Kontroversi Topi Renang Atlet Wanita Berambut Afro di Olimpiade Tokyo

Daniel Ngantung - wolipop Minggu, 01 Agu 2021 17:04 WIB
MANCHESTER, ENGLAND - FEBRUARY 13: Alice Dearing of Great Britain looks on prior to the Womens 400 Individual Medley Final on Day 2 of the Manchester International Swimming Meet 2021 at the Manchester Aquatics Centre on February 13, 2021 in Manchester, England. (Photo by Clive Rose/Getty Images) Atlet renang Inggris Alice Dearing (Foto: Getty Images/Clive Rose)
Tokyo -

Atlet renang Inggris Alice Dearing terancam batal mewakili negaranya di Olimpiade Tokyo 2020 hanya karena topi renang khusus rambut afro yang akan dipakainya tak sesuai peraturan. Isu rasialisme lantas disebut-sebut berada di balik pelarangan topi tersebut.

Baru berusia 24 tahun, Alice Dearing sedang mengukir sejarah. Ia menjadi perempuan berkulit hitam pertama asal Inggris yang berlaga di cabor renang Olimpiade.

Sebagai perempuan keturunan Ghana, Alice dikaruniai rambut alami khas Afro yang keriting dan megar. Topi renang biasa yang beredar di pasaran tak muat untuk kepala dengan rambut sepertinya. Oleh karena itu, ia harus mengenakan topi renang yang memang khusus didesain untuk model rambut bervolume, kepang dan gimbal.

BIRMINGHAM, ENGLAND - JUNE 29: A portrait of Alice Dearing, a member of the Great Britain Olympic Swimming team, during the Tokyo 2020 Team GB Kitting Out at NEC Arena on June 29, 2021 in Birmingham, England. (Photo by Karl Bridgeman/Getty Images for British Olympic Association)Alice Dearing, altet renang perempuan kulit hitam pertama yang mewakili Inggris di Olimpiade. (Foto: Getty Images for British Olympic/Karl Bridgeman)

Namun jelang penampilan perdananya di Olimpiade pada nomor renang marathon 10 km, Rabu (5/8/2021) mendatang, ia mendapat kabar tak terduga. Topi renang yang biasa dipakainya itu dilarang di Olimpiade Tokyo 2020 karena tak sesuai standar Federasi Renang Internasional atau FINA.

Associated Press mengabarkan, Soul Cap, brand topi renang yang produknya dipakai Alice, sebenarnya sudah mendaftarkan kelayakan topi tersebut kepada FINA tahun lalu. Namun, FINA menolaknya dengan alasan bahwa produk tersebut 'tak mengikuti kontur alami kepala atlet' dan dianggap berpotensi mengakselerasi kecepatan atlet secara tak alami dengan 'mendistraksi aliran air kolam'.

Pelarangan tersebut lantas menuai hujatan dan kritikan, khususnya komunitas perenang kulit hitam. Dikabarkan Daily Mail, mereka menyebutnya sebagai bentuk diskriminasi dan salah satu contoh betapa 'putihnya' dunia renang. Sebuah petisi di Change.org untuk menanggapi isu tersebut sudah diluncurkan.

Atas kontroversi yang timbul, FINA mengatakan akan mencoba mengevaluasi regulasi terkait topi renang tersebut. Dalam pernyataan resminya, organisasi yang berbasis di Swiss itu memahami pentingnya inklusivitas di dunia renang internasional dan memastikan semua atlet dapat memakai pakaian renang pilihan mereka selama tidak mengganggu sportivitas.

MANCHESTER, ENGLAND - FEBRUARY 13: Alice Dearing of Great Britain looks on prior to the Women's 400 Individual Medley Final on Day 2 of the Manchester International Swimming Meet 2021 at the Manchester Aquatics Centre on February 13, 2021 in Manchester, England. (Photo by Clive Rose/Getty Images)Alice Dearing saat bertanding di sebuah kompetisi renang di Manchester, Inggris, pada Februari 2021. (Foto: Getty Images/Clive Rose)


Pendiri Soul Cap, Toks Ahmed-Salawudeen dan Michael Chapman, menanggapi kontroversi ini dengan optimisme. "Kami tak melihat ini sebagai kemunduran, tapi sebuah kesempatan untuk berdialog agar terjadi perubahan besar di dunia renang," kicau mereka di Twitter.

Alice Dearing sendiri secara pribadi belum angkat bicara soal pelarangan topi renangnya. Namun pada 2019, ia sempat mengungkapkan alasan Inggris kekurangan atlet renang perempuan berkulit hitam di kelas elite.

"Aku ingat betul ada perempuan berkulit hitam yang bilang saat latihan bahwa rambut menjadi penyebab tak perempuan kulit hitam tak mau jadi atlet renang. Waktu itu aku baru berusia 12-13 tahun, dan sekarang aku baru memahaminya," kata Alice Dearing seperti dikutip BBC.

[Gambas:Instagram]



Dalam sebuah wawancara dengan Guardian baru-baru ini, Alice Dearing mengaku pernah mengalami perlakuan diskriminasi karena rasnya dari seorang pelatih dari tim lawan.

Prihatin dengan diskriminasi yang dialami atlet keturunan Afrika di Inggris, Alice Dearing lantas mendirikan Black Swimming Association. Lembaga ini juga dibentuk untuk mendukung para atlet yang terdampak pandemi COVID-19.

Februari lalu, Alice Dearing juga ditunjuk sebagai brand ambassador Soul Cap. Ia merasa bangga karena dapat mewakili merek yang sangat menaruh perhatian pada isu di kalangan komunitas kulit hitam sekaligus 'mematahkan mitos tentang peralatan renang yang tidak bisa inklusif'.

[Gambas:Instagram]





Simak Video "Gaya Atlet Olimpiade Tokyo 2020 Beri Penghormatan pada One Piece"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)