Kisah Owner Ayam Goreng Nelongso, Pernah Tidur di Pom Bensin Sebelum Sukses

Rahmi Anjani - wolipop Jumat, 16 Jul 2021 14:15 WIB
Nanang Suherman Foto: Instagram @nanang_anakbaik
Jakarta -

Di tengah pandemi Corona, banyak bisnis yang terpengaruh bahkan gulung tikar, termasuk F&B (Food and Beverages). Meski begitu, Ayam Goreng Nelongso menjadi salah satu yang bisa bertahan bahkan membuka lima gerai baru belakangan. Sang owner, Nanang Suherman pun mengungkapkan perjalanan bisnisnya hingga kini memiliki 71 outlet. Sempat mengalami kesusahan, Nanang bahkan pernah tidur di pom bensin.

Nanang Suherman adalah pendiri Ayam Goreng Nelongsong yang membangun bisnisnya dengan modal ratusan ribu hingga kini beromzet ratusan juta. Dikatakan jika sebelumnya ia memang sudah sering jatuh bangun dalam berwirausaha, mulai dari koran, komputer, besi tua, hingga biji plastik. Nanang pun memiliki prinsip untuk selalu mengembangkan bisnisnya meski ketika dijalani tak jarang menemukan hambatan.

"Pada dasarnya saya mulai bergerak bisnis saat awal kuliah karena saya memaksakan diri untuk kuliah tapi orangtua tidak mampu. Saya punya mindset untuk selalu tumbuh jadi apapun bisnis yang dilakukan selalu serius.

"Pernah jadi loper koran tapi tiga bulan kemudian sudah punya empat karyawan, jadi sales komputer tiga bulan kemudian punya toko sendiri. Intinya kita harus bertumbuh," ujarnya di acara ShopeeTalk bertema Modal Ratusan Ribu, Omzet Ratusan Juta yang digelar virtual hari ini, Jumat, (16/7/2021).

Ketika berbisnis biji plastik, Nanang dan istri sempat merugi hingga membuatnya tidak punya rumah dan tidur di pom bensin selama dua minggu. Setelah istrinya gajian, Nanang pun menggabungkan uang itu dengan modalnya Rp 500 ribu untuk membuka Ayam Goreng Nelongso di 2013. Singkat cerita, bisnis tersebut berkembang pesat hingga kini buka banyak cabang. Salah satu strategi Nanang ternyata adalah fokus pada target market.

"Orang-orang mungkin melihatnya kita sekadar buka saja tanpa tahu target market. Padahal kita harus tahu. Saya menargetkan dan setia yaitu 70% mahasiswa, 20% calon mahasiswa, dan 10% mantan mahasiswa. Kalau sudah sesuai target kita bisa memilih market-nya di mana.

"Selama pandemi, dari 71 outlet tidak ada yang tutup karena selalu putar strategi. Dan kita buka lima cabang lagi ke tempat penghasil mahasiswa yang jadi penyumbang penghasilan tertinggi," lanjut Nanang.

Strategi lain yang juga membuat Ayam Goreng Nelongso tetap bertahan selama pandemi adalah dengan mengikuti tren dan gaya hidup target marketnya.

"Taste selalu berubah jadi F&B harus mengikuti. Misalnya jaman sekarang orang banyak nonton drama Korea jadi kita mulai hadirkan rasa asam pedas, ada juga keju, dan lain-lain. Gaya hidup target market berubah, siapa sangka gen Z dulu bisa menyukai Didi Kempot, jadi tantangan kita adalah bagaimana meneliti gaya hidup, taste mereka karena kalau tidak mau beradaptasi kita selesai," ungkap ayah enam anak itu.

Dalam acara tersebut, Nanang Suherman juga memberikan sarannya kepada mereka yang akan mulai berbisnis di masa pandemi. Ia pun mengungkap salah satu ilmunya yang terbukti efektif selama ini yakni ATM atau Amati, Tiru, dan Murahin. "Murahin tapi tetap kita harus tambahin value, dll," kata Nanang.

(ami/ami)