atau paling tidak ditolerir.

"Aku pikir sarannya di sini adalah luangkan waktu untuk memikirkan apa yang kamu sukai. Jangan melakukan pekerjaan yang tidak kamu sukai, sehingga kamu membutuhkan keseimbangan,"

Dengan kata lain, kamu diharapkan berhentilah mengejar keseimbangan kerja-hidup dan mulailah bertanya pada diri sendiri mengapa kamu menginginkannya. Pertimbangkan bahwa mungkin sudah saatnya untuk mengubah bukan hanya jadwal tetapi juga kariermu.

Orang Sukses Lain yang Tidak Setuju Work Life Balance

Bukan hanya Inaki Ereno, banyak orang sukses yang tidak punya work life balance. Miliarder AI skala besar Lucy Guo mengaku bangun pukul 5:30 pagi dan bekerja hingga tengah malam. "Aku akan mengatakan bahwa jika kamu merasa perlu keseimbangan kerja-hidup, mungkin Anda tidak berada di pekerjaan yang tepat," katanya kepada Fortune.

Wanita berusia 30 tahun yang menggulingkan Taylor Swift sebagai miliarder wanita termuda yang sukses sendiri di dunia, mengatakan bahwa pekerjaan sama sekali tidak terasa seperti pekerjaan baginya: "Aku senang melakukan pekerjaanku."


Demikian pula, artis pemenang Grammy yang beralih menjadi pengusaha AI, Will.i.am. "Keseimbangan kerja-hidup berarti kamu bekerja untuk mimpi orang lain," katanya kepada Fortune, menambahkan bahwa dia tidak pernah berhenti bekerja, bahkan untuk merayakan ulang tahunnya, selama bertahun-tahun.

Pendiri LinkedIn, Reid Hoffman mengatakan pekerja yang mengejar keseimbangan kerja-hidup tidak berkomitmen untuk menang. Ketika dia menjalankan perusahaan, staf diharapkan untuk selalu siaga-dengan satu pengecualian. Makan malam bersama keluarga. Setelah itu? "Buka laptop kamu dan kembali ke pengalaman kerja bersama dan terus bekerja."

Perusahaan Jensen Huang, Nvidia, baru-baru ini menjadi perusahaan paling berharga di dunia-dan dia mengatakan itu berkat pendekatannya yang tanpa henti dan selalu siaga. "Aku bekerja dari saat aku bangun hingga saat aku tidur. Aku bekerja tujuh hari seminggu. Ketika aku tidak bekerja, aku memikirkan tentang bekerja." Alasannya? "Jika kamu ingin melakukan hal-hal luar biasa, itu seharusnya tidak mudah," ujarnya.

Budaya kerja para CEO yang tidak percaya 'work-life balance' tentu bukan untuk semua orang. Namun kesamaan dari saran mereka adalah untuk mencari pekerjaan yang membuat kamu tidak masalah jika harus bekerja lebih ekstra. Tidak semua orang punya privilese untuk mendapatkannya. Karena itu, coba cari cara agar keseharian di tempat kerja terus sedikit lebih menyenangkan. Misalnya dengan membangun komunitas dengan rekan-rekan atau sekadar menghias meja kantor agar tampak paling tidak menyegarkan saat dikejar deadline.

(sra/sra)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads