Pandemi COVID-19 Bikin Orang Kurang Fokus dan Pelupa, Ini Solusinya

Rahmi Anjani - wolipop Kamis, 12 Agu 2021 21:00 WIB
beautiful girl sitting at desk Foto: Thinkstock
Jakarta -

Dampak dari PPKM diperpanjang karena COVID-19 bukan hanya berimbas pada ekonomi tapi juga kesehatan mental. Meski menahan diri untuk tetap di rumah lebih aman untuk kesehatan, tidak bisa dipungkiri jika terisolasi mengganggu cara berpikir otak. Berdasarkan studi, selama pandemi banyak orang mendapati diri mereka jadi pelupa dan kurang fokus. Apa alasannya dan bagaimana solusinya?

Para psikolog mengungkap bahwa pembatasan aktivitas dapat merusak konsentrasi seseorang. Berdasarkan studi yang dilakukan kepada 4.000 orang Italia selama lockdown dua bulan di 2020 menunjukkan adanya peningkatan gangguan memori, distraksi, dan melamun di antara mereka. Hal itu disebabkan karena kegiatan yang itu-itu saja dan membuat otak sulit merekam memori.

Menurut Profesor Brett Hayes dari UNSW School of Psychology, beberapa hal yang paling sering terjadi selama lockdown adalah lupa di mana meletakkan handphone, sulit mengingat apa yang harus dikerjakan, dan hilang konsentrasi saat membaca buku atau menonton. Kamu sering mengalaminya juga?

Profesor Hayes menjelaskan bahwa otak manusia bisa merekam lebih baik saat latar belakangnya berubah. Ingatan akan lebih maksimal ketika kita sering pindah dan mengunjungi tempat-tempat yang berbeda setiap hari yang sayangnya tidak banyak terjadi selama pandemi. Terlebih masa sulit ini juga sering menimbulkan stres, kecemasan, dan depresi yang bisa memperparah kualitas memori.

"Yang kami tahu tentang memori manusia adalah konteks sangatlah penting. Kamu mungkin bekerja di rumah, mengobrol dengan teman atau menonton film tapi otakmu sebenarnya melakukan pengkodean banyak hal lain secara tidak sadar, seperti apa yang terjadi, lokasi, di mana, dan kapan terjadi," ujar Hayes.

"Ketika kamu berada dalam lockdown, kesempatanmu untuk berpindah di lingkungan dan berinteraksi dengan aktivitas yang berbeda jadi terbatas. Hari-hari mulai jadi kabur satu sama lain karena kita punya konteks yang sama setiap hari," tambahnya.

Bagaimana cara untuk mencegah atau memperbaikinya? Profesor Hayes menyarankan agar kita menjaga kesehatan mental dan fisik. Artinya selain tahu cara mengatasi stres, pastikan kamu tetap bergerak dan berolahraga untuk menjaga pikiran tetap rasional. Hal lain yang bisa dilakukan adalah menelepon orang-orang terdekat.

"Ada bukti bahwa bahkan jika kamu terisolasi, bermain game online di mana kamu menonton dan berlompat-lompat ada manfaatnya," kata Hayes. "Isolasi sepenuhnya sangat buruk untuk fungsi kognitif kita tapi jika kita bisa tetap berinteraksi dengan siapapun di rumah atau secara online, itu bagus," tambahnya.

(ami/ami)