Sosok Wanita Pertama yang Wawancarai Taliban, Kini Kabur dari Afghanistan

Rahmi Anjani - wolipop Selasa, 31 Agu 2021 12:00 WIB
Beheshta Arghand Foto: Dok. Tolonews
Jakarta -

Seorang jurnalis beberapa waktu lalu mencetak sejarah sebagai wanita pertama yang mewawancarai Taliban. Adalah Beheshta Arghand yang memimpin sesi tanya jawab di stasiun TOLONews. Seperti diketahui Taliban tidak membebaskan wanita untuk berkarier atau berekspresi dengan alasan syariat Islam. Takut nyawanya terancam, tak lama kemudian ia memutuskan untuk melarikan diri dari Afghanistan.

Interview Beheshta dengan perwakilan Taliban senior secara tatap muka mengundang kagum sekaligus kekhawatiran. Tak hanya juru bicara Taliban, dua hari setelahnya ia pun mewawancara Malala Yousafzai yang pernah ditembak Taliban di 2012. Hal tersebut juga merupakan pertama kalinya dilakukan di stasiun televisi Afghanistan. Karena dua penampilannya yang kontroversial itu keamanan Beheshta pun berisiko.

Kepada CNN, Beheshta mengatakan bahwa ia telah melarikan diri karena takut dengan apa yang bisa diperbuat Taliban padanya. Berdasarkan berbagai laporan, pasukan ekstrimis tersebut memang mulai tak segan menyerang wanita. Para tentara tak ragu untuk melakukan kekerasan jika wanita dianggap memberontak atau berperilaku tidak pantas menurut mereka.

Behesta Arghand sendiri adalah jurnalis berusia 24 tahun yang baru bekerja di stasiun TOLONews selama sebulan 20 hari sebelum Taliban menguasai Afghanistan. Meski tergolong baru ia sudah mendapat kesempatan untuk berhadapan langsung dengan Taliban. Behesta adalah lulusan Universitas Kabul yang pernah bekerja di radio dan agensi berita.

Beheshta ArghandBeheshta Arghand Foto: Dok. Tolonews

Behesta mengakui jika tugasnya memang menantang tapi ia memberanikan diri demi memperjuangkan nasib wanita Afghanistan lainnya. "Jika kami berdiam diri di rumah atau tidak pergi ke kantor, mereka akan bilang para wanita tidak mau bekerja tapi aku bilang pada diriiku sendiri, 'Mulailah bekerja'" katanya.

"Dan aku berkata pada anggota Taliban, 'Kami menginginkan hak-hak kami. Kami ingin bekerja. Kami ingin, kami harus, ada dalam kemasyarakatan. Ini adalah hak kami," ujar Behesta.

Namun sepertinya setelah memikirkan apa yang bisa dilakukan Taliban kepadanya, Behesta memilih untuk menyelamatkan diri. Dua hari setelah mewawancara Malala, ia menghubungi aktivis untuk meminta pertolongan. Tak lama kemudian, Behesta terbang dengan pesawat evakuasi bersama beberapa anggota keluarga untuk keluar Afghanistan tapi tidak disebutkan ke negara mana. Ia pun mengakui takut dengan kekejaman Taliban seperti kebanyakan orang-orang.

Meski begitu Behesta berjanji akan kembali ke tanah kelahirannya suatu hari nanti jika suasana sudah membaik. "Jika Taliban sudah melakukan apa yang mereka katakan, apa yang mereka janjikan dan situasinya lebih baik dan aku tahu aku aman dan tidak ada ancaman, aku akan kembali ke negaraku dan bekerja untuk negaraku. Untuk orang-orangku," ujar Behesta.

(ami/ami)