Ini Bedanya Tantangan Wanita Karier di Indonesia dan Asia Versus Negara Barat

Rahmi Anjani - wolipop Jumat, 15 Apr 2022 10:00 WIB
Sitting At A Desk And Working With Her Laptop Computer In The Office Foto: iStock
Jakarta -

Wanita di seluruh dunia masih berjuang untuk mendapatkan persamaan hak dalam bekerja. Meski kesempatan berkarier sudah hampir setara, wanita punya lebih banyak beban sosial dan keraguan yang menghalangi potensi mereka. Wanita di mana pun umumnya mengalami problema yang serupa dalam mngembangkan kariernya. Tapi menurut corporate speaker global, ada sedikit perbedaan untuk wanita Indonesia.

Corporate speaker, Rany Moran, beberapa waktu lalu mengenalkan program coaching Forces of Feminity yang dikhususkan untuk wanita. Motivator yang berbasis di Australia itu pun bicara soal tantangan mereka dalam memaksimalkan potensi di tempat kerja.

Rany yang berpengalaman menjadi coach di Australia, Singapura, dan Indonesia itu pun melihat kesamaan dan perbedaan di antara para wanita karier. Umumnya, baik wanita Asia atau Barat sama-sama sering mempertanyakan validitas dan self worth mereka.

"Mau sesukses apapun, sekaya apapun pasti begitu rasanya. Nggak merasa worthy enough, capable enough, karena dididik sebagai wanita harus mempertimbangkan opini orang lain. Jadi, gimana kita harus egois melihat diri itu kita nggak terbiasa," kata Rany ketika diwawancara Wolipop di CGV Pacific Place beberapa waktu lalu.

Sementara tantangan wanita Indonesia dinilai Rany lebih kompleks. Motivator yang juga pebisnis tersebut mengatakan jika wanita karier di Indonesia dan Asia harus mempertimbangkan lebih banyak hal dalam mengambil keputusan terkait pekerjaan.

"Lebih kompleks di Asia karena ada faktor culture, society expectation, dan keluarga jadi keputusan satu orang itu bukan keputusan dia sendiri. When I see one klien I see parents, the partner, anak2, society, environment. A lot of differents perspective yang ada dalam satu orang. Itu bedanya untuk di Indonesia dan Asia," kata ibu dua anak tersebut.

Rany Moran beralih sebagai corporate speaker setahun belakangan. Ia mendalami pendidikan untuk menjadi psychological counselor dan jadi profesional coach selama empat tahun. Rany sendiri termotivasi untuk menjadi motivator karier setelah mengalami depresi dan berjuang untuk bangkit dari kegagalan dua bisnisnya.

(ami/ami)