Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

KOLOM

Putus Hubungan Saja Tidak Cukup untuk Menyelamatkan Perempuan dari Kekerasan

Riyani Indriyati - wolipop
Kamis, 05 Mar 2026 18:30 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

one caucasian couple man and woman expressing domestic violence in studio silhouette   on white background
Foto: Dok. iStock
Jakarta -

"Perempuan goblok", "Otakmu di mana?" "Pelacur sialan kamu!" "Opo kudu tak pelintir ndasmu neng mburi nganti pedot?, goblok!" "Ra peduli kowe pacarku, tak sampluk cangkemu!" "Kowe lek nggaya cangkemu koyo ngono tak pateni tenan kowe!" (dokumen tangkapan layar pesan WhatsApp).

Siapa pun yang membaca kata-kata di atas pasti merasa geram dan marah. Ingin tahu siapakah penulis makian yang membuat darah kita naik ke otak? Perasaan yang sama juga saya alami ketika pertama kali melihat isi tangkapan layar di telepon genggam berwarna kuning di suatu sore yang teduh di kota Malang. Tanganku gemetar, badanku panas, mataku pedih, dan mulutku kering. Rasanya untuk sepersekian detik bumi berhenti berputar. Setelah aku merasa tak sanggup lagi membaca pesan-pesan lainya, aku taruh telepon genggam itu di meja dan aku peluk erat tubuh perempuan yang sudah aku anggap seperti adik sendiri. Sambil menggigil dan sesenggukan, kami pun sama-sama menangis di pundak satu sama lain.

Sebagai seorang perempuan dewasa, istri, dan juga Ibu terutama di usiaku yang hampir menginjak kepala lima ini, tak pernah sekalipun aku membayangkan hal sekeji ini terjadi di lingkaranku. Aku selalu yakin dan percaya akan kuatnya sisterhood yang kami bangun selama puluhan tahun. Bahwa selain berbagi suka, kami juga bisa saling bercerita dalam soal apa pun. Termasuk luka. Tapi aku salah. Lima tahun adalah waktu yang terlalu lama untuk memendam luka dan trauma seorang diri. Tapi memang begitulah kenyataannya. Kerabatku perlu waktu selama itu untuk mengumpulkan keberanian, melawan rasa malu, mengikis ketakutan di hakimi atas apa yang terjadi kepadanya sampai akhirnya ia berani untuk bercerita dan meminta bantuan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ternyata, selama empat tahun kerabatku menjadi korban kekerasan fisik, mental, dan emosional. Tubuhnya dieksploitasi untuk memenuhi kebutuhan seksual pasangannya. Ia ditekan terus menerus. Ia harus meminta izin dalam melakukan semua aktivitas termasuk keharusan mengirimkan foto baju apa yang harus di pakai sehari-hari. Keputusan kecil maupun besar tidak boleh di lakukan sendiri dengan alih-alih untuk melindungi.

Saudaraku bercerita bahwa di awal mereka berpacaran dan dengan alasan saling terbuka satu sama lain, ia mengaku sudah pernah berhubungan intim dengan pasangan sebelumnya. "Dari awal kita berhubungan, aku sudah mengakui itu semua. Aku sudah berkali-kali minta maaf bahkan sujud di kakimu," bunyi pesan yang ia kirimkan ke pasangannya saat itu. Tetapi keterbukaan itu bukannya memberikan rasa aman dan menumbuhkan kepercayaan tapi malah dijadikan sebagai bahan untuk memeras dan mengeksploitasi.

ADVERTISEMENT

Berbagai ancaman seperti kalau ia menolak ajakan berhubungan intim maka hal pribadi tersebut akan di sebarkan ke teman, keluarga, dan khalayak umum semakin membuat saudaraku itu lumpuh, merasa tak berdaya untuk melawan. Ia pun takut untuk memutus hubungan. Bertahun-tahun ia hidup dalam tekanan, ketakutan, dan trauma sampai ia berada di titik batas tak kuat lagi memikul beban seorang diri. Akhirnya ia memberanikan diri untuk bicara. Pertama ke aku dan selanjutnya ke keluarga intinya.

Dari satu keberanian itu, muncul lagi keberanian-keberanian baru. Aku mendampinginya ketika ia mengonfrontasi pasangan dan juga keluarga pasangannya. Sebuah langkah besar dan berani. Ia berharap keputusan itu akan berhasil memutus rantai pasung yang sudah sekian lama menjerat kakinya. Harapan untuk memulai lembaran baru sudah ada di depan mata. Tapi ternyata, putus hubungan saja bukan akhir dari perjuangannya dalam membebaskan diri.


Sangsi Moral yang Berpihak dan Harga Mahal dari Kesepian

Ketika kerabatku masih sibuk menyembuhkan luka dan bergelut mengembalikan rasa percaya dirinya yang sudah hampir punah, maka tidak demikian dengan pasangannya. Hanya dalam hitungan beberapa bulan saja, ia sudah menemukan pasangan baru. Kehidupan keluarganya juga terlihat baik-baik saja. Kalaupun ada rasa malu atau bersalah atas apa yang ia lakukan, hal itu tidak terlihat sama sekali. Ia masih bebas melakukan semua aktivitas di kampus, di tempat kerja, di lingkup sosial, maupun keagamaan. Tak ada sangsi sosial yang ia terima karena ia laki-laki.
Laki-laki itu terbebaskan dari tanggung jawab. Ia tak memikul beban apa pun ketika saudaraku masih terus bertarung dalam kegelapan, sendiri. Kesendirian itulah yang membuat saudaraku merasa tak berguna. Dan karena ia belum sepenuhnya kuat berdiri sendiri, saudaraku melakukan satu hal kecil yang mematahkan semua hasil perjuangannya. Ia menghubungi laki-laki itu kembali.

Sebagai bystander atau pengamat, darahku mendidih ketika mendengar pengakuannya tersebut. Bagaimana bisa ia bisa seceroboh itu? Harusnya ia menutup buku dan tidak membuka luka lama lagi. Buat apa menghubungi orang yang sudah merusaknya? Semua gejolak itu aku pendam sendiri dan aku coba untuk analisa dan pelajari sebelum aku menyampaikan pendapatku. Satu hal yang aku hindari adalah membuat saudaraku merasa ter hakimi dan kemudian tak mau lagi bercerita lagi kepadaku.

Aku banting setir dan mencari tahu dari berbagai sumber untuk lebih memperdalam pemahamanku tentang apa yang kita bisa lakukan untuk korban perempuan seperti saudaraku itu. Akhirnya aku paham bahwa saudaraku sedang bergulat dengan rasa bersalah, ketergantungan, dan isolasi yang berkontribusi besar dalam keputusannya untuk berhubungan lagi. Bahwa akibat dari bertahun-tahun hidup penuh dengan penindasan dan tekanan telah menghasilkan suatu pembelajaran perilaku ketidak berdayaan atau learned helplessness behavior (NG Torres Ruiz, 2021) . Ia mempercayai bahwa tanpa pasangannya, tak akan mampu ia melanjutkan hidup sendiri. Kepercayaannya terhadap kekuatan diri sendiri sudah keropos. Trauma lain yang menggerogotinya adalah the savior complex (everydayfeminism.com).Ia percaya bahwa jiwa penolongnya adalah penyelamat dan ia membiarkan pasangannya memanfaatkan kebaikannya terus menerus.


Lingkaran Kecil, Lingkaran Kecil, Lingkaran Besar

Pengalamanku mendampingi perjalanan pilu saudaraku dalam memerdekakan diri dari genggaman hubungan yang toksik menyadarkanku akan beberapa hal. Yang pertama, meskipun korban (baca perempuan) sudah keluar dari hubungan toksik bukan berarti ia sudah bebas dan permasalahan sudah selesai.

Yang kedua, bahwa ada trauma-trauma lanjutan lain yang mereka masih harus lalui dan menangkan dalam jangka panjang. Yang ketiga dan mungkin yang terpenting adalah ketika kita menjadi orang pertama tempat mereka bercerita, tugas pertama kita adalah memberikan ruang aman tanpa penghakiman yang bisa membantu menguatkan dan menumbuhkan rasa percaya diri bahwa mereka berdaya. Kita harus mampu menjadi bagian dari lingkaran perlindungan kecil mereka sebelum mereka bisa menjangkau lingkaran perlindungan yang lebih besar.

Terakhir, pesan untuk teman-teman perempuan di luar yang masih berjuang mengumpulkan keberanian, kalian berdaya dan kami selalu ada. Semoga teman-teman semua segera menemukan satu lingkaran kecil itu.

Riyani Indriyati adalah pendiri the Dahuni Foundation, penulis buku terbitan Gramedia berjudul The Colours of Mothers, penulis lepas di majalah Magdalene dan The Jakarta Post. Riyani Lahir di Boyolali dan saat ini menetap di Porto, Portugal.

(Riyani Indriyati/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads