Ini Lifter Transgender Pertama di Olimpiade, Lawan Nurul Akmal dari Aceh

Daniel Ngantung - wolipop Senin, 02 Agu 2021 16:01 WIB
AUCKLAND, NEW ZEALAND - DECEMBER 08:  Weightlifter Laurel Hubbard poses during a portrait session on December 8, 2017 in Auckland, New Zealand.  (Photo by Hannah Peters/Getty Images) Laurel Hubbard, atlet transgender pertama di Olimpiade yang akan menjadi lawan lifter Nurul Akmal di Olimpiade Tokyo 2020. (Foto: Scott Barbour/Getty Images)
Tokyo -

Lifter putri Indonesia Nurul Akmal akan berlaga di Olimpiade Tokyo 2020 pada kelas +87 kg Grup A, Senin (2/8/2021) sore. Salah satu pesaingnya adalah Laurel Hubbard dari Selandia Baru.

Nurul Akmal menjadi atlet asal Aceh pertama yang berkompetisi di Olimpiade sejak penampilan Alkindi pada cabor anggar di Olimpiade Seoul 1988.

Laurel Hubbard juga akan mengukir sejarah tersendiri sebagai atlet transgender pertama yang tampil di Olimpiade. Berusia 43 tahun, ia pun menjadi atlet angkat besi tertua ketiga dalam sejarah pesta olahraga dunia empat tahunan itu.

Keikutsertaan Laurel Hubbard pada nomor putri di Olimpiade sempat menjadi kontroversi. Kondisi fisik Laurel yang seperti pria dianggap kurang fair bagi rival lifter perempuan.

"Atlet perempuan bisa bertanding di olahraga ini sejak 16 tahun lalu, dan sekarang ada laki-laki yang mencoba merebut sorotan di atas podium yang seharusnya untuk perempuan," kata Katherine Deves, salah satu pendiri Save Women's Sport Australasia seperti dikutip Today NBC.

Komite Olimpiade Internasional (IOC) memperbolehkan atlet transgender berlaga sejak 2004. Pada 2015, peraturan tersebut dipertegas lagi bahwa atlet yang bertransisi dari laki-laki menjadi perempuan dapat bertanding di nomor putri tanpa harus menjalani operasi kelamin.

Asalkan, atlet transpuan (transgender perempuan) sudah mengumumkan identitas barunya sebagai wanita setidaknya empat tahun dan menjaga level hormon testosteron di bawah 10 nanomoles per liter selama 12 bulan sebelum tampil di Olimpiade.

Laurel Hubbard of New Zealand gestures as she arrives for practices, at the 2020 Summer Olympics, Saturday, July 31, 2021, in Tokyo, Japan. (AP Photo/Luca Bruno)Lifter Selandia Baru Laurel Hubbard saat menjalani sesi latihan di Olimpiade Tokyo 2020, Sabtu (31/7/2021). (Foto: AP/Luca Bruno)


Laurel Hubbard terlahir sebagai pria pada 9 Februari 1978 di Auckland, Selandia Baru. Olahraga angkat besi sudah dilakoninya sebelum menjadi transgender.

Ketika masih berlaga di kelas junior pada 2001, Laurel yang waktu itu baru berusia 23 tahun membuat catatan rekor nasional setelah mengalahkan rival lifter pria dengan total angkatan 300 kg.

Di tengah perjalanan kariernya, ia harus menghadapi pergumulan dengan seksualitasnya. Pergumulan tersebut cukup berat sampai Laurel harus meninggalkan olahraga angkat besi yang telah membesarkan namanya.

Baru pada 2012 saat berusia 33 tahun, ia mengumumkan diri sebagai seorang transpuan. Laurel Hubbard pun kembali menggeluti olahraga angkat besi meski kemunculannya sebagai atlet transpuan mengundang banyak cibiran.

Kejuaraan Angkat Besi Dunia 2017 menjadi kompetisi pertamanya sebagai lifter transpuan. Ia berhasil membawa pulang dua medali perak untuk negaranya.

"Aku di sini bukan untuk mengubah dunia. Aku hanya ingin menjadi diriku dan melakukan apa yang kucintai," kata Laurel Hubbard kepada awak media Selandia Baru sepulang dari ajang tersebut.

Meski berharap orang lain bisa menerima dirinya apa adanya, ia tak mau terlalu memusingkan opini mereka.

"Bukan tugasku untuk mengubah pikiran orang, apa yang mereka rasakan dan percayai. Aku hanya berharap mereka bisa melihat gambaran besarnya, ketimbang hanya mengandalkan prasangka," kata dia.

AUCKLAND, NEW ZEALAND - DECEMBER 08:  Weightlifter Laurel Hubbard poses during a portrait session on December 8, 2017 in Auckland, New Zealand.  (Photo by Hannah Peters/Getty Images) Laurel Hubbard berpose dengan dua medali perak yang diraihnya di ajang Kejuaraan Angkat Besi Dunia pada 2017. (Foto: Hannah Peters/Getty Images)

Sejak itu, Laurel tak pernah berbicara lagi kepada media agar bisa fokus membangun kembali kariernya sebagai atlet. Namun, baru-baru ini IOC merilis keterangan resmi yang memuat pernyataan dari Laurel Hubbard.

"Aku melihat ajang Olimpiade sebagai perayaan global akan harapan, idealisme, dan nilai. Aku berterimakasih kepada IOC atas komitmennya untuk membuat olahraga lebih inklusif dan terbuka," kata Laurel Hubbard.

Laurel Hubbard bukan satu-satunya atlet dari kelompok minoritas seksual yang berlaga di Olimpiade Tokyo 2020. Menurut Outsports, dari 11.326 atlet yang berpartisipasi Olimpiade kali ini, 168 di antaranya adalah atlet LGBTQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Queer). Jumlah tersebut tiga kali lipat dari Olimpiade Rio 2016 yang menyertakan 56 atlet LGBTQ.

"Setiap atlet yang luar biasa dan bangga adalah suar bagi orang lain yang belum berani melela, atau yang tidak yakin apakah mereka bisa menjadi diri mereka sendiri dan memainkan olahraga yang mereka sukai," kata Joanna Hoffman, direktur komunikasi di Athlete Ally, kelompok advokasi nirlaba yang berbasis di AS, dilansir dari TIME.

TOKYO, JAPAN - JULY 26: Thomas Daley and Matty Lee of Team Great Britain pose for photographers with their gold medals after winning the Men's Synchronised 10m Platform Final on day three of the Tokyo 2020 Olympic Games at Tokyo Aquatics Centre on July 26, 2021 in Tokyo, Japan. (Photo by Clive Rose/Getty Images)Atlet loncat indah Inggris Thomas (Tom) Daley dan Matty Lee meraih medali emas di Olimpiade Tokyo 2020. (Foto: Getty Images/Clive Rose)

Tom Daley, atlet loncat indah andalan Inggris, menyampaikan pesan yang sama setelah berhasil meraih medali emas di Olimpiade Tokyo 2020.

"Aku berharap anak-anak muda LGBTQ di luar sana bisa melihat, apapun yang kalian rasakan sekarang, kalian tidak sendiri. Kalian bisa meraih prestasi apapun dan banyak orang yang mendukungmu," katanya seperti dikutip CNN.



Simak Video "Gaya Atlet Olimpiade Tokyo 2020 Beri Penghormatan pada One Piece"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)