Madrasah Pertama Khusus Transgender Dibuka di Bangladesh

Daniel Ngantung - wolipop Rabu, 09 Des 2020 08:22 WIB
Madrasah Khusus Transgender di Bangladesh Madrasah khusus transgender di Bangladesh. (Foto: AFP/Getty Images)
Dhaka -

Kaum transgender di Bangladesh kini bisa menikmati pendidikan gratis di sebuah madrasah khusus. Kehadiran madrasah ini disebut sebagai satu kemajuan bagi kaum minoritas seksual di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam tersebut.

Awal November lalu, madrasah pertama khusus kaum transgender dibuka di Dhaka. Madrasah seperti itu bahkan juga disebut menjadi satu-satunya di kawasan Asia Selatan.

Adalah Abdur Rahman Azad, seorang guru yang mendirikan madrasah bagi para Hijra, sebutan untuk komunitas 'jenis kelamin ketiga' di Bangladesh.

"Komunitas Hijra adalah manusia biasa sama seperti yang lain. Alquran mengajarkan kita untuk memperlakukan orang tanpa membeda-bedakan. Mereka manusia dan memiliki tempat dan hak yang sama menurut Alquran," kata Abdur kepada CBS baru-baru ini.

Sekolah yang didanai secara pribadi tersebut dinamai Dawatul Quran Third Gender Madrasa. Di sini, para murid tak cuma mendapat ilmu agama, tapi juga belajar pelajaran bahasa Inggris dan keterampilan lain tanpa dipungut biaya.

"Tujuan kami adalah menyediakan pendidikan berbasis kemampuan dan teknik bagi komunitas Hijra, berbarengan dengan ajaran madrasah, sebagai bekal agar mereka bisa mendapatkan hidup yang layak," ungkap Abdur.

Pemerintah mencatat terdapat 10 ribu kaum Hijra di Bangladesh. Namun, lembaga hak asasi manusia memperkirakan jumlahnya lebih dari itu dan bisa mencapai 100 ribu orang di negara berpopulasi 160 juta jiwa tersebut. Kebanyakan di antara mereka adalah transgender perempuan.

Meski negara telah mengakui keberadaan mereka dengan sebutan Hijra pada 2013, kaum transgender masih sering menghadapi diskriminasi sosial dan ekonomi di Bangladesh. Masih banyak kaum Hijra yang sulit mendapat akses pendidikan.

Umumnya, mereka bekerja sebagai penghibur, penyanyi dan penari di acara pernikahan atau kelahiran. Tapi tak sedikit pula yang menjadi pengemis dan pekerja seks demi menyambung hidup.

DHAKA, BANGLADESH - NOVEMBER 10:  Hijras, or transgenders,  get ready backstage before the Hijra talent show, part of the first ever event called Hijra Pride 2014, on November 10, 2014 in Dhaka, Bangladesh.  In 2013 Bangladesh officially recognized Hijras as a third gender, though homosexuality still remains illegal. Despite these strides Hijras continue to face violence and harassment as part of their daily life in Bangladesh. (Photo by Allison Joyce/Getty Images)Potret kehidupan kaum transgender atau Hijrah di Bangladesh.(Foto: Getty Images/Allison Joyce)

Dr. Ali Riaz, profesor politik Illinois State University, AS, yang menulis sejumlah buku tentang Islam dan politik di Bangladesh, menilai kehadiran madrasah tersebut merupakan sebuah langkah positif demi mengakhiri diskriminasi terhadap komunitas Hijra.

Hanya saja, katanya, perjalanan masih panjang. Pemerintah perlu campur tangan dengan melibatkan komunitas tersebut secara aktif, baik itu di sektor pemerintahan, ekonomi dan sosial.

"Itu tidak akan terjadi dalam semalaman. Pembahasan tentang topik ini harus dimulai, kepedulian harus ditingkatkan, sampai semua orang menerima mereka sebagai bagian dari masyarakat, sebagaimana yang terjadi di dunia dengan isu hak kaum LGBT," katanya.

Eksis sebulan, madrasah khusus transgender tersebut telah memiliki 40 murid dan 12 tenaga pengajar. Fasilitas pendidikan yang berada di lantai dua sebuah gedung kecil ini dapat menampung hingga 100 murid.

"Madrasah ini mendapat sambutan positif dari masyarakat. Mereka sangat menerimanya dengan baik. Banyak ketua Hijrah yang menelepon dan meminta kami untuk mengajar di komunitas mereka," kata Abdur.

(dtg/dtg)