Kata Anak Muda Indonesia yang Dibayar Adobe Rp 90 juta, Belajar dari YouTube

Rahmi Anjani - wolipop Sabtu, 12 Sep 2020 19:00 WIB
Kevin Pramudya Utama Foto: Twitter @sadness_loop
Jakarta -

Pria asal Semarang jadi viral karena kisahnya yang diajak bekerja sama dengan perusahaan software Adobe. Tak perlu mengirim CV atau surat lamaran, pria bernama Kevin Pramudya Utama tersebut tiba-tiba dihubungi lalu dikontrak dengan bayaran Rp 90 juta. Bukan semata karena keberuntungan, Kevin telah lama mengasah kemampuan fotografinya dengan belajar lewat YouTube hingga ikut dan menang kontes yang diadakan Adobe.

Pemilik akun Twitter @sadness_loop tersebut jadi viral setelah menulis pernah dihubungi Adobe hingga dikontrak dengan bayaran US$ 6000 atau sekitar Rp 90 jutaan. Karena mendapat banyak respon positif untuk menceritakan kisahnya, Kevin pun mengungkapnya menjadi sebuah thread yang jadi viral dan banyak dapat pujian.

Kepada Wolipop, Kevin bercerita mengenai pengalamannya bekerja dengan Adobe. Hal ini berawal ketika pria yang kini tinggal di Jepang tersebut memenangkan kontes Lightroom yang diadakan Adobe dan JNTO (Japan National Tourism Organization). Sempat pesimis akan menang, tak disangka ternyata dua fotonya terpampang dalam daftar pemenang.

[Gambas:Instagram]



Kemenangan dua fotonya dalam kontes itu sebenarnya tidak menghasilkan hadiah. Tapi perjuangan Kevin mengirimkan foto hasil jepretannya di enam kategori lomba tidaklah sia-sia. Karena beberapa hari setelahnya ia malah dihubungi oleh product manager Adobe untuk diajak bekerja sama. Tak lama kemudian, mereka mengadakan meeting virtual di mana Kevin diminta membuat Discovery Files dan 20 tutorial editing untuk Lightroom.

"Sangat senang sekali sih, speechless juga sebenarnya, bahkan jujur saja saya masih nggak nyangka sampai sekarang," ungkapnya ketika dihubungi Wolipop, Jumat, (11/9/2020).

Kevin pun mengaku menekuni dunia fotografi sejak SMK. Ketika berkesempatan untuk bekerja di Jepang, pria 23 tahun itu mulai membeli kamera dan laptop untuk semakin mengasah hobi dan kemampuannya. Kevin tak pernah menjalani kelas atau kursus tertentu, ia berlatih secara otodidak dan mengandalkan YouTube ketika bingung akan sesuatu.

Di Jepang sendiri, Kevin bekerja di tempat pengelasan. Saat waktu libur lah, pria lulusan SMK Negeri 7 STM Pembangunan Semarang itu akan menjalani hobinya. "Saya bekerja di pengelasan semi otomatis dari Senin sampai Jumat, kadang Sabtu juga masuk tapi saat libur biasanya saya gunakan untuk 'nyetrit' atau cari momen yang bagus di Tokyo dan mengabadikannya lewat kamera saya,"

[Gambas:Instagram]



Kevin bercerita mengenai perjuangannya menyelesaikan Discovery Files dan 20 tutorial editing untuk Lightroom dalam waktu 1,5 bulan. Ia mengaku baru bisa bisa mengerjakan proyek itu setelah pulang dari tempat pengelasan sehingga sering harus begadang hingga pagi.

"Saya kerja di Jepang dari jam 8 pagi sampai 7 malam, setelah itu saya baru bisa mengerjakan proyek dari Adobe ini, terkadang bisa sampai jam 3 pagi karena harus memikirkan kata-kata yang baik untuk dijadikan tutorial. Jujur saja sempat sedikit stres juga tapi Puji Tuhan tetap kelar tepat waktu setelah berbagai revisi," ungkapnya.

Dari pengalamannya ini, Kevin membuktikan bahwa meski dulu karya-karyanya pernah direndahkan kini ia bisa menghasilkan kesuksesan. Kevin pun berpesan untuk jangan pernah menyerah menggapai mimpi dan jadikan orang meremehkan sebagai motivasi.

"Jangan pernah menyerah sama mimpi kita, kalau sekiranya ada yang meremehkan, jadikan saja itu sebuah 'bensin' sebagai pemacu untuk kita bisa mengejar mimpi tersebut. Do the best, let God do the rest," kata Kevin.

"Ketekunan, keinginan untuk mau terus berkembang, dan tidak cepat puas dengan hasil yang sudah dicapai jadi ada perasaan 'lapar' untuk menjadi lebih baik lagi," saran Kevin untuk orang yang ingin menggeluti bidang fotografi.

(ami/ami)