Gen Z Mulai Masuk Industri Kerja, Ini yang Ditakuti Para Bos Milenial

Rahmi Anjani - wolipop Selasa, 02 Nov 2021 07:30 WIB
Ilustrasi pekerja Jepang Ilustrasi gen Z. Foto: (iStock)
Jakarta -

Meski sempat terganggu oleh pandemi, banyak dari generasi Z atau gen Z sudah memasuki dan mengisi industri kerja. Meski belum dirasakan sepenuhnya, kehadiran mereka perlahan akan membawa nuansa dan budaya yang berbeda.

Selain lebih kreatif sekaligus praktis, golongan orang yang lahir pada 1996-2010 dikatakan lebih sadar akan isu-isu sosial dan kesehatan mental. Para bos milenial pun memberikan testimoni mengenai apa yang mereka 'takutkan'.

Hadirnya gen Z dalam perusahaan tampaknya mulai membuat cemas milenial yang sebelumnya mendominasi lapangan kerja. Walau datang sebagai junior atau anak magang, perilaku gen Z yang dianggap lebih berani untuk mengambil inisiasi kadang membuat manajer atau bos milenial terkejut. Tak hanya terkait pekerjaan, dikatakan anak-anak muda juga tak ragu untuk menegur atasan mereka soal isu-isu sosial.

Hal serupa diungkap oleh CEO Unbound, Polly Rodrigue. Kepada New York Times, ia mengungkap bahwa seorang pekerja pernah menelpon rekannya di hari Sabtu untuk mengetahui apakah perusahaan mendukung Black Lives Matter. Adapun bos Slack bernama Lola Priego yang kaget ketika menerima catatan yang berisi 'suruhan' dari bawahan gen Z di meja kerjanya.

Para milenial yang kini berada di posisi manajer mengaku masih belum tahu bagaimana menghadapi anak-anak baru apalagi untuk hal-hal-hal sensitif terkait kesehatan mental. Founder 'Bulletin' bernama Ali Kriegsman pun bingung ketika pekerja-pekerja muda meminta libur saat sakit karena menstruasi atau mengalami serangan kecemasan, sesuatu yang kebanyakan seniornya hanya akan tahan sambil tersenyum selagi bekerja.

Ali mengaku selalu terkejut ketika menerima pesan, 'Hai, aku bangun dan merasa tidak sehat secara mental. Aku tidak akan masuk hari ini'.

Hal-hal di atas tentu bukan sesuatu yang salah. Tapi para bos milenial merasa bahwa mereka sebagai tim tetap harus mengusahakan yang terbaik untuk mendapat hasil maksimal. Sedangkan dari sisi pekerja gen Z sendiri, perilaku mereka dipengaruhi oleh perubahan zaman, termasuk COVID-19 dan media sosial sehingga punya prioritas yang berbeda.

"Pekerja-pekerja muda ini memecahkan kode dan seperti bilang 'Hai guys ternyata kita tidak pernah melakukan seperti yang diberi tahu orang-orang tua. Kita bisa melakukan apa yang kita inginkan dan tetap sukses. Tapi orang-orang tua, seperti 'Apa maksudnya?" kata Colin Guinn, founder Hangar Technology.

(ami/ami)