Kisah Wanita Hamil Magang di Jepang, Diminta Aborsi Hingga Dipaksa Berhenti

Rahmi Anjani - wolipop Kamis, 14 Apr 2022 14:30 WIB
Selective focus loneliness young asian woman sitting on bedroom floor near the balcony. Depression sadness breaking up asian teenage girl sitting alone hugging knees closing eyes and thinking. Foto: Getty Images/iStockphoto/CandyRetriever
Jakarta -

Seorang wanita bernama Vanessa menceritakan pengalaman tidak menyenangkan saat bekerja magang. Mendapatkan kesempatan untuk bekerja di luar negeri, sayangnya program tersebut malah bisa membahayakan. Vanessa yang hamil ketika menjalankan 'magang teknis' diminta untuk aborsi jika tidak mau berhenti.

Vanessa pernah tergabung dalam program magang yang melibatkan lebih dari 275 ribu pekerja dari berbagai negara. Wanita itu sendiri berasal dari Filipina. Dimulai sejak tahun lalu, program itu bermaksud untuk memberi pengalaman kerja untuk nantinya dipakai di negara mereka.

Jepang sendiri memang dikenal banyak mengambil pekerja usia produktif dari luar negeri karena populasi menua mereka. Vanessa pun bekerja di sebuah panti jompo di Fukuoka saat mengetahui dirinya hamil. Berharap bisa cuti dan kembali lagi setelah melahirkan, ia malah diminta untuk menggugurkan.

"Aku pikir, berani sekali mereka. Aborsi adalah pilihan ibunya, bukan orang lain," ungkapnya kepada AFP.

Vanessa pun menolaknya kemudian atasannya memintanya untuk berhenti. Untungnya Vaness akhirnya bisa kembali ke Filipina dan melahirkan anaknya dengan selamat. "Aku ingin membuktikan yang mungkin untuk seorang pekerja magang yang hamil kembali ke Jepang dan menyelesaikan kontraknya," kata Vanessa.

Permasalahan ini ternyata bukan hal baru di Jepang. Para migran pun mengakui kekhawatiran mereka diberhentikan dan dikirim kembali masing-masing ketika hamil.

Pekerja magang lain dari luar negeri bernama Thi Thuy Linh asal Vietna pernah mengalami hal serupa. Ketika tahu tengah berbada dua, ia memilih untuk menyembunyikannya karena takut dipulangkan.

Wanita itu akhirnya mengambil langkah yang berisiko dengan mengonsumsi pil aborsi. Sayangnya Thi Thuy Linh akhirnya ketahuan hamil dan diperingatkan akan mengalami kesulitan jika mempertahankannya. Akhirnya tahun lalu ia melahirkan prematur sendiri di rumah tapi anak-anak kembarnya tidak selamat.

Nasib Thi Thuy Link sayangnya berbeda dengan Vanessa karena harus berakhir tidak menyenangkan. Karena ketika datang ke dokter untuk memeriksakan kondisinya, ia dilaporkan ke pihak berwajib. Wanita itu akhirnya dijatuhi hukuman tiga bulan dengan tuduhan mengabaikan bayi-bayinya.

(ami/ami)