Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Tema Hari Perempuan Internasional 2026 dan Maknanya, Yuk Pakai Baju Ungu

Arina Yulistara - wolipop
Sabtu, 07 Mar 2026 15:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Ucapan Hari Perempuan Internasional
Foto: Getty Images/ThinkNeo
Jakarta -

Ingin ikut memperingati International Women's Day (IWD)? Yuk pakai baju warna ungu! Mengapa? Mari bahas mengenai tema Hari Perempuan International 2026 serta baju yang bisa kamu kenakan.

Hari Perempuan Internasional yang jatuh setiap 8 Maret selalu menjadi momentum penting untuk menyoroti perjuangan panjang perempuan dalam meraih kesetaraan haknya. Peringatan ini tidak hanya menjadi ajang perayaan, tapi juga refleksi global mengenai berbagai tantangan yang masih dihadapi perempuan di seluruh dunia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada 2026, peringatan tersebut terasa semakin bermakna karena menandai 115 tahun sejak pertama kali gerakan perempuan internasional diperingati pada 1911. Tema yang diusung tahun ini menekankan pentingnya penegakan hak, akses terhadap keadilan, serta langkah konkret untuk memastikan perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia mendapatkan perlindungan dan kesempatan yang setara.

Yuk bahas lebih lanjut mengenai tema Hari Perempuan Internasional 2026 beserta maknanya bagi para perempuan.

ADVERTISEMENT

Tema Hari Perempuan Internasional 2026

Untuk peringatan tahun 2026, UN Women menetapkan tema global 'Rights. Justice. Action. For ALL Women and Girls.' Tema tersebut menegaskan bahwa perjuangan perempuan masih memerlukan upaya serius dari berbagai pihak.

Tema Hari Perempuan Internasional 2026 muncul sebagai respon terhadap data global yang menunjukkan bahwa perempuan di dunia saat ini baru memiliki sekitar 64% dari hak hukum yang dimiliki laki-laki. Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan besar dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari dunia kerja hingga perlindungan hukum.

Makna dari tema Hari Perempuan Internasional mencakup beberapa pilar utama, di antaranya:

1. Perlindungan hak hukum perempuan agar terbebas dari diskriminasi dalam pekerjaan, kepemilikan aset, hingga keamanan pribadi.

2. Akses terhadap keadilan dengan sistem hukum yang lebih responsif terhadap penyintas kekerasan serta bebas dari bias gender.

3. Aksi nyata menuju kesetaraan, seperti meningkatkan anggaran pendidikan bagi anak perempuan dan menghapus praktik pernikahan anak.

4. Penghapusan hambatan struktural sehingga perempuan dapat berpartisipasi penuh dalam proses pengambilan keputusan di tingkat nasional maupun global.

Selain tema resmi dari PBB, terdapat pula kampanye global bertajuk 'Give To Gain' (#GiveToGain). Kampanye ini mengusung filosofi timbal balik, yaitu investasi dan dukungan terhadap perempuan akan memberikan manfaat besar bagi kemajuan masyarakat secara keseluruhan.

Mengapa Disarankan Memakai Baju Ungu?

Close up photo of lovely, vintage student shouting isolated over purple background

Foto: Getty Images/iStockphoto/Deagreez

Salah satu hal yang identik dengan Hari Perempuan Internasional adalah penggunaan warna ungu. Bersama hijau dan putih, warna ini menjadi simbol yang sering digunakan dalam berbagai kampanye dan perayaan Hari Perempuan Internasional di seluruh dunia.

Secara historis, kombinasi warna tersebut berasal dari Women's Social and Political Union (WSPU) di Inggris pada tahun 1908. Dalam simbolisme tersebut, ungu melambangkan keadilan dan martabat, hijau artinya harapan, sementara putih simbol kemurnian.

Seiring bergulirnya waktu, konsep kemurnian yang diwakili warna putih dianggap kontroversial sehingga sebagian kampanye menggantinya dengan kuning yang melambangkan kebangkitan feminisme. Meski begitu, warna ungu tetap menjadi warna yang paling dominan dalam peringatan Hari Perempuan Internasional.

Secara global, warna ini dianggap sebagai simbol perempuan sekaligus representasi perjuangan untuk kesetaraan, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat perempuan. Oleh sebab itu, banyak orang di berbagai negara mengenakan baju berwarna ungu pada 8 Maret sebagai bentuk solidaritas dan dukungan terhadap perjuangan perempuan di seluruh dunia.

Fokus Isu Perempuan di Indonesia

Bunga Jelitha dan Alumni Puteri Indonesia

Foto: Instagram: @bungajelitha66

Di Indonesia, peringatan Hari Perempuan Internasional 2026 juga menjadi momentum untuk memperkuat perspektif gender dalam pembangunan nasional. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) menyoroti sejumlah isu penting yang masih menjadi tantangan bagi perempuan di Tanah Air.

Beberapa isu utama yang mendapat perhatian, antara lain pengentasan kemiskinan perempuan melalui pemberdayaan ekonomi, khususnya di sektor UMKM, serta perlindungan yang lebih kuat bagi pekerja migran Indonesia di luar negeri.

Selain itu, peningkatan akses pendidikan dan layanan kesehatan juga menjadi fokus utama, terutama dalam upaya menurunkan angka kematian ibu serta memperluas literasi digital bagi perempuan di daerah terpencil. Masalah kekerasan berbasis gender pun masih menjadi perhatian serius, baik yang terjadi di ruang publik maupun dunia digital.

Untuk itu, implementasi Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) diharapkan dapat memberikan perlindungan hukum yang lebih kuat bagi korban.

Peringatan Hari Perempuan Internasional di Indonesia

Ucapan Hari Perempuan Internasional

Foto: Getty Images/ThinkNeo

Berbagai kegiatan digelar di sejumlah daerah untuk memperingati Hari Perempuan Internasional tahun ini. Karena bertepatan dengan bulan Ramadan 1447 Hijriah, banyak agenda yang dikemas secara reflektif namun tetap membawa semangat pemberdayaan perempuan.

Di Jakarta, sejumlah organisasi masyarakat sipil mengadakan diskusi, seminar, dan peluncuran laporan tahunan mengenai kasus kekerasan terhadap perempuan. Salah satunya melalui kegiatan refleksi dan seminar pemberdayaan perempuan yang membahas kesehatan mental serta pengembangan karier bagi perempuan muda.

Sementara itu di Yogyakarta, peringatan dilakukan melalui kegiatan seni dan budaya. Pameran serta diskusi publik diselenggarakan untuk mengangkat isu tata kota yang inklusif serta advokasi bagi penyintas kekerasan terhadap perempuan.

Di samping itu, sejumlah komunitas juga menggelar kegiatan di ruang terbuka hijau dengan melibatkan perempuan dalam aksi pelestarian lingkungan.

(eny/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads