Dicibir Halu, Bagaimana Wishlist Wirda Mansur Berdasarkan Metode 'SMART'?
Wirda Mansur, kembali jadi sorotan netizen. Setelah bicara soal jejak akademisnya yang membingungkan, baru-baru ini viral daftar keinginan dalam 10 tahun ke depan yang pernah dibuatnya. Dalam tulisannya, Wirda menyebutkan tujuan-tujuan besar, seperti berpenghasilan Rp 100 miliar sehari. Bukan hal yang salah untuk punya mimpi, tapi banyak orang yang merasa sangsi.
Membuat daftar mimpi atau tujuan hidup adalah langkah yang sangat baik untuk mencapai kesuksesan. Selain sebagai motivasi, wishlist juga bisa membuat hidup jadi lebih terarah.
Daftar cita-cita Wirda pun menjadi perhatian Jonathan End. Pria yang dikenal sebagai growth consultant tersebut membuat analisanya. Ternyata tak selalu buruk, beberapa cita-cita yang dituliskan Wirda Mansur dinilai memenuhi syarat berdasarkan dari metode SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, dan Time-bound) yang sering dijadikan acuan dalam mengurutkan cita-cita atau target bisnis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam cuitannya yang viral, Jonathan menyebutkan jika sejumlah impiannya masuk kategori Specific. Hal itu dinilai baik karena membuatnya tujuan lebih terarah. Tapi pria yang membuka jasa curhat berbayar itu juga menyoroti ada beberapa yang kurang jelas, misalnya untuk tujuan jadi orang penting di Indonesia.
"Kalau tujuan tidak jelas, jadinya bingung mau gerak ke arah mana. Mungkin perlu mendefinisi orang pentingnya apa dulu, misal menteri/presiden, pengusaha, tokoh agama, aktivis," tulisnya.
Wirda juga dinilai bagus dari segi Measurable, karena hampir selalu memasukan angka sebagai acuan kesuksesannya seperti hafal 10 ribu hadits. Dengan begitu, evaluasi progres dari tujuan itu jadi lebih mudah.
Jonathan lalu menyoroti soal anggapan netizen bahwa wishlist Wirda Mansur terlalu ambisius bahkan tidak masuk akal. Dari segi Achievable, ternyata ia tidak menilainya ketinggian tapi kebanyakan karena tujuan-tujuan itu sulit dicapai dalam waktu singkat.
"Biar jadi lebih bisa tercapai, ada beberapa opsi: kurangi jumlah mimpinya (dari 24 menjadi 4 saja) atau kecilin angkanya (turunin jadi 1/10-nya) atau perpanjang waktunya (dari 10 tahun jadi 20-30 tahun)," kata Jonathan.
Bagaimana dari segi Relevant? Beberapa tujuan Wirda Mansur juga disebut relevan dengan minat dan latar belakangnya. Tapi ada juga yang dianggap kurang relevan, seperti memborong Lamborghini dan Ferrari. "Menurut saya ini jadi tidak relevan dan tidak mendukung goals lainnya di bidang agama, pendidikan, atau juga bisnis. Bisa dipertimbangkan untuk didrop saja," tulisnya.
Sementara dari segi Time Based, Wirda Mansur bermaksud untuk mengejar target-targetnya dalam waktu 10 tahun. Disebutkan jika daftar tujuan tersebut terlalu banyak untuk dicapai dalam satu dekade saja sehingga disarankan untuk dikurangi agar bisa terwujud sesuai wishlist.
Terakhir Jonathan End memberikan kesimpulannya. "Summary: Wirda mempunyai motivasi tinggi di bidang agama, pendidikan, dan bisnis. Ada ketertarikan khusus di bidang aviasi. Perlu memikirkan secara mendalam agar konsisten SMART di semua goals," tulisnya.
Health & Beauty
Skintific Instant Glowing Serum Spray, Solusi Kulit Cerah dalam 3 Detik
Olahraga
NIKE Vapor Pro 3, Sepatu Tenis Ringan untuk Pemain Agresif
Olahraga
Onpoint Spark Pocket Muscle, Bantu Redakan Pegal Setelah Olahraga
Elektronik & Gadget
Smartwatch Powerful! HUAWEI WATCH FIT 4 Series Bisa Tahan 10 Hari & Punya GPS Akurat
Merekam Jejak Organisasi Perempuan Tertua Indonesia, Target Diakui UNESCO
Kisah Pengemis Bikin Geram, Punya 3 Rumah Bahkan Buka Usaha Pinjaman
Daftar 10 Pekerjaan Terancam AI dan yang Diprediksi Tetap Aman
Kris Jenner Dijuluki 'Ratu Janda' di China, Jadi Simbol Keberuntungan Gen Z
50 Kata-kata Motivasi Kerja Singkat agar Lebih Semangat Usai Libur Lebaran
Viral! 10 Tahun Cerai, Pasangan Ini Menikah Lagi Demi Wujudkan Impian Anak
Paras Cantik Ratu Kecantikan yang Dikritik karena Tak Pakai Makeup di Film
Mark Lee Umumkan Hengkang dari NCT, Momen Jisung cs Nangis Viral Jadi Sorotan
Ramalan Zodiak Cinta 3 April: Aries Kurang Komunikasi, Leo Dilanda Rindu











































