Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Kerja Berlebihan Tak Kenal Libur, Pria Ini Berakhir Kehilangan Nyawa

Vina Oktiani - wolipop
Senin, 26 Jan 2026 09:03 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Ilustrasi kerja
Foto: Freepik
Jakarta -

Bagi beberapa orang, lembur, kerja sampai malam, bahkan tetap buka laptop di hari libur sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Apalagi bagi pekerja di bidang teknologi, tuntutan kerja sering kali tak mengenal waktu. Namun, kebiasaan ini bisa berujung tragis, seperti yang dialami seorang programmer muda di China.

Melansir Hindustan Times, pria bernama Gao Guanghui meninggal dunia di usia 32 tahun setelah tiba-tiba kolaps saat bekerja dari rumah pada Sabtu, 29 November. Saat itu, Gao sedang menyelesaikan tugas kantor meski hari libur. Ia mendadak merasa tidak enak badan lalu pingsan di rumahnya di Guangzhou.

Keluarga yang panik langsung memanggil ambulans dan Gao dilarikan ke rumah sakit. Sayangnya, nyawanya tidak tertolong. Ia tiba di rumah sakit sekitar pukul 09.46 pagi dan dinyatakan meninggal beberapa jam kemudian, sekitar pukul 13.00. Dokter mencatat penyebab kematian berupa henti jantung dan pernapasan mendadak, yang diduga berkaitan dengan gangguan irama jantung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kisah ini membuat publik terkejut setelah terungkap bahwa Gao masih tetap harus bekerja saat kondisinya kritis di rumah sakit. Gao diketahui bekerja sebagai manajer di divisi perangkat lunak sebuah perusahaan teknologi.

Keluarga mengatakan, ketika Gao sedang ditangani dokter, ia justru dimasukkan ke grup kerja teknis di aplikasi WeChat. Salah satu rekan kerja bahkan sempat mengirim pesan yang meminta bantuannya untuk mengurus pesanan. Yang lebih mengejutkan, pesan soal tugas mendesak kembali masuk beberapa jam setelah Gao dinyatakan meninggal.

ADVERTISEMENT

Data yang ditemukan keluarga juga menunjukkan bahwa Gao sempat masuk ke sistem perusahaan beberapa kali di hari kematiannya. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa ia tetap bekerja meski kondisi tubuhnya sudah sangat lemah.

Menurut Yang, sang istri, Gao sudah lama menjalani beban kerja yang berat. Ia sering pulang larut malam karena urusan kantor, mulai dari rapat mendadak, menemui klien, hingga mengurus masalah teknis yang muncul tiba-tiba. Selain menulis dan mengembangkan perangkat lunak, Gao juga menangani tugas manajemen dan layanan pelanggan.

Dalam kesehariannya, Gao disebut hanya tidur sekitar enam sampai tujuh jam. Ia berangkat kerja sejak jam 7 pagi dan sering baru pulang hampir tengah malam, sekitar jam 12 malam. Bahkan saat sedang menyetir, ia masih mengikuti rapat atau menerima telepon pekerjaan.

Kekurangan pegawai di tempatnya bekerja membuat Gao harus mengerjakan tugas yang seharusnya dikerjakan oleh enam hingga tujuh orang. Sistem gaji dengan upah dasar rendah dan target tinggi membuatnya harus bekerja ekstra agar penghasilannya mencukupi.

Usai kematian Gao, sang istri menuding perusahaan bertindak tidak pantas. Ia mengaku perusahaan memproses pengunduran diri Gao dua minggu setelah ia meninggal serta membuang barang-barang pribadinya di kantor. Meski barang tersebut kemudian dikirim, kondisinya disebut rusak dan tidak terawat.

Pihak perusahaan sendiri telah mengajukan permohonan pengakuan kecelakaan kerja kepada otoritas ketenagakerjaan setempat. Hingga kini, proses tersebut masih berjalan dan belum ada keputusan resmi.

(vio/vio)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads