Kisah Pria Gugat Kantor yang Beri Kejutan Ultah, Endingnya Dapat Rp 6,4 M
Gara-gara pesta kejutan ulang tahun, seorang karyawan dipecat. Dia pun menuntut perusahaan tempatnya bekerja dan mendapatkan kompensasi sebesar USD 450 ribu atau sekitar Rp 6,4 miliar.
Insiden ini terjadi pada 2019, ketika pria bernama Kevin Berling mendapatkan pesta kejutan ulang tahun yang diadakan oleh teman-teman kantornya. Bukannya merasa senang karena ulang tahunnya dirayakan orang sekantor, pesta tersebut justru memicu serangan panik.
Menurut keterangan dari pengacaranya, sebelumnya Kevin sudah memperingatkan para koleganya agar tidak merayakan hari ulang tahunnya karena kondisi gangguan kecemasan yang dideritanya. Namun satu orang rekan kerjanya tak mengindahkan dan tetap menggelar pesta kejutan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kevin yang tidak nyaman karena jadi pusat perhatian di hari ulang tahunnya kemudian pergi tanpa aba-aba ke tempat parkir untuk menenangkan diri dalam mobilnya. Dia juga terpaksa menyantap makan siang di situ.
Keesokan harinya Kevin dipanggil oleh dua atasannya untuk membicarakan insiden tersebut. Mereka menudingnya telah merusak kesenangan karyawan lain di tempat kerja. Pertemuan itu pun kembali memicu serangan panik yang kedua pada Kevin.
Akibatnya, perusahaan memulangkan Kevin untuk istirahat selama dua hari. Namun beberapa hari kemudian dia menerima e-mail dari perusahaan yang menyatakan kalau dirinya dipecat karena dianggap mengancam keselamatan rekan-rekan kerjanya.
Seperti dikutip dari New York Times, perusahaan yang bergerak di bidang laboratorium medis itu mengklaim bahwa cara Kevin mengatasi serangan paniknya telah membuat rekan kerja dan atasannya ketakutan.
"Dia mengepalkan tangannya mengitari dada, seperti hampir memeluk dirinya sendiri. Karyawan saya adalah korban dalam kasus ini, bukan penggugat. Mereka (atasan Kevin) benar-benar ketakutan akan disakiti saat itu," ujar Julie Brazil, pendiri dan pimpinan perusahaan.
Julie juga mengklaim kalau pemecatan yang dilakukannya adalah untuk mengutamakan keselamatan para karyawan. Dia pun menyebut bahwa kebijakan perusahaan tidak bisa menolerir segala bentuk tindak kekerasan.
Tidak terima dirinya dipecat, Kevin pun melayangkan gugatan ke pengadilan. Dia menuntut perusahaan bernama Gravity Diagnostics itu atas diskriminasi terhadap karyawan difabel.
Tiga tahun setelah kejadian, tepatnya Maret 2022, Pengadilan Kenton County Circuit, Kentucky, AS, mengabulkan tuntutan Kevin. Perusahaan diwajibkan membayar Rp 6,4 miliar untuk pesangon dan kerugian mental yang diderita Kevin pascakejadian. Kerugian mental di sini termasuk penderitaan, rasa malu dan kehilangan kepercayaan diri.
Kevin kini sudah mempunyai pekerjaan baru di sebuah sekolah. Seperti dilaporkan Asia One, gangguan mentalnya mengalami perbaikan dan serangan panik berangsur-angsur hilang sejak insiden pada 2019 tersebut.
Kesehatan
Sering Pegal & Kaku Saat Kerja? Lenovo Massage Gun 8 Kepala Ini Jadi Andalan Kaum Jompo
Kesehatan
Solusi Teeth Whitening Tanpa Ribet ke Klinik! Dengan PUTIH Wireless Whitening Light
Hobi dan Mainan
ORCA MAGMA01 vs Donner DAG-1CE: Gitar Ringkas atau Full Size, Mana Lebih Pas?
Kesehatan
Suplemen Harian Jaga Imun Tubuh di Tengah Aktivitas Padat! Review Swisse Ultiboost Vitamin C 1000mg
Viral! Pasutri Rela Terjang Hutan dan Ancaman Harimau demi Sekolah Terpencil
Kisah Pria 1 Tangan Jadi Ojol untuk Biaya Pernikahan Bikin Salut Netizen
Cegah Retur Nakal, Penjual Online Pakai Label Unik Mouse Pad-Pakaian Dalam
Daddoa YouTuber KBeauty Meninggal di Usia 29, Pernah Curhat Soal Bullying
Viral Wanita Jadi Operator Ekskavator, Dihias Motif Hello Kitty Biar 'Girlie'
Foto: Gaya Denada Sambut 2026, Seksi Pakai Gaun Menerawang
Meghan Trainor Tanggapi Sindiran Ashley Tisdale soal Geng Ibu-ibu Toxic
Mantan Desainer Marni Pindah ke GU Uniqlo, Siap Rancang Fashion Ramah Kantong
Viral Verificator
Bikin Melongo! Viral Aksi Emak-emak Pungut Sayur Sisa di Pasar untuk Dimasak











































