Taliban Kuasai Afghanistan, Wanita Tak Boleh Kerja Hingga Dipaksa Pakai Burqa

Eny Kartikawati - wolipop Selasa, 17 Agu 2021 06:53 WIB
KABUL, AFGANISTAN - AUGUST 13 : Displaced Afghan women and children from Kunduz are seen at a mosque that is sheltering them on August 13, 2021 in Kabul, Afghanistan.  Tensions are high as the Taliban advance on the capital city after taking Herat and the countrys second-largest city Kandahar. (Photo by Paula Bronstein /Getty Images) Wanita Afghanistan dilarang bekerja dan harus memakai burqa saat keluar rumah ketika Taliban kembali berkuasa.Foto: Getty Images/Paula Bronstein
Jakarta -

Taliban menguasai Afghanistan menjadi momok mengerikan untuk para wanita di negara tersebut. Sebelumnya Presiden Afghanistan Ashraf Ghani mengatakan Taliban telah menang karena berhasil menduduki Kantor Kepresidenan.

Kenapa Taliban yang kembali berkuasa akan menjadi mimpi terburuk wanita di Afghanistan? Pada 1996 hingga 2001 saat Taliban berkuasa di Afghanistan, seperti dikutip dari Al Jazeera, wanita dilarang pergi bekerja, anak-anak perempuan tidak boleh bersekolah dan para wanita harus menutup wajahnya atau memakai burqa, serta wanita harus ditemani saudara pria jika ingin keluar rumah.

Pada saat itu wanita yang melanggar aturan Taliban akan mendapat hukuman. Selain dipermalukan, para wanita ini juga mendapat hukuman cambuk dari polisi syariah yang berpatroli.

Ketakutan kembalinya peraturan itu saat Taliban menguasai Afghanistan sudah terlihat pada awal Juli 2021 kemarin. Seperti dikutip dari Reuters, tentara Taliban yang menguasai Afghanistan memaksa masuk ke dalam kantor Azizi Bank di Kandahar. Mereka kemudian memerintahkan enam pegawai wanita untuk pulang. Para wanita itu dilarang bekerja.

KABUL, AFGANISTAN - AUGUST 13 : Displaced Afghan women and children from Kunduz are seen at a mosque that is sheltering them on August 13, 2021 in Kabul, Afghanistan.  Tensions are high as the Taliban advance on the capital city after taking Herat and the country's second-largest city Kandahar. (Photo by Paula Bronstein /Getty Images)Wanita di Afghanistan memakai burqa jika berada di luar rumah. Foto: Getty Images/Paula Bronstein

Pejuang Taliban bersenjata itu benar-benar mengawal para pegawai bank wanita itu hingga sampai ke rumah. Dan para pegawai wanita itu diperintahkan untuk tidak kembali bekerja. Menurut para tentara Taliban, saudara pria mereka bisa menggantikan posisi mereka di bank.

"Sangat aneh aku tidak boleh pergi bekerja, tapi itulah yang sekarang terjadi," ujar Noor Khatera, pegawai Azizi Bank dalam wawancara dengan Reuters.

"Aku sudah belajar bahasa Inggris dan bahkan belajar bagaimana mengoperasikan komputer, tapi sekarang aku harus mencari tempat di mana aku bisa bekerja yang lebih banyak wanitanya," kata wanita 43 tahun itu lagi.

Dua hari setelah kejadian di Azizi Bank cabang Kandahar, peristiwa serupa dialami pegawai wanita di Bank Milli, di Herat, Afghanistan. Menurut kesaksian dua kasir bank, dua tentara Taliban yang membawa senjata masuk ke dalam kantor mereka, memerintahkan para wanita untuk pulang dan tidak menunjukkan wajah mereka di publik.

Para Wanita Afghanistan Dipaksa Memakai Burqa

Maryam Durani, jurnalis dan aktivis hak asasi manusia di Kandahar, Afghanistan mengungkapkan kekhawatiran yang sama seperti para pegawai bank yang disuruh pulang dan dilarang bekerja tentara Taliban. Seperti dikutip dari Financial Times, Maryam mengaku sudah mendapatkan ancaman jika dia meneruskan aktivitasnya sekarang ini.

"Aku belajar selama 25 tahun hanya untuk diperintah oleh orang-orang yang sama sekali tidak berpendidikan. Jika aku diizinkan pergi bekerja, aku yakin aku harus memakai burqa, yang sebenernya aku sudah tidak bisa toleransi," ujar Maryam yang kini sudah meninggalkan Kabul demi keselamatannya dan keluarganya. "Tidak ada jaminan keamanan untuk kami," tambahnya.

KABUL, AFGANISTAN - AUGUST 13 : Displaced Afghan women and children from Kunduz are seen at a mosque that is sheltering them on August 13, 2021 in Kabul, Afghanistan.  Tensions are high as the Taliban advance on the capital city after taking Herat and the country's second-largest city Kandahar. (Photo by Paula Bronstein /Getty Images)Wanita di Afghanistan memakai burqa. Foto: Getty Images/Paula Bronstein

Miriam, seorang wanita Afghanistan yang ditemui kontributor The Guardian saat berbelanja burqa, menyampaikan kekhawatiran yang sama. Dia pergi membeli burqa setelah suaminya memaksanya untuk melakukan itu.

"Suamiku memintaku mengubah gaya busana yang aku pakai dan mulai memakai burqa. Sehingga aku menjadi tidak terlalu menarik perhatian Taliban jika berada di luar rumah," katanya.

Para wanita dan warga Afghanistan pun berharap dunia bisa membantu mereka lepas dari Taliban. Karena jika Taliban berkuasa, semua hak asasi yang didapatkan para wanita dan anak-anak sebelumnya akan dicabut dalam berbagai aspek kehidupan.

"Wanita dan anak-anak adalah yang paling menderita di sini. Dunia harus memahami dan menolong kami," ucap juru bicara pemerintah Afghanistan kepada Reuters.



Simak Video "Charlotte Bellis, Jurnalis Wanita yang Curi Perhatian di Preskon Taliban"
[Gambas:Video 20detik]
(eny/eny)