Kisah Inspiratif Wanita Berkaki Satu, Dulu Diejek Kini Juara Binaraga

Daniel Ngantung - wolipop Kamis, 07 Jan 2021 18:30 WIB
This picture taken on December 11, 2020 shows bodybuilder Gui Yuna on stage during the International Weightlifting Federation (IWF) Beijing 2020 competition in Beijing. - Gui, who competed in long jump at the 2004 Athens Paralympics, is new to bodybuilding but won the first time she competed in October 2020. (Photo by NOEL CELIS / AFP) / TO GO WITH China-sport-disabled-bodybuilding,FOCUS by Peter Stebbbings, and Jessica Yang Gui Yuna berhasil menjuarai ajang binaraga meski kondisi fisiknya tak sempurna. (Foto: NOEL CELIS/AFP)
Beijing -

Fisiknya boleh saja tak sempurna. Namun, perempuan ini membuktikan bahwa cacat fisik bukan penghalang baginya untuk menjuarai sebuah ajang binaraga.

Nama Gui Yuna tiba-tiba viral dan merebut atensi publik di China setelah penampilannya di kejuaraan binaraga yang digelar oleh International Weightlifting Federation (IWF) di Beijing, China, pada pertengahan Desember 2020.

Perempuan 35 tahun tersebut menjadi satu-satunya kontestan yang muncul tanpa kaki yang lengkap. Dibantu sebuah tongkat penopang, ia berjalan dengan satu kaki yang beralaskan heels sembari memamerkan otot-otot tubuhnya dalam balutan bikini biru.

Aksi Gui Yuna lantas lantas berhasil memukau para juri. Di akhir acara, namanya diumumkan sebagai juara utama.

Ia tak menyangka akan membawa pulang gelar juara pertama. Apalagi kontes yang diikutinya itu tak dikhususkan bagi peserta dengan cacat fisik.

Namun, ada hal lain di luar faktor fisik yang menurut Gui Yuna membuatnya spesial di mata juri.

This picture taken on December 11, 2020 shows bodybuilder Gui Yuna on stage during the International Weightlifting Federation (IWF) Beijing 2020 competition in Beijing. - Gui, who competed in long jump at the 2004 Athens Paralympics, is new to bodybuilding but won the first time she competed in October 2020. (Photo by NOEL CELIS / AFP) / TO GO WITH China-sport-disabled-bodybuilding,FOCUS by Peter Stebbbings, and Jessica Yang Gui Yuna saat beraksi di kejuaraan binaraga yang digelar oleh International Weightlifting Federation (IWF) di Beijing, China, pada pertengahan Desember 2020. (Foto: NOEL CELIS/AFP)

"Menjadi pemenang bagiku sangat mungkin, tapi bukan karena profesionalisme atau ototku, melainkan rasa percaya diri dan keberanianku untuk tampil di atas panggung dan menunjukkan siapa diriku kepada semua orang," kata Gui Yuna seperti dikutip AFP, Kamis (7/1/2021).

Gui Yuna sebenarnya lahir dalam kondisi fisik yang sempurna seperti kebanyakan orang. Namun, sebuah kecelakaan yang dialaminya saat berusia tujuh tahun menyebabkan Gui kehilangan kaki kanan.

Kejadian tersebut benar-benar merebut kebahagiaan masa kecilnya. Hari-hari Gui di sekolah penuh dengan penindasan karena kondisi fisiknya yang berbeda.

"Mereka memanggilku si pincang atau kucing berkaki tiga," kenang Gui.

Tak hanya verbal, perlakukan tak menyenangkan juga dialami secara fisik. Pernah suatu kali murid-murid di sekolahnya menendang tongkat penopang Gui sampai ia terjatuh.

"Pertama kali mereka membuatku jatuh, aku menangis. Namun, aku mulai terbiasa dan berpikir, 'Mereka bisa saja menindasku tapi aku akan baik-baik saja karena aku memiliki hati pemberani'," kata Gui yang dibesarkan oleh ibunya seorang diri.

This picture taken on December 11, 2020 shows bodybuilder Gui Yuna on stage during the International Weightlifting Federation (IWF) Beijing 2020 competition in Beijing. - Gui, who competed in long jump at the 2004 Athens Paralympics, is new to bodybuilding but won the first time she competed in October 2020. (Photo by NOEL CELIS / AFP) / TO GO WITH China-sport-disabled-bodybuilding,FOCUS by Peter Stebbbings, and Jessica YangFoto: NOEL CELIS/AFP

Pengalaman pahit tersebut lantas memotivasi Gui untuk mengasah bakatnya di bidang olahraga. Singkat cerita, pada 2001, ia mulai aktif terlibat dalam olahraga paralympic. Tiga tahun kemudian, Gui lolos seleksi untuk mewakili China di Olimpiade Paralympic 2004 dalam cabang loncat jauh. Capaiannya kala itu berada di peringkat ke-7.

Gui kembali tampil Olimpiade dan Paralympic Beijing 2008. Ia bahkan mendapat kesempatan untuk membawa obor kebesaran Olimpiade.

Profesinya sebagai atlet berhenti pada 2017. Pensiun dari dunia olahraga, ia memutuskan untuk mencoba peruntungan sebagai karyawan korporasi.

Akan tetapi, kenyataan yang terjadi di luar harapannya. Berulang kali lamaran Gui ditolak karena perusahaan incarannya enggan mempekerjakan kaum disabilitas. Menurut Gui, kehadiran orang sepertinya bisa merusak citra perusahaan. "Aku melamar ke 20 perusahaan dan mereka mengatakan hal yang sama," kata dia.

Pengalaman tersebut menjadi gambaran betapa parahnya diskriminasi terhadap orang-orang dengan kondisi fisik terbatas di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Akan tetapi, Gui Yuna tak patah semangat. Setelah mencoba lagi, akhirnya sebuah perusahaan yang bergerak di industri interior rumah mau menerimanya.

This picture taken on December 11, 2020 shows bodybuilder Gui Yuna on stage during the International Weightlifting Federation (IWF) Beijing 2020 competition in Beijing. - Gui, who competed in long jump at the 2004 Athens Paralympics, is new to bodybuilding but won the first time she competed in October 2020. (Photo by NOEL CELIS / AFP) / TO GO WITH China-sport-disabled-bodybuilding,FOCUS by Peter Stebbbings, and Jessica YangGui Yuna saat sesi latihan fisik. (Foto: NOEL CELIS/AFP)

Di sela kesibukannya bekerja, Gui Yuna tetap intens berolahraga. Ia juga sesekali berbagi tips olahraga dan pengalaman hidup kepada 200 ribu pengikutnya di TikTok.

Terlepas dari masa lalunya yang berat dan kelam, Gui Yuna tak pernah menyesalinya. "Aku bersyukur aku harus melalui tantangan tersebut. Kenapa? Karena itu yang menjadikanku lebih kuat hingga bisa seperti saat ini," katanya.

(dtg/dtg)